Peneliti BRIN: Insentif PFII Harus Kompetitif agar Mampu Tarik Investasi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Peneliti Pusat Riset Ekonomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Periset Indonesia (PPI) Syahrir Ika menilai bahwa pemerintah perlu menghadirkan insentif fiskal yang kompetitif di Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) untuk meningkatkan daya tarik investasi global.
Menurut Syahrir, langkah tersebut dapat mempercepat aliran modal ke Indonesia sehingga daya saing yang ditawarkan mampu bersaing dengan negara lain seperti Uni Emirat Arab (UEA), Malaysia, Singapura, dan Vietnam.
"Kalau negara lain memberikan fasilitas yang lebih baik, tentu investor akan memilih negara tersebut. Karena itu, persoalannya bukan sekadar kita memberikan insentif berapa besar, tetapi bagaimana insentif yang kita berikan mampu membuat Indonesia tetap kompetitif dibanding negara pesaing," kata Syahrir dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026).
Baca Juga
Prabowo Percepat Pembentukan PFII untuk Perkuat RI sebagai Destinasi Investasi
Syahrir menjelaskan insentif fiskal merupakan instrumen yang lazim digunakan pemerintah untuk meningkatkan daya saing investasi. Namun, menurutnya, pengalaman menunjukkan bahwa insentif pajak saja tidak otomatis mampu menarik investor apabila tidak didukung oleh ekosistem usaha yang kuat.
Oleh karena itu, implementasi PFII perlu didukung kombinasi berbagai kebijakan yang saling melengkapi. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menawarkan insentif fiskal, tetapi juga lingkungan investasi yang memberikan kepastian dan kenyamanan bagi pelaku usaha global.
Selain itu, Syahrir mengingatkan pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara pemberian insentif dan keberlanjutan ruang fiskal. "Pemerintah tentu harus menghitung posisi insentif yang optimal. Kita harus kompetitif, tetapi jangan sampai ruang fiskal terganggu karena pada akhirnya justru akan meningkatkan risiko ekonomi," ujarnya.
Baca Juga
Menko Airlangga Bocorkan Lokasi PFII, Bakal Pakai Lahan Milik BUMN
Ia juga menilai momentum pembentukan PFII seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi sektor keuangan nasional melalui pendalaman pasar keuangan, penguatan regulasi, pengembangan teknologi finansial, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta tata kelola yang semakin kredibel.
"Momentum pembentukan PFII seharusnya digunakan untuk memperbaiki ekosistem sektor keuangan Indonesia. Yang dibangun bukan hanya insentifnya, tetapi juga fondasi agar sektor keuangan kita semakin kuat, efisien, dan mampu bersaing dalam jangka panjang," katanya.
Syahrir juga mengingatkan pemerintah perlu menjaga level playing field agar pemberian insentif di kawasan PFII tidak menimbulkan distorsi persaingan dengan pelaku usaha yang menjalankan aktivitas serupa di luar kawasan.
Menurutnya, desain insentif harus mampu meningkatkan daya saing Indonesia sebagai pusat keuangan internasional tanpa menciptakan ketimpangan perlakuan yang berpotensi mengganggu iklim usaha secara keseluruhan.
