Pengangguran Usia 15-25 Tahun Tembus 9,9 Juta, Ini Risikonya
JAKARTA, investortrust.id - Pengangguran penduduk gen Z usia 15-25 tahun yang mencapai 9,9 juta orang menjadi risiko atau tantangan tersendiri bagi pemerintah, termasuk dari sisi pajak. Pemerintah akan kesulitan menarik pajak dari para penganggur, sehingga hal itu bisa memengaruhi ketahanan fiskal.
Tim Asistensi Menko Perekonomian, Raden Pardede mengatakan, masalah pengangguran kalangan muda bukan hanya terjadi di Indonesia. Kondisi serupa terjadi di China dan India.
“Jadi (di China) lulusan universitas sulit mencari pekerjaan. India juga seperti itu,” kata Raden, di sela-sela DBS: Crafting a Sustainable Future Towards Golden Indonesia 2045 and ESG Excellence, di Jakarta, Selasa (21/5/2024).
Baca Juga
Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2021-2022, pengangguran penduduk generasi milenial usia 15-25 tahun di Tanah Air mencapai 9,9 juta orang.
Raden menjelaskan, generasi Z memiliki sektor pekerjaan yang berbeda karena kemajuan teknologi. Sementara itu, sektor ekonomi Indonesia belum siap untuk memberikan pekerjaan permanen.
“Kalau memang mau bekerja seperti itu, artinya sektor-sektor ekonomi kita harus diperkuat dengan teknologi sehingga dari manapun dia bisa bekerja,” ujar dia.
Untuk itu, menurut Raden, pemerintah perlu menyeimbangkan kemampuan teknologi dengan sektor industri padat karya. Untuk menghadapi tantangan tersebut, sektor padat karya harus berubah menggunakan teknologi.
Bukan Hanya Gen Z
Chief Economist Bank DBS, Taimur Baig mengatakan, masalah lapangan kerja nantinya bukan hanya dihadapi generasi Z tapi juga generasi alpha. Tapi ini menjadi tantangan bagi pasar tenaga kerja.
“Sebagian besar pekerjaan di pasar tenaga kerja adalah pekerjaan tradisional dengan tunjangan pensiun dan asuransi kesehatan serta masa kerja jangka panjang. Tapi, semua itu belum tentu terkait dengan banyaknya pekerjaan yang bisa dilakukan pasar kerja,” papar Taimur.
Baca Juga
Survei RedDoorz Ungkap Gen Z dan Milenial Berlibur untuk Hilangkan Stres
Meski baik dalam sudut pandang gaya hidup, kata Taimur, pekerjaan di era modern dapat membuat seseorang memilih seberapa banyak ingin bekerja dan di mana lokasinya.
“Namun, pada saat yang sama, itu tidak memberi keamanan finansial, jenis tunjangan kesejahteraan yang biasa digunakan di sektor formal,” ujar dia.
Taimur menegaskan, penting bagi pengusaha untuk menghormati cara pandang baru generasi baru yang tidak tertarik bekerja di kantor. “Terserah pada pengusaha untuk memaksimalkan produktivitas mereka sambil menghormati perubahaan kebiasan mereka,” kata dia.

