Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp 17.640 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah ditutup menguat tipis pada perdagangan Senin (7/9/2026). Rupiah menguat 0,01% ke posisi Rp 17.640 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan situasi geopolitik di Timur Tengah masih bergejolak berpengaruh ke nilai tukar rupiah. Militer AS menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak milik Iran pada Sabtu (5/9/2026). Tak lama setelah serangan itu, Iran menyatakan telah menyerang pesawat tanpa awak milik angkatan laut AS.
Eskalasi ini memicu kekhawatiran bahwa pelayaran komersial dan arus energi yang melewati Selat Hormuz dapat menghadapi gangguan lebih lanjut.
Sekitar seperlima dari konsumsi minyak global biasanya melewati selat tersebut. Lalu lintas pelayaran telah turun menjadi sekitar 10 kapal pengangkut komoditas per hari tingkat terendah sejak Mei akibat meningkatnya risiko keamanan yang dihadapi para operator.
Sementara itu, data dalam negeri AS menunjukkan perekonomian menyerap lebih banyak tenaga kerja daripada yang diperkirakan. Lebih dari 162.000 warga Amerika masuk ke dalam angkatan kerja pada bulan Agustus, jauh di atas estimasi 56.000 dan melampaui laporan bulan Juli yang direvisi naik dari -23.000 menjadi 21.000.
Laporan yang sama menunjukkan tingkat pengangguran berada di angka 4,1%, di bawah estimasi pejabat The Fed sebesar 4,5% untuk akhir tahun.
Baca Juga
Rupiah dan Sejumlah Mata Uang di Asia Loyo, Dolar AS Menguat Jelang Keputusan The Fed
Kuatnya penambahan lapangan kerja memungkinkan The Fed untuk lebih fokus pada aspek inflasi dari mandatnya, sehingga menempatkan data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS minggu ini sebagai sorotan utama. Jika kedua data tersebut menunjukkan bahwa inflasi masih tinggi, hal ini dapat membuka kembali kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dibulan September ini.
Di dalam negeri Indonesia, Bank Indonesia (BI) juga mengumumkan kenaikan posisi cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2026. Berdasarkan data BI, posisi cadangan devisa Indonesia sebesar US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, meningkat dibandingkan posisi akhir Juli 2026 sebesar US$ 145,3 miliar.
“Perkembangan posisi cadangan devisa Agustus 2026, dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah di tengah pembayaran utang luar negeri dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Denny menjelaskan bahwa posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Cadangan devisa ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
“BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” jelas dia.
