Ekspansi Melambat pada Semester II-2026, Perbankan dan Industri Lebih Berhati-hati
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Momentum ekspansi ekonomi Indonesia diperkirakan melambat pada semester II-2026. Meskipun pertumbuhan ekonomi nasional masih relatif terjaga, berbagai indikator menunjukkan dunia usaha, perbankan, industri manufaktur, hingga konsumsi rumah tangga mulai bergerak lebih hati-hati di tengah tingginya ketidakpastian global dan masih ketatnya kebijakan moneter.
Laporan BRI Monthly Economic Update Edisi Juli 2026 yang diterbitkan Office of Chief Economist Group BRI hari Selasa (03/08/2026) memperlihatkan bahwa aktivitas bisnis domestik masih tumbuh positif sepanjang triwulan II-2026, namun laju penguatannya merupakan yang terendah dalam beberapa tahun terakhir. Penguatan terutama ditopang sektor konstruksi, administrasi pemerintahan, dan pertambangan, sementara manufaktur, perdagangan, transportasi, dan pergudangan mulai kehilangan momentum.
Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia memperkirakan ekspansi bisnis pada triwulan III-2026 akan semakin melambat. Indeks ekspektasi aktivitas usaha turun menjadi 11,8% saldo bersih tertimbang (SBT) dari 14,8% pada triwulan sebelumnya. Pada saat yang sama, ekspektasi investasi juga turun ke level terendah dalam setahun terakhir, menunjukkan perusahaan mulai menahan ekspansi jangka panjang.
Baca Juga
Di sektor manufaktur, perlambatan juga semakin terlihat. Indeks PMI Manufaktur versi Bank Indonesia turun menjadi 51,43 pada triwulan II-2026 dari 52,03 pada triwulan sebelumnya. Meski masih berada di zona ekspansi, hampir seluruh komponen mengalami pelemahan, termasuk produksi, pesanan baru, tenaga kerja, dan kecepatan penerimaan bahan baku. Enam dari 14 subsektor bahkan sudah memasuki fase kontraksi, antara lain industri kimia, furnitur, kayu, tembakau, elektronik, dan karet.
Dari sisi konsumsi, tekanan terhadap permintaan domestik mulai semakin nyata. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun menjadi 117,8 pada Juni 2026, melanjutkan tren penurunan sejak Februari. Walaupun masih berada di atas level optimistis, masyarakat mulai lebih pesimistis terhadap prospek ekonomi ke depan.
Perubahan perilaku rumah tangga juga terlihat dari pola penggunaan pendapatan. Porsi pendapatan yang dialokasikan untuk konsumsi naik menjadi 73%, sedangkan porsi untuk menabung turun menjadi 17%, menandakan bantalan keuangan masyarakat semakin menipis akibat tekanan biaya hidup.
Pelemahan konsumsi tercermin pada penjualan ritel yang kembali mengalami kontraksi 3,9% secara tahunan pada Mei 2026. Kontraksi terjadi hampir di seluruh kelompok barang, terutama pakaian, makanan dan minuman, serta berbagai barang konsumsi lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya.
Di sisi harga, inflasi memang masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia, tetapi tekanannya meningkat. Inflasi tahunan Juni 2026 mencapai 3,34%, didorong kenaikan inflasi inti dan kelompok pangan bergejolak. BRI memperkirakan inflasi hingga akhir tahun masih berada di sekitar 3,43%, meskipun risiko kenaikan tetap terbuka apabila harga pangan dan nilai tukar kembali mengalami tekanan.
Perbankan juga mulai menerapkan strategi yang lebih konservatif. Penyaluran kredit baru memang melonjak pada triwulan II-2026, terutama kredit modal kerja dan investasi. Namun survei perbankan memperkirakan pertumbuhan kredit akan melambat pada triwulan III-2026 dan proyeksi pertumbuhan kredit sepanjang tahun diturunkan
Baca Juga
Ekonomi Tumbuh 5,29%, Angka Pengangguran & Kemiskinan Turun, Tapi Ketimpangan Membesar
Di sisi likuiditas, pertumbuhan uang beredar (M2) dan uang primer mulai melambat, sementara masyarakat cenderung memindahkan dana ke deposito dan instrumen berimbal hasil lebih tinggi. Bersamaan dengan itu, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, sehingga biaya dana (cost of fund) diperkirakan tetap tinggi dan ruang penurunan suku bunga kredit masih terbatas.
BRI menilai perlambatan berbagai indikator tersebut belum mengarah pada kontraksi ekonomi. Namun, dunia usaha, sektor perbankan, dan industri manufaktur diperkirakan akan memasuki semester II-2026 dengan strategi yang jauh lebih selektif, mengutamakan efisiensi, menjaga likuiditas, serta memprioritaskan ekspansi pada sektor-sektor yang memiliki prospek permintaan dan arus kas yang lebih kuat.
Di tengah perlambatan ekonomi global, tingginya suku bunga di negara maju, serta meningkatnya ketegangan geopolitik, Indonesia mampu mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi di atas 5% pada semester I 2026. Kinerja tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan paling stabil di kelompok G20 maupun emerging markets.
Data BPS menunjukkan perekonomian Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy). Dibandingkan triwulan sebelumnya, ekonomi juga tumbuh 3,73% secara kuartalan (quarter-to-quarter/qoq). Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi sepanjang semester I-2026 mencapai 5,45%, lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara besar yang masih bergulat dengan perlambatan ekonomi.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa fondasi ekonomi domestik masih cukup kuat. Permintaan dalam negeri tetap menjadi mesin utama pertumbuhan, didukung oleh konsumsi rumah tangga, peningkatan investasi, belanja pemerintah, serta ekspor yang masih memberikan kontribusi positif meski menghadapi perlambatan permintaan global.
Namun, di balik capaian tersebut, sejumlah tantangan struktural masih membayangi. Daya beli sebagian masyarakat belum pulih sepenuhnya, ketimpangan pengeluaran kembali meningkat, sementara produktivitas dan daya saing industri nasional masih memerlukan penguatan agar Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
Motor Pertumbuhan
Salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2026 adalah percepatan belanja pemerintah. BPS mencatat pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh 15,97% secara tahunan, tertinggi dibandingkan seluruh komponen permintaan agregat. Secara kuartalan, konsumsi pemerintah meningkat 15,08%, sedangkan secara kumulatif semester I-2026 melonjak 18,62%.
Kontribusi konsumsi pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 1,07 poin persentase, mencerminkan kuatnya dorongan fiskal melalui percepatan belanja kementerian dan lembaga, pembangunan infrastruktur, program perlindungan sosial, hingga berbagai proyek strategis nasional. Peningkatan belanja negara menjadi faktor penting dalam menjaga aktivitas ekonomi ketika kondisi eksternal masih dipenuhi ketidakpastian.
Baca Juga
Kepala BPS: Industrialisasi Jadi Mesin Utama, Maluku Utara Cetak Pertumbuhan Tertinggi
Meskipun pertumbuhannya tidak setinggi konsumsi pemerintah, konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB). Dengan porsi lebih dari separuh PDB nasional, konsumsi masyarakat masih menjadi penyangga utama ekonomi Indonesia. Aktivitas perdagangan, transportasi, pariwisata, jasa, serta berbagai kegiatan selama libur panjang dan Hari Besar Keagamaan Nasional turut menjaga daya beli masyarakat.
Namun, pertumbuhan konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya kembali ke tingkat sebelum pandemi. Kelompok masyarakat berpendapatan menengah masih cenderung berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya akibat tekanan biaya hidup dan tingginya beban cicilan.
Fenomena tersebut terlihat dari pertumbuhan penjualan barang tahan lama yang belum sepenuhnya pulih serta kecenderungan masyarakat mengutamakan kebutuhan pokok dibandingkan konsumsi sekunder.
Investasi Tetap Terjaga
Komponen investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tetap memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Investasi didukung oleh pembangunan kawasan industri, hilirisasi mineral, proyek infrastruktur, pengembangan energi, pembangunan perumahan, serta investasi swasta yang mulai meningkat.
Program hilirisasi yang terus diperluas menjadi salah satu motor investasi baru. Pemerintah mendorong agar ekspor Indonesia tidak lagi didominasi bahan mentah, melainkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Masuknya investasi asing langsung (FDI) ke sektor pengolahan logam, kendaraan listrik, petrokimia, serta energi baru terbarukan turut memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah.
Baca Juga
IHSG Dibuka Melesat 0,45%, Seluruh Sektor Saham di Zona Hijau
Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat pertumbuhan tertinggi secara kuartalan, yakni 12,26%. Kinerja tersebut didorong musim panen berbagai komoditas pangan utama sehingga produksi pertanian meningkat cukup signifikan dibandingkan awal tahun.
Sementara secara tahunan, sektor pengadaan listrik dan gas menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 10,81%, mencerminkan meningkatnya aktivitas industri, pembangunan infrastruktur, serta kebutuhan energi nasional.
Sektor perdagangan, transportasi, konstruksi, informasi dan komunikasi, serta jasa keuangan juga tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
Jawa Masih Mendominasi Ekonomi Nasional
Secara spasial, Pulau Jawa masih menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian Indonesia. Lebih dari separuh PDB nasional masih dihasilkan oleh wilayah Jawa, disusul Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, serta Maluku-Papua. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia.
Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi di luar Jawa terus meningkat seiring pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri berbasis sumber daya alam, serta berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) serta berbagai kawasan industri baru diharapkan mampu mempercepat pemerataan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Pada triwulan II-2026, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp3.576,2 triliun. Untuk keseluruhan tahun 2026, nilai PDB nominal Indonesia diperkirakan menembus sekitar US$1,54 triliun, menjadikan Indonesia tetap sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
PDB per kapita Indonesia juga terus meningkat dan diperkirakan mencapai sekitar US$5.362, menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pendapatan masyarakat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Namun demikian, jika dibandingkan negara-negara maju maupun sebagian negara emerging markets, tingkat pendapatan tersebut masih relatif rendah sehingga ruang peningkatan produktivitas masih sangat besar.
Stabilitas Makro Masih Terjaga
Di tengah ketidakpastian global, fundamental ekonomi Indonesia relatif tetap stabil. Inflasi Juli 2026 tercatat 2,88% (yoy), masih berada dalam sasaran Bank Indonesia. Nilai tukar rupiah memang mengalami tekanan akibat kuatnya dolar AS, tetapi masih dapat dijaga melalui bauran kebijakan moneter dan stabilisasi pasar keuangan. Cadangan devisa tetap berada pada level yang memadai untuk membiayai impor dan kewajiban luar negeri pemerintah.
Sementara itu, sektor perbankan juga masih menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan kredit dua digit, rasio kecukupan modal (CAR) yang tinggi, serta tingkat kredit bermasalah (NPL) yang tetap rendah. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi sistem keuangan untuk tetap menopang aktivitas dunia usaha.
Meskipun angka pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, tantangan utama Indonesia saat ini bukan lagi sekadar mengejar laju pertumbuhan, melainkan meningkatkan kualitas pertumbuhan tersebut.
Data BPS menunjukkan tingkat pengangguran dan angka kemiskinan terus menurun sepanjang 2026. Namun pada saat yang sama, rasio Gini kembali meningkat, menandakan ketimpangan pengeluaran masyarakat masih melebar.
Artinya, manfaat pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Pemerintah menghadapi tantangan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkualitas, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, memperkuat kelas menengah, serta memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, dan teknologi.
Menuju Indonesia Emas 2045
Bagi Indonesia, mempertahankan pertumbuhan sekitar 5% merupakan pencapaian yang penting, tetapi belum cukup untuk mewujudkan visi menjadi negara maju pada 2045.
Berbagai kajian menunjukkan Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 7–8% per tahun selama dua dekade mendatang agar mampu mencapai target PDB sekitar US$9,8 triliun dengan PDB per kapita sekitar US$30.000 pada saat Indonesia genap berusia 100 tahun.
Karena itu, agenda reformasi struktural tetap menjadi pekerjaan besar. Hilirisasi industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, transformasi digital, transisi energi, penguatan riset dan inovasi, serta perbaikan iklim investasi harus berjalan beriringan.
Dengan fondasi makroekonomi yang relatif kuat, ruang fiskal yang terjaga, bonus demografi yang masih berlangsung, serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Namun peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga inklusif, produktif, dan berkelanjutan.

