Kurs Rupiah Melemah Selasa Sore
JAKARTA, investortrust.id - Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah melemah dalam penutupan perdagangan Selasa (6/8/2024) sore. Berdasarkan Jisdor BI, kurs rupiah melemah 29 poin ke level Rp 16.183/USD, dibanding hari sebelumnya di posisi Rp 16.154/USD.
Namun, dalam pantauan perdagangan di pasar spot valas yang dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah justru menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda bergerak menguat 19 poin ke level Rp 16.160/USD hingga pukul 16.00 WIB, dibanding saat penutupan di posisi Rp 16.179/USD kemarin.
Analis PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyoroti rilis data pekerjaan di AS yang lebih lemah dari perkiraan. Bersamaan dengan itu, laporan laba dari perusahaan teknologi besar di AS mengecewakan dan kekhawatiran atas ekonomi Cina meningkat.
"Hal itu telah memicu aksi jual global pada saham, minyak, dan mata uang berimbal hasil tinggi dalam seminggu terakhir. Ini karena investor mencari keamanan uang tunai," kata Ibrahim dalam keterangan di Jakarta, Selasa (6/8/2024) sore.
Baca Juga
Harga Emas Antam Terkoreksi, Dibandrol Rp 1.413.000 per Gram
Rebound Imbal Hasil US Treasury
Aksi jual berlanjut pada hari Senin, dengan imbal hasil US Treasury turun lebih jauh, indeks saham di zona merah, dan dolar melemah. Imbal hasil US Treasury telah turun tajam sejak minggu lalu, ketika The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan dalam kisaran 5,25% hingga 5,50% dan Ketua The Fed Jerome Powell membuka kemungkinan penurunan suku bunga pada bulan September.
"Pada hari Jumat, setelah data menunjukkan tingkat pengangguran melonjak, ekspektasi untuk penurunan suku bunga meningkat," ujar Ibrahim.
Baca Juga
Di sisi lain, lonjakan nilai tukar yen Jepang terjadi karena para pedagang secara agresif menghentikan perdagangan carry. Perdagangan carry adalah investor meminjam uang dari negara-negara dengan suku bunga rendah seperti Jepang atau Swiss, untuk mendanai investasi dalam aset-aset berimbal hasil lebih tinggi di tempat lain. Perdagangan ini telah populer dalam beberapa tahun terakhir.
Pada hari Senin, lanjut Ibrahim, kontrak berjangka dana The Fed mencerminkan para pedagang memperkirakan peluang hampir 100% dari pemotongan 50 basis poin pada pertemuan bank sentral bulan AS September, menurut CME FedWatch. "Fokus minggu ini lebih banyak pembacaan ekonomi dari Cina, khususnya data perdagangan dan inflasi yang akan dirilis akhir minggu," tutur Ibrahim.

