Rupiah dan Sejumlah Mata Uang di Asia Lanjutkan Penguatan Terhadap Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melanjutkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (6/8/2026). Rupiah menguat 0,16% menjadi Rp 17.904 per dolar AS pada pukul 09.26 WIB menurut data Bloomberg.
Penguatan nilai tukar juga terjadi di sejumlah mata uang negara-negara di kawasan Asia.
Yen Jepang menguat 0,06%, yuan China menguat 0,02%, rupee India juga menguat 0,27%, won Korea Selatan turut menguat 0,33%, dan ringgit Malaysia menguat 0,15%. Penguatan juga tampak terjadi di peso Filipina sebesar 0,16%, dolar Singapura 0,05%, dan baht Tailan sebesar 0,19%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencermati bahwa melemahnya dolar AS terlihat dari menurunnya indeks dolar AS (DXY) ke level 99,8, menjadi yang terendah dalam tujuh minggu terakhir. Kondisi ini mempertahankan pelemahan tajam yang dipicu oleh intervensi terhadap yen serta aksi jual investor asing atas aset pendapatan tetap jangka panjang berdenominasi dolar AS pada pekan lalu.
Baca Juga
Rupiah Menguat 0,29% ke Rp17.974 Jelang Data Pertumbuhan Ekonomi RI
Dalam catatan Andry, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 0,01 bps menjadi 4,61%. Sementara itu, saham-saham AS ditutup di dekat level rekor tertinggi seiring membaiknya kondisi makroekonomi dan kuatnya kinerja laba perusahaan yang menopang sentimen pasar.
Pelemahan obligasi negara AS terjadi seiring harga minyak mentah. Komoditas utama ini melanjutkan penurunan setelah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman terkait usulan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Pada saat yang sama, pejabat AS mengisyaratkan adanya kemajuan dalam pembicaraan untuk memulihkan arus perdagangan di kawasan tersebut, sehingga meredakan kekhawatiran terhadap inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi.
Di kawasan Asia, pelemahan tajam yen dan obligasi pemerintah Jepang (JGB) mendorong Departemen Keuangan AS dan otoritas Jepang membeli sekitar 88 miliar yen Jepang, dengan sebagian intervensi dilakukan melalui penjualan dolar AS. Perkembangan ini juga sejalan dengan tekanan yang muncul setelah keputusan terbaru The Fed untuk mempertahankan suku bunga.
Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh mengisyaratkan keraguannya untuk menegaskan bahwa kenaikan suku bunga akan menjadi respons utamanya terhadap inflasi yang lebih tinggi. Pernyataan tersebut mendorong investor asing mengurangi kepemilikan aset berdenominasi dolar AS.
Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan depan turut mereda akibat penurunan kembali harga energi utama serta lemahnya laporan ketenagakerjaan ADP.

