Apakah Rupiah Baru Saja Mengejar Yen?
Oleh Satria Sambijantoro dan Drewya Cinantyan*
dari Bahana Sekuritas
INVESTORTRUST.ID - Rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia minggu ini, terapresiasi sebesar 2%. Mata uang Garuda menguat, menembus di bawah level psikologis Rp 16.000 per dolar AS untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.
Di tengah terbatasnya arus masuk modal asing ke ekuitas dan obligasi Indonesia, kami melihat penguatan rupiah itu hanya sebagai reaksi terhadap penguatan ekstrem yen. Yen terapresiasi sebesar 10% dalam sebulan, karena Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunganya.
Baca Juga
Yen Jepang ini menyumbang 12% dari keranjang nominal effective exchange-rate (NEER) rupiah, atau terbesar kedua setelah yuan Tiongkok. Dengan kata lain, yen memiliki pengaruh yang besar terhadap fluktuasi rupiah, bahkan lebih besar dibandingkan euro, dolar Amerika Serikat, ataupun dolar Singapura. Ini lantaran besarnya perdagangan Indonesia dengan Jepang.
Dampak Dovish PBoC
Nilai tukar rupiah ini, ke depan, masih dapat terpengaruh oleh kebijakan Bank Sentral Jepang dan Bank Sentral Tiongkok, yang bersikap dovish. Sifat dovish ini cenderung mengambil kebijakan moneter yang lebih longgar, seringkali melalui penurunan suku bunga dan pelonggaran likuiditas. Sebagai konsekuensinya terjadi pelemahan mata uang mereka.
Strategi ekuitas kami mengandalkan pivot dovish dari Bank of Japan, kembalinya carry-trade, dan pelemahan yen yang berkelanjutan. Sementara itu, Bank Sentral Tiongkok -- People's Bank of China (PBoC) -- baru-baru ini mengejutkan pasar dengan memotong suku bunga jangka pendek dan jangka panjang untuk mendukung perekonomian yang melambat.
Baca Juga
Model kami menunjukkan, nilai tukar rupiah masih overvalued sebesar 2% berdasarkan NEER-nya. Nilai wajarnya sekitar Rp 16.221 per dolar AS.
Model ini mengukur nilai mata uang dalam perdagangan yang optimal, untuk mendukung ekspor dan mengendalikan impor. Model ini telah terbukti akurat saat menandai risiko nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus level Rp 16.000 sejak tahun lalu, ketika kurs rupiah saat itu masih berada di level Rp 15.500-15.800. (pd)
*Head of Equity Research Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro dan Economist Bahana Sekuritas Drewya Cinantyan.

