Anindya Bakrie Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tembus 8% di 2045, Ini Pendorongnya
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 8% pada 2045 mendatang. Menurutnya terdapat dua hal yang bisa mendorong tercapainya target tersebut.
“Yang pertama konsumsi domestik (daya beli) bisa dijaga, walaupun kita merasa sekarang banyak sekali tekanan-tekanan, tetapi secara umum masih bisa dijaga,” kata Anindya dalam wawancara dengan investortrust.id di Gedung The Convergence Indonesia, Jakarta, Minggu (22/9/2024).
Baca Juga
Diketahui, sumber utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yakni, konsumsi domestik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga tumbuh 4,93% secara tahunan pada kuartal II-2024. Angka pertumbuhan ini sedikit lebih tinggi dibanding kuartal I-2024, yakni sebesar 4,91% secara tahunan.
Faktor pendorong berikutnya, kata Anindya, adalah belanja modal pemerintah atau government spending. Hal ini dengan memperluas pembangunan infratruktur, meliputi pembangunan sekolah, maupun rumah sakit yang akan menjadi basis untuk mendapatkan kontribusi 5%.
“Selanjutnya ialah kita bisa fokus kepada industrialisasi berbasis ekspor. Jadi kita akan bisa memecahkan dua hal bersamaan. Pertama, nilai tambah dari industrialisasi, atau untuk mineral itu hilirisasi. Kedua, menjadi komunitas untuk ekspor atau substitusi impor, jadi banyak sekali manfaatnya,” terang dia.
Terkait hal ini, Anindya Bakrie optimistis konsumsi domestik dan government spending bisa berkontribusi dan membuat ekonomi tumbuh sebesar 3-3,5%. Kemudian, dengan adanya investasi di industri maupun yang berbasis ekspor diharapkan bisa kontribusi mencapai 6-7%.
“Terakhir, untuk mencapai lebih besar lagi ialah untuk memanfaatkan industri-industri baru seperti industri hijau, industri biru, lalu industri digital. Ini benar-benar mesti dikerahkan,” ujar Anindya.
Baca Juga
Apalagi, kata Anindya Bakrie, presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sudah banyak membicarakan mengenai resiliensi bukan saja sektor energi dengan transisinya, tetapi juga resiliensi pangan, dan resiliensi kesehatan.
“Jadi tiga hal ini benar-benar harus dijaga dan memperkuat pertahanan. Saya yakin akan membangun suatu industri yang bernilai tambah dan menghasilkan suatu yang banyak,” tegasnya.

