APBN 2027 Fokus ke 3 Hal Ini untuk Hadapi Tekanan Geopolitik Global yang Tak Pasti, Apa Saja?
Poin Penting
|
JAWA BARAT, investortrust.id - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menjelaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 difokuskan ke tiga hal penting, yaitu pertumbuhan, perlindungan, dan transformasi ekonomi.
“ABPN 2027 sebagai salah satu source of growth dengan tujuan bisa menumbuhkan, to growth, bisa melindungi masyarakat yang kurang beruntung, to protect, dan bisa melakukan transformasi ekonomi kita, to transform,” kata Juda, saat media gathering di Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10/2026).
Juda mengatakan bahwa untuk menumbuhkan ekonomi, pemerintah ingin mendorong daya beli masyarakat, mengakselerasi investasi, termasuk pemberian stimulus ke dunia usaha. Selain itu, dia menjanjikan perbaikan iklim investasi, penguatan hilirisasi dari sumber daya alam (SDA), dan industrialisasi.
Sementara itu, Juda menyebut bahwa desain APBN 2027 juga untuk melindungi daya beli masyarakat. Terutama, daya beli kelompok masyarakat rentan.
“Oleh sebab itu, program perlindungan sosial masih ada, stabilitas harga panga, stabilitas harga energi, walaupun mungkin bisa dilakukan upaya targeting,” kata dia.
Baca Juga
Pembangunan Infrastruktur Kurang dari 50% APBN, Bappenas dan Kadin Bentuk Satgas KPBU
Juda mengatakan, transformasi ekonomi yang diharapkan muncul dari APBN 2027 berupa dorongan peningkatan hilirisasi dan industrialisai dari perekonomian. Untuk meningkatkan dua hal itu, perlu penguatan infrastructure physical capital dan penguatan institutional reform.
“APBN 2027 intinya tetap ekspansif, tetap menumbuhkan, tetap melindungi, tetap bertransformasi, dan terukur,” ujar dia.
Tujuan ini tak lepas dari tantangan global yang menantang pada 2027. Juda menyebut masih terdapat geopolitical risk yang mendorong tekanan inflasi. Akibat tekanan inflasi ini, suku bunga global naik.
“Ditambah kalau di Amerika kita tahu utang mereka sudah lebih dari US$ 40 triliun. Yang tentu saja kalau utangnya banyak maka investor menuntut yield yang lebih bagus,” kata dia.
Juda memproyeksikan kenaikan suku bunga di negara-negara maju akan terjadi ke depan. Dia menyebutnya sebagai “halangan yang harus dihadapi”.
“Kita harus siap higher for longer. Kalau bicara geopolitical risk, masih sama konsepnya. Jadi kita harus assume ini sebagai higher for longer,” ujar dia.
Diberitakan sebelumnya, postur APBN 2027 menargetkan defisit APBN 2027 tetap berada di angka Rp 671,16 triliun. Ini diperoleh dari pendapatan negara ditargetkan sebesar Rp 3.435,1 triliun. Dalam kesepakatan angka ini diubah menjadi Rp 3.435,1 triliun. Tak hanya pendapatan yang diubah, belanja negara juga diubah dari Rp 4.097,1 triliun menjadi Rp 4.106,2 triliun.
Untuk pendapatan negara, kenaikan target karena adanya perubahan terhadap penerimaan perpajakan dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Baca Juga
Pesan Prabowo ke Menkeu Suahasil: Terus Jaga APBN Agar Kredibel, Lakukan Efisiensi Secara Terukur
Penerimaan perpajakan yang awalnya diusulkan Rp 2.907,95 triliun, disepakati Rp 2.911,95 triliun. Kesepakatan itu ditopang oleh naiknya target pajak 2027 sebesar Rp 2.593,35 triliun dan kepabeanan dan cukai yang sebesar Rp 318,6 triliun. Sementara itu, PNBP diproyeksikan naik dari usulan Rp 517,41 triliun menjadi Rp 522,48 triliun.
Kenaikan lainnya terjadi pada kesepakatan pagu belanja pemerintah pusat. Banggar dan pemerintah menyepakati Rp 3.371,26 triliun dari usulan Rp 3.362,19 triliun.
Kenaikan kesepakatan terjadi karena naiknya pagu belanja kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp 1.556,89 triliun. Meski begitu, terjadi penurunan pada pagu belanja non K/L menjadi Rp 1.814,36 triliun. Sementara itu, transfer ke daerah (TKD) tetap di pagu Rp 735 triliun.
