Defisit APBN per September 2026 Rp 319 Triliun, Belanja K/L Dikebut
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menjelaskan defisit APBN per September 2026 mencapai Rp 319 triliun atau 1,24% PDB. Angka ini dikontribusi oleh melejitnya belanja kementerian/lembaga (K/L).
Berdasarkan data, belanja negara telah mencapai Rp 2.660,5 triliun atau 69,2% dari pagu APBN 2026. Belanja negara ini tumbuh 19% secara tahunan.
“Ini sehat. On track karena biasanya memang kalau tahun lalu, per 30 September baru belanja 61,7%. tahun ini kita sudah belanja 69,2%, kita ada percepatan belanja,” kata Suahasil saat APBN KiTa edisi September 2026, di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Suahasil mengapresiasi percepatan belanja negara ini. Sebab, dia tak ingin belanja negara selalu terkumpul pada Desember tiap tahunnya.
“Jadi ini sehat, karena kita tidak ingin belanja negara itu terlalu terkumpul di Desember, kalau bisa dia lebih smooth, dan ini yang mulai terjadi,” ujar dia.
Baca Juga
Berdasarkan paparan, melonjaknya belanja pemerintah terjadi karena belanja pemerintah pusat senilai Rp 2.061,3 triliun atau 65,4% dari pagu. Angka ini tumbuh 29,6%. Serapan belanja tercepat berasal dari belanja K/L yang mencapai Rp 1.069,4 triliun atau 70,8% dari pagu. Angka ini tumbuh 33,5% secara tahunan.
Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) mengalami kontraksi 7,1% secara tahunan sebesar Rp 599,2 triliun. Melambatnya TKD ini karena porsi anggaran ke daerah ini juga turun.
Di sisi lain, pendapatan negara mencapai Rp 2.341,5 triliun atau 74,2% dari target APBN. Pendapatan negara ini naik 25,5% secara tahunan.
Penerimaan perpajakan tercatat mencapai Rp 1.847,7 triliun, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 492,3 triliun, dan penerimaan hibah sebesar Rp 1,5 triliun.
Jadi kalau pendapatan negara sudah terkumpul 74,2% itu on track. Penerimaan pajak 68,2% terkumpul Rp 1.607,6 triliun, dan tentu ini bisa terus menguat ke depannya,” ucap dia.
