Agustus Berbalik Inflasi gara-gara Harga Pangan Kembali Memanas
Poin Penting
|
JAKARTA – Setelah sempat mengalami deflasi pada Juli 2026, harga pangan kembali memanas pada Agustus. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,21%, terutama didorong kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, dan beras. Tekanan pangan membuat komponen harga bergejolak menjadi penyumbang terbesar inflasi Agustus.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengungkapkan, inflasi Agustus 2026 merupakan pembalikan dari kondisi bulan sebelumnya. Pada Juli 2026 terjadi deflasi (mtm) sebesar 0,14%, dengan inflasi tahunan 2,88% dan inflasi tahun kalender 1,65%.
“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi sebesar 0,21% secara bulanan atau month-to-month (bulanan),” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Ateng Hartono menjelaskan, inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Agustus 2026 mencapai 3,19%, sedangkan secara tahun kalender tercatat 1,86%. Tekanan terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mengalami inflasi 0,57% dan memberikan andil 0,17% terhadap inflasi nasional.
Daging ayam ras, menurut Ateng, menjadi komoditas dengan sumbangan terbesar, yakni 0,17%, disusul cabai rawit, ikan segar, dan beras yang masing-masing memberikan andil 0,02%. “Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama daging ayam ras dengan andil inflasi 0,17%. Kemudian cabai rawit, ikan segar, dan juga beras dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,02%,” ujar dia.
Baca Juga
Harga Daging Ayam Naik, Inflasi Bulanan Agustus Capai 0,21%, Tahunan 3,19%
Dia menambahkan, kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas pangan hortikultura. Kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, dan semangka masing-masing memberikan andil inflasi 0,01%. Pada kelompok yang sama, sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM) masing-masing menyumbang 0,01%.
Selain pangan, kata Ateng Hartono, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya ikut mendorong inflasi bulanan. Kelompok ini mengalami inflasi 0,37% dan memberikan andil 0,03%. Salah satu pendorongnya adalah emas perhiasan yang mengalami inflasi 0,75% dan memberikan andil 0,02%.
“Inflasi kelompok ini terutama didorong oleh inflasi emas perhiasan sebesar 0,75% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,02%,” tutur dia.
Dari sisi komponen, tekanan terbesar datang dari komponen harga bergejolak. Komponen ini mengalami inflasi 0,88% dengan andil 0,15%. Komponen inti juga mengalami inflasi 0,21% dengan andil 0,13%. “Komponen harga yang diatur pemerintah justru mengalami deflasi 0,33% dan memberikan andil deflasi 0,07%,” ucap Ateng.
Dia mengemukakan, komoditas yang dominan mendorong inflasi pada komponen harga bergejolak adalah daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Adapun pada komponen inti, tekanan terutama berasal dari emas perhiasan, pelumas atau oli mesin, telepon seluler, serta biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi.
Ateng menerangkan, di tengah tekanan tersebut, sejumlah harga justru menjadi penahan inflasi. Kelompok transportasi mengalami deflasi 0,50% dengan andil deflasi 0,06%. Penurunan tarif angkutan udara memberikan andil deflasi 0,06%, sedangkan bensin memberikan andil deflasi 0,03%.
“Komponen energi juga mengalami deflasi bulanan 0,25% dengan andil deflasi 0,03%. Selain itu, bawang merah, tomat, bawang putih, minyak goreng, dan bayam menjadi sejumlah komoditas yang menahan kenaikan harga pada Agustus,” papar dia.
Tekanan Lebih Kuat
Ateng Hartono mengatakan, tekanan inflasi Agustus 2026 secara tahunan (yoy) lebih kuat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Inflasi tahunan mencapai 3,19%, naik dari 2,31% pada Agustus 2025. Seluruh kelompok pengeluaran tercatat mengalami kenaikan harga.
Menurut dia, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 1,13%, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,63% serta transportasi 0,58%.
“Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya bahkan mencatat inflasi tahunan 9,25%, terutama akibat kenaikan harga emas perhiasan,” ujar dia.
Berdasarkan komponen, kata Ateng, komponen inti mencatat inflasi 2,92% (yoy) dan menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,87%. Komponen harga bergejolak mengalami inflasi 4,06% dengan andil 0,67%, sedangkan komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 3,32% dengan andil 0,65%.
Ateng menuturkan, komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahunan antara lain daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, SKM, cabai rawit, daging sapi, sigaret keretek tangan (SKT), SPM, cabai merah, bahan bakar rumah tangga, bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, mobil, telepon seluler, komputer jinjing, nasi dengan lauk, dan emas perhiasan.
“Sebaliknya, bawang merah, telur ayam ras, tomat, kelapa, tarif jalan tol, dan uang sekolah sekolah menengah atas (SMA) menjadi penahan inflasi tahunan,” ujar dia.
Baca Juga
Harga Daging Ayam Naik, Inflasi Bulanan Agustus Capai 0,21%, Tahunan 3,19%
Ateng membeberkan, perbedaan tekanan harga juga terlihat antarwilayah. Secara bulanan, 27 dari 38 provinsi mengalami inflasi, sedangkan 11 provinsi mengalami deflasi. Kepulauan Bangka Belitung dan Maluku mencatat inflasi tertinggi, masing-masing 0,81%. Di pihak lain, Papua Pegunungan mengalami deflasi terdalam sebesar 1,27%.
“Inflasi tertinggi ini terjadi di Kepulauan Bangka Belitung dan Maluku, yaitu masing-masing sebesar 0,81%. Sedangkan deflasi terdalam terjadi di Papua Pegunungan sebesar 1,27%,” ujar Ateng.
Ateng menjelaskan, untuk inflasi tahunan, seluruh provinsi mencatat kenaikan harga. Maluku Utara menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi sebesar 5,28%, sedangkan Kalimantan Utara terendah dengan 2,17%. Pada tingkat kabupaten/kota, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Kapuas sebesar 6,20%, sementara terendah di Kabupaten Morowali sebesar 1,22%.
Ateng Hartono mengakui, data tersebut menunjukkan tekanan inflasi pada Agustus belum sepenuhnya merata. Namun, secara nasional, pergerakan harga kembali positif setelah deflasi Juli, dengan pangan menjadi faktor paling menentukan.
“Penurunan tarif transportasi, bensin, dan sejumlah komoditas pangan hanya mampu meredam sebagian tekanan sehingga inflasi bulanan tetap berada di 0,21%,” tandas dia.
