Menkeu: Pemangkasan FFR Ringankan Beban Pembayaran Utang Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyambut baik penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS). Pemangkasan FFR sebesar 50 basis poin (bps) langsung direspons positif penguatan rupiah.
“Pergerakan nilai tukar kita mengalami penguatan yang cukup akseleratif sejak Agustus awal,” kata Sri Mulyani saat konferensi pers APBN edisi September 2024, di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (23/9/2024).
Dia mengatakan, awal Agustus 2024, nilai tukar rupiah berada pada Rp 15.287 per US$. Level nilai tukar rupiah ini mengalami penguatan yang cukup besar. “Kalau kita lihat periode akhir Juli dengan September awal itu stip decline, artinya penguatan rupiah. Jadi tadi dari periode yang di atas Rp 16.000 per US$ sekarang di Rp 15.287 per US$,” kata dia.
Baca Juga
Sri Mulyani Sebut Reformasi Struktural Bisa Dorong Indonesia Keluar dari Middle Income Trap
Selama setahun ini, kata Sri Mulyani, rupiah mengalami apresiasi sebesar 0,84%. “Itu hal yang mengkompensit kemarin depresiasi sekitar 5%,” kata dia.
Sementara itu, pergerakan dari imbal hasil surat berharga untuk 10 tahun dengan local currency, Sri Mulyani mencatat telah mencapai 6,42%. Dia mengatakan kondisi ini menunjukkan tensi dari imbal hasil yang menurun.
“Ini berarti cukup positif untuk APBN karena berarti tensi dari pembayaran utang kita bisa diperkirakan bisa mengalami penurunan,” kata dia.
Baca Juga
APBN Catatkan Defisit Rp 153,7 Triliun hingga Akhir Agustus 2024
Sedangkan dari US Treasury 10 tahun dengan keputusan the Fed yang memangkas suku bunga, juga menunjukkan tekanan yang mulai mereda di 3,74%. Level ini, kata dia, memberikan harapan terhadap cost off borrowing yang lebih rendah. “Dan diharapkan ini juga bisa memacu kegiatan ekonomi secara positif,” kata dia.
Wacana pemangkasan FFR, kata Sri Mulyani, telah membawa aliran modal masuk ke Indonesia. Kondisi ini sudah mulai terlihat sejak Juli 2024. “Dari Agustus, September, atau bahkan mulai dari Juli, itu sudah positif, baik untuk capital flow pembelian saham maupun surat berharga negara (SBN) negara kita,” kata dia.

