Diprediksi Melambat, Ekonom Sebut Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026 Bisa Segini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026, Rabu (5/8/2026). Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 diproyeksikan akan melambat karena efek meningkatnya gejolak geopolitik di Timur Tengah dan high based effect pada kuartal pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% secara tahunan dan kuartal II-2025 sebesar 5,12% secara tahunan.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 akan keluar dari zona 5%, di kisaran 4,8-4,9% secara tahunan.
“Perlambatan ini terutama dipengaruhi oleh normalisasi konsumsi rumah tangga setelah periode hari besar, tekanan dari defisit neraca dagang, serta kenaikan harga energi,” kata Yusuf, Selasa (4/8/2026).
Yusuf menilai belanja pemerintah dan investasi masih menjadi penopang, namun belum cukup kuat untuk menahan pelemahan permintaan domestik dan sektor eksternal. Selain itu, dia juga menyoroti pelemahan rupiah yang sempat berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS. Pelemahan Mata Uang Garuda ini dinilai memberikan tekanan tambahan terhadap ekonomi.
“Depresiasi nilai tukar membuat biaya impor dan bahan baku meningkat sehingga mendorong inflasi dari sisi biaya,” ujar dia.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 berada di kisaran 5,18% secara tahunan. Angka ini melambat dibandingkan kuartal I-2026.
Irman menjelaskan bahwa perlambatan ini lebih mencerminkan normalisasi pola belanja pemerintah yang lebih lambat. Ini terjadi seiring meredanya aktivitas pascahari besar keagamaan.
Baca Juga
Pemerintah dan BI Perkuat Sinergi, Qodari: Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi
“Di sisi lain sektor eksternal juga kurang mendukung,” ujar Irman.
Ekspor Jadi Benteng Pertumbuhan
Irman menilai net ekspor menjadi faktor utama yang menahan pertumbuhan pada kuartal II-2026. Meskipun ekspor Indonesia masih relatif resilien, impor tumbuh lebih cepat seiring tingginya kebutuhan barang modal, bahan baku, dan energi.
Kondisi tersebut tecermin dari defisit neraca perdagangan selama dua bulan berturut-turut pada Mei dan Juni, yang menunjukkan bahwa kontribusi sektor eksternal terhadap PDB kemungkinan menjadi negatif pada kuartal II.
Sementara itu, Irman memperkirakan konsumsi rumah tangga masih tumbuh cukup baik, namun belum menjadi sumber akselerasi pertumbuhan. Berbagai stimulus pemerintah turut memberikan dukungan terhadap konsumsi.
“Namun, masyarakat masih cenderung berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya, tercermin dari pertumbuhan kredit konsumsi yang masih jauh lebih rendah dibanding kredit investasi,” kata dia.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) dalam laporan When Uncertainty Becomes the Only Constant memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh di bawah 5% secara tahunan pada kuartal II-2026.
Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi proyeksi tersebut. Pertama, kuartal II-2026 menghadapi high base effect karena ekonomi Indonesia. Kedua, tidak terdapat dorongan musiman yang signifikan pada kuartal II-2026.
“Ketiga, guncangan eksternal berupa tingginya, harga energi serta pelemahan rupiah memicu inflasi impor sehingga meningkatkan biaya produksi,” tulis peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefqy.
Di samping itu, Riefqy menilai keputusan pemerintah untuk menaikkan harga Pertamax turut menggerus daya beli masyarakat akibat meningkatnya biaya barang dan transportasi.
Riefqy memperkirakan PDB Indonesia pada kuartal II-2026 akan tumbuh sebesar 4,80% secara tahunan, dengan kisaran estimasi 4,78%–4,82% secara tahunan. Sementara pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai 5,00% secara tahunan, dengan kisaran estimasi 4,95%–5,05%.
Sebelumnya diberitakan, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 akan mengalami perlambatan. Meski begitu, dia memproyeksikan pertumbuhan pada kuartal II-2026 tidak akan jauh dari angka 5,4%.
“Kalau kita lihat prediksi empat lembaga, kelihatannya di bawah 5,6% untuk kuartal II-2026. Tapi, nggak jauh dari 5,4% juga. Jadi melambat tapi nggak parah-parah amat,” kata Purbaya, saat membacakan hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Jakarta, Senin (3/8/2026).
Purbaya mengatakan realistis menghadapi kondisi kuartal II-2026. Sebab, pada kuartal ini ketidakpastian global mencapai titik puncaknya. Ini disebabkan oleh harga minyak yang tinggi.
