BI Pakai AI untuk Rumuskan Kebijakan Moneter, Seperti Apa?
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ikut andil dalam menjaga stabilitas moneter hingga sistem keuangan di Tanah Air. Teknologi tersebut sudah digunakan oleh BI untuk merumuskan berbagai kebijakan moneter sejak awal tahun ini.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan AI digunakan tidak hanya untuk mengolah data kuantitatif atau bersifat numerik, tetapi juga data kualitatif yang sifatnya non-numerik. Teknologi tersebut memungkinkan proses pengambilan kebijakan moneter yang didasari oleh sekumpulan data bisa lebih cepat dari sebelumnya.
“Apa yang kami lakukan sebagai bank sentral? Kita menggunakan AI untuk mengolah data yang begitu banyak ada di bank sentral untuk mendukung perumusan kebijakan. Data yang digunakan ini sangat-sangat granular sekali dan AI ini bisa mengambil banyak data, bukan hanya yang kuantitatif tetapi juga kualitatif," katanya dalam acara Banking AI Day yang digelar di The Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place, Jakarta Selatan, Senin (9/9/2024).
Menurut Destry, BI bukanlah satu-satunya bank sentral yang mengadopsi AI untuk membantu pengambilan kebijakan moneter. Adopsi AI sudah terlebih dahulu dilakukan oleh Bank Sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA), Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB), Bank of Canada, serta Bank Sentral Brasil atau Banco Central do Brasil (BCB).
Baca Juga
Adopsi AI oleh bank sentral sejalan dengan meningkatnya adopsi AI oleh berbagai organisasi di dunia, termasuk di antaranya adalah perbankan. Berdasarkan laporan dari McKinsey, Destry menyebut bahwa sekitar 72% organisasi di dunia telah mengadopsi AI pada 2024, meningkat dari 20% pada 2017.
Lebih lanjut, Destry menjelaskan adopsi AI oleh BI dilakukan untuk melakukan pengawasan perumusan kebijakan moneter berbasis risiko, eksekusi program atau file dalam lingkungan terisolasi (sandboxing), hingga reformasi regulasi (regulatory reform). Termasuk di antaranya adalah reformasi regulasi di sektor pasar uang dan pasar valas (PUVA).
"Dalam kaitannya dengan AI sebagai regulator, tentunya kita berharap bahwa regulatory reform, safe sandboxing, dan risk-based supervision itu akan terus dilakukan, di Bank Indonesia maupun di bank sentral lainnya," tambahnya.
Sebelumnya, Kepala Departemen Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Dicky Kartikoyono menyatakan bahwa pihaknya sedang mengembangkan sistem pengawasan transaksi menggunakan AI.
Baca Juga
Artificial Intelligence Institute Segera Diluncurkan di Jakarta
“Begitu masuk di supervisi (sistem pengawasan), AI sangat-sangat membantu, contohnya tadi saya mengungkit sebuah teknologi yang sekarang ini sedang kami coba kembangkan, yaitu Proactive Risk Management,” ujar Dicky di dalam sebuah diskusi daring, Kamis (29/4/2024) dikutip dari Antara.
Dicky mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat mengawasi transaksi secara waktu nyata (real-time transaction) maupun penipuan secara waktu nyata (real-time fraud) secara manual maupun menggunakan cara konvensional berdasarkan pelaporan seperti biasa. Penerapan pendekatan teknologi dalam pengawasan ekosistem keuangan secara keseluruhan kini menjadi salah satu fokus kerja BI.
Selain untuk mengembangkan sistem pengawasan, Dicky menuturkan bahwa teknologi kecerdasan buatan juga akan digunakan dalam sistem pembayaran. Menurutnya, data yang dikumpulkan dari sistem pembayaran melalui AI dapat diolah sebagai dasar untuk pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan oleh BI maupun Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

