Sepekan, Modal Asing Masuk Rp 10 Triliun, Rupiah Menguat
JAKARTA, investortrust.id – Dalam sepekan ini, Bank Indonesia mencatat aliran modal asing masuk ke pasar keuangan Indonesia. Pembelian bersih (net buy) mencapai Rp 10,27 triliun.
“Berdasarkan data transaksi 29 Juli – 1 Agustus 2024, non-resident di pasar keuangan domestik tercatat melakukan pembelian neto Rp10,27 triliun. Ini terdiri dari beli neto Rp 5,77 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), beli neto Rp 2,19 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan beli neto Rp 2,31 triliun di saham,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan di Jakarta, pada 2 Agustus 2024.
Baca Juga
Menkeu: Lemahnya Modal Asing Masuk akibat Pemilu di Negara Maju
Ia juga menjelaskan, pada akhir Kamis, 1 Agustus 2024, yield SBN 10 tahun turun ke 6,87%. Sementara itu, DXY atau indeks dolar menguat ke level 104,42 dan imbal hasil US Treasury (UST) Note 10 tahun turun ke level 3,976%.
"Pada pagi hari Jumat, 2 Agustus 2024, rupiah dibuka pada level (bid) Rp 16.235 per dolar AS. Yield SBN 10 tahun turun di 6,79%," paparnya.
Rupiah Menguat
Seiring masuknya dana asing ke pasar keuangan Indonesia, nilai tukar rupiah melanjutkan tren menguat terhadap dolar Amerika Serikat hingga penutupan perdagangan Jumat sore. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs rupiah menguat 9 poin ke level Rp 16.234/USD Jumat (2/8/2024), dibanding hari sebelumnya bertengger di posisi Rp 16.243/USD.
Di pasar spot valas yang dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah juga terpantau menguat Jumat sore. Mata uang Garuda hingga pukul 15.30 WIB menguat 34 poin ke level Rp 16.195/USD.
Baca Juga
Lelang SRBI Rp 13,06 Triliun, Asing Net Buy Saham Rp 0,9 Triliun Kamis
Analis PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyoroti indeks manajer pembelian Amerika Serikat yang lemah dan data pasar tenaga kerja meningkatkan kekhawatiran atas perlambatan ekonomi Negeri Paman Sam. Pemotongan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) pada September berpotensi terlambat bagi negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu untuk mencapai soft landing.
"Data yang lemah juga muncul setelah Federal Reserve menandai potensi penurunan suku bunga pada bulan September, yang membuat pasar hampir sepenuhnya memperkirakan penurunan bunga 25 basis poin pada bulan tersebut," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (2/8/2024).
Ia mengungkapkan, fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada data penggajian nonpertanian AS yang akan datang, untuk isyarat lebih lanjut tentang ekonominya. Pasar tenaga kerja yang mendingin semakin mendorong prospek penurunan suku bunga oleh The Fed.
Selain itu, pasar juga berhati-hati mencermati perkembangan di Timur Tengah, di mana pembunuhan para pemimpin senior kelompok militan yang berpihak pada Iran, Hamas, dan Hizbullah memicu kekhawatiran bahwa kawasan itu bisa berada di ambang perang habis-habisan. Kondisi tersebut mengancam terjadinya gangguan pasokan.minyak mentah dan jalur transportasi di Selat Hormutz.
BoJ Naikkan Bunga
Sebelumnya, Bank Sentral Jepang (BoJ) menaikkan suku bunga sebesar 15 basis poin dan mengatakan berencana untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut tahun ini. Hal itu menunjukkan akhir yang jelas bagi kebijakan stimulatif yang mendorong pasar Jepang selama setahun terakhir.
"Lonjakan kurs yen terjadi karena permintaan safe haven dan BoJ yang hawkish. Ini juga membebani saham Jepang, terutama yang memiliki eksposur terhadap ekspor," tutur Ibrahim.

