DEN: Indonesia Percepat Transisi Energi Lewat Biofuel hingga Nuklir
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mempercepat transisi energi nasional melalui penguatan biofuel, pemanfaatan gas sebagai energi transisi, pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), hingga opsi nuklir, guna mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan Kusdiana mengatakan, arah kebijakan tersebut telah tertuang dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) terbaru yang diselaraskan dengan visi pembangunan Presiden, termasuk Asta Cita.
“Indonesia konsisten untuk mencapai Net Zero Emission 2060. Target bauran EBT kami 19–23 persen pada 2030 dan 70–72% pada 2060,” ujar Dadan dalam acara Kaleidoskop Energi: Refleksi Isu Energi 2025 & Outlook 2026 di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Salah satu pilar utama transisi energi adalah program biodiesel B40 yang mulai diterapkan pada 2025 dan dinilai berhasil melampaui target. Pemerintah bahkan tengah menyiapkan langkah lanjutan menuju B50.
Baca Juga
Percepat Agenda Transisi Energi di RI, Pertamina Gandeng Raksasa Tiongkok
Selain biofuel, gas alam tetap diposisikan sebagai energi transisi dengan kontribusi sekitar 16–17% terhadap bauran energi primer nasional dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Dadan, gas berperan penting untuk menjaga keandalan pasokan energi di tengah peningkatan porsi EBT.
Dalam paparannya, Dadan juga menegaskan bahwa nuklir kini bukan lagi sekadar wacana. Dari 16 aspek kesiapan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), sebanyak 15 aspek telah diselesaikan, dan pemerintah tinggal menunggu keputusan lanjutan di tingkat nasional.
“Kami memantau langsung pernyataan Presiden di media. Indonesia siap secara formal untuk nuklir, semua aspeknya hampir selesai,” ungkapnya.
Transisi energi, lanjut Dadan, tidak semata-mata didorong oleh tekanan global atau isu iklim internasional, melainkan sebagai strategi peningkatan daya saing ekonomi dan investasi. Banyak investor mensyaratkan penggunaan energi bersih dalam rencana investasinya di Indonesia.
Sebagai respons, pemerintah mendorong berbagai inisiatif seperti pengembangan PLTS Atap, industri baterai terintegrasi dari hulu ke hilir, serta peningkatan nilai tambah sumber daya alam, termasuk mineral dan gas.
Namun, Dadan mengakui tantangan transisi energi masih besar, terutama terkait keterbatasan infrastruktur transmisi. Energi terbarukan yang potensinya melimpah kerap berlokasi jauh dari pusat permintaan, sehingga membutuhkan jaringan transmisi yang andal.
DEN bersama pemerintah juga tengah menyusun dua skenario Outlook Energi 10 tahun ke depan, yakni skenario business as usual dan skenario hijau (green scenario), dengan target menggeser bauran energi hijau secara bertahap agar tetap realistis dan berkeadilan.
“Kami ingin memastikan transisi energi berjalan seimbang: ketahanan energinya meningkat, kemandiriannya kuat, dan dekarbonisasinya tercapai,” tutup Dadan.
Baca Juga
Redupnya Komitmen Pensiun Dini PLTU Dinilai Bakal Hambat Transisi Energi Hijau

