Jokowi Reshuffle Kabinet, Rupiah Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Mata uang rupiah berhasil menguat terhadap indeks dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan Senin (19/8/2024). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), nilai tukar (kurs) rupiah menguat 125 poin ke level Rp 15.591/USD, posisi yang sama dengan penutupan pasar Jumat (16/8/2024) pekan lalu.
Sementara dalam pantauan perdagangan pasar spot valas, kurs rupiah turut terapresiasi terhadap indeks dolar AS. Dilansir Yahoo Finance, hingga pukul 15.30 WIB, kurs rupiah bergerak melesat 134 poin ke level Rp 15.550/USD.
Menurut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, pasar merespon positif atas dilantiknya 3 menteri dan seorang wakil menteri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam reshuffle kabinet di Istana Negara, Senin (19/8/2024) pagi tadi.
Baca Juga
Mata Uang Asia Menguat ke Level Tertinggi dalam 7 Bulan, Rupiah Nangkring di Rp 15.575/USD
"Reshuffle kabinet kali ini diperkirakan untuk mendukung transisi dari pemerintahan Jokowi ke pemerintahan Prabowo," kata Ibrahim dalam keterangan resmi, Senin (19/8/2024).
Sebagai catatan sejumlah nama yang dilantik oleh Jokowi antara lain Bahlil Lahadalia sebagai menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rosan Roeslani sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM dan Supratman Andi Agtas sebagai Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) serta Angga Raka Prabowo sebagai wakil Menteri Komunikasi dan Informatika.
Sentimen Eksternal
Dari sisi sentimen eksternal, diungkap oleh Ibrahim, investor bertaruh pada nada dovish yang muncul dalam notulen rapat kebijakan Federal Reserve bulan Juli dan pidato Ketua Jerome Powell yang akan datang di Jackson Hole. Notulen, yang akan dirilis pada hari Rabu, dan pidato Powell pada hari Jumat kemungkinan akan menjadi pendorong utama volatilitas pergerakan mata uang untuk minggu ini.
Volatilitas saat itu diperparah oleh serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan - khususnya, laporan pekerjaan yang lemah untuk bulan Juli, karena investor khawatir ekonomi terbesar di dunia itu akan mengalami resesi dan bahwa Fed lambat dalam melonggarkan suku bunga.
Baca Juga
Para pedagang telah sepenuhnya memperhitungkan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin dari Fed pada bulan September, dengan peluang 24,5% untuk penurunan sebesar 50 bp.
"Kontrak berjangka menunjukkan pelonggaran lebih dari 90 bps pada akhir tahun," tutup Ibrahim.

