Rupiah Masih Terjerembab di level 18.000-an per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (26/10/2026). Rupiah terkapar di posisi Rp 18.098 per dolar AS, atau melemah 0,1%.
Selain rupiah, pelemahan jugat terpantau terjadi pada baht Tailan, peso Filipina, dan rupee India. Baht melemah 0,07%, peso melemah 0,36%, dan rupee melemah 0,12%.
Sementara itu, sejumlah mata uang di kawasan Asia bergerak menguat. Yuan China menguat 0,01%, yen Jepang menguat 0,13%, dan won Korea Selatan menguat 0,14%, serta ringgit Malaysia yang menguat 0,02%, dan dolar Singapura yang menguat 0,02%.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menjelaskan rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS. Kondisi ini terjadi di tengah kekhawatiran eskalasi tensi geopolitik Timur Tengah,
“Yang kembali membuat harga minyak naik di atas $100 per barel,” kata Lukman.
Selain itu, outflows dana asing di pasar ekuitas domestik juga masih terus membebani. Catatan investortrust.id, per akhir pekan lalu, aksi jual saham oleh pemodal asing membuat total net sell saham di BEI sepanjang year to date meningkat menjadi Rp 94,86 triliun atau setara dengan US$ 5,25 miliar.
Baca Juga
Rupiah Melemah ke Rp18.074 per Dolar AS, Ini Sentimen Pemicunya
Aksi jual ini berbanding terbalik dengan PER pasar saham nasional yang sudah mencapai 11,69 kali dan PBV mencapai 1,45 kali.
Dalam catatan Bank Indonesia, arus modal masuk atau inflows yang terjadi masih didominasi peranan Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Secara year to date, net inflows pada 2026 mencapai Rp 43,31 triliun untuk SBN dan Rp 100,42 triliun untuk SRBI.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (26/10/2026), bergerak turun tipis sebanyak 4 poin (0,05%) menjadi 5.436. Penurunan tersebut sejalan dengan pelemahan mayoritas pasar saham Asia.
Penurunan sejalan dengan pelemahan mayoritas sektor saham, seperti sektor keuangan, industry, teknologi, infrastruktur hingga transportasi, Sektor saham lainnya catatkan kenaikan pesat 0,39%, kesehatan, konsumer non primer, hingga properti.
