Keyakinan Konsumen Melemah, Cari Kerja Makin Susah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Keyakinan konsumen Indonesia kembali melemah pada Juni 2026 ketika rumah tangga menghadapi tekanan daya beli, penghasilan, dan peluang memperoleh pekerjaan. Pelemahan paling terasa pada kelompok menengah-bawah, yang persepsinya terhadap ketersediaan lapangan kerja telah masuk ke zona pesimistis.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia pada Juni 2026 turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei 2026. Walaupun masih berada di atas batas optimistis 100, penurunan tersebut memperpanjang tren pelemahan yang berlangsung konsisten sejak Februari 2026.
Kondisi itu terungkap dalam laporan Regular Economic Update: Laporan Keyakinan Konsumen Juni 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, dan diterbitkan di Jakarta, Jumat (10/07/2026). Pelemahan IKK menunjukkan bahwa masyarakat semakin berhati-hati dalam membelanjakan pendapatan. Kekhawatiran bukan hanya tertuju pada kondisi ekonomi saat ini, tetapi mulai meluas ke prospek penghasilan, kegiatan usaha, dan ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan mendatang.
Komponen kondisi ekonomi saat ini turun 3 poin menjadi 109,2 pada Juni 2026 dari 112,2 pada Mei. Sementara itu, indeks ekspektasi konsumen turun lebih dalam, sebesar 3,3 poin, menjadi 126,4 dari 129,7.
Penurunan lebih tajam pada komponen ekspektasi menandakan tekanan terhadap keyakinan konsumen berpotensi bertahan lebih lama. Rumah tangga tidak hanya merasakan kondisi yang lebih berat saat ini, tetapi juga semakin ragu terhadap kecepatan perbaikan ekonomi ke depan.
Seluruh subkomponen pembentuk IKK mengalami pelemahan. Indeks penghasilan saat ini turun menjadi 119,8 dari 123,2. Indeks pembelian barang tahan lama melemah menjadi 105,9 dari 108,3, sedangkan indeks ketersediaan lapangan kerja turun menjadi 101,8 dari 105.
Di sisi ekspektasi, indeks penghasilan enam bulan mendatang turun menjadi 133,6 dari 136,5. Ekspektasi kegiatan usaha melemah menjadi 121,2 dari 124,5, sedangkan ekspektasi ketersediaan lapangan kerja turun paling dalam, sebesar 3,7 poin, menjadi 124,4 dari 128,1.
Penurunan indeks pembelian barang tahan lama menunjukkan konsumsi diskresioner masih rentan. Rumah tangga mulai lebih selektif membeli kendaraan, peralatan elektronik, furnitur, dan barang bernilai besar lainnya karena tekanan biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan.
Kelas Menengah-Bawah Paling Tertekan
Pelemahan keyakinan konsumen terjadi di seluruh kelas pengeluaran, baik kelompok menengah-bawah maupun menengah-atas. Namun, tingkat optimisme kelompok berpengeluaran besar masih lebih tinggi, mencerminkan bantalan ekonomi yang relatif lebih kuat.
Pada kelompok pengeluaran Rp 1 juta hingga Rp2 juta per bulan, IKK turun 4,1 poin menjadi 108,9 dari 113 pada Mei. Angka ini menjadi tingkat keyakinan terendah di antara seluruh kelas pengeluaran.
Kelompok berpengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp3 juta mengalami penurunan paling dalam, sebesar 4,7 poin, menjadi 112,4 dari 117,1. Sementara IKK kelompok Rp 3,1 juta hingga Rp 4 juta relatif stagnan, turun tipis 0,1 poin menjadi 117,1.
Pada kelompok pengeluaran lebih tinggi, IKK kelompok Rp4,1 juta hingga Rp 5 juta turun 3,5 poin menjadi 114,9. Posisi ini bahkan lebih rendah dibandingkan kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta hingga Rp 4 juta.
Adapun kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta masih mencatatkan IKK tertinggi, meskipun turun 3,2 poin menjadi 121,4 dari 124,6.
Perkembangan itu menunjukkan sikap kehati-hatian tidak lagi terbatas pada kelompok bawah. Tekanan daya beli, ketidakpastian ekonomi, dan volatilitas pasar keuangan mulai memengaruhi penilaian kelompok menengah-atas terhadap kondisi finansialnya.
Laporan BRI juga menilai sentimen kelompok berpengeluaran tinggi berpotensi dipengaruhi volatilitas pasar modal dan ketidakpastian menjelang peninjauan lanjutan MSCI pada November 2026.
Secara struktural, kesenjangan keyakinan antara kelompok atas dan menengah-bawah masih relatif lebar dibandingkan periode pascapandemi. Kelompok atas masih memiliki daya tahan lebih baik, sedangkan kelompok bawah semakin rentan dalam mempertahankan konsumsi secara berkelanjutan.
Cari Kerja Makin Sulit
Tekanan paling mengkhawatirkan terlihat pada persepsi ketersediaan lapangan kerja. Dua kelompok pengeluaran terendah telah masuk ke zona pesimistis, yakni mencatatkan indeks di bawah 100.
Indeks ketersediaan lapangan kerja kelompok berpengeluaran Rp1 juta hingga Rp 2 juta turun menjadi 96,4 pada Juni dari 99,2 pada Mei. Kelompok Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta turun jauh lebih dalam, sebesar 13,1 poin, menjadi 96,9 dari 110.
Data tersebut menunjukkan masyarakat kelas menengah-bawah semakin merasakan sulitnya memperoleh pekerjaan maupun mempertahankan kepastian pendapatan. Ketidakpastian pekerjaan dapat mendorong rumah tangga membatasi konsumsi dan menunda pengambilan kredit baru.
Kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta hingga Rp 4 juta justru mencatat kenaikan indeks ketersediaan lapangan kerja sebesar 1,2 poin menjadi 114,1. Namun, perbaikan tersebut belum mampu mengubah kecenderungan umum pelemahan pasar tenaga kerja.
Pada kelompok Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta, indeks naik menjadi 100,3 setelah sebelumnya berada di zona pesimistis pada level 98,1. Sementara itu, kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta turun 3,7 poin menjadi 101,3.
Dengan demikian, persepsi lapangan kerja pada kelompok atas masih berada di zona optimistis, tetapi jaraknya terhadap batas netral 100 semakin tipis. Tekanan pasar kerja yang sebelumnya lebih banyak dirasakan kelompok bawah mulai menjalar ke kelompok dengan pengeluaran lebih tinggi.
Kekhawatiran terhadap pekerjaan juga terlihat dalam ekspektasi enam bulan mendatang. Ekspektasi ketersediaan lapangan kerja berada di bawah ekspektasi penghasilan pada seluruh kelas pengeluaran.
Penurunan ekspektasi pekerjaan paling dalam bahkan terjadi pada kelompok berpengeluaran di atas Rp 5 juta, yang merosot 6,8 poin menjadi 124. Kondisi ini menunjukkan kecemasan terhadap prospek ketenagakerjaan tidak lagi hanya menjadi persoalan kelompok berpendapatan rendah.
Persepsi Penghasilan Kelas Menengah Melemah
Persepsi konsumen terhadap penghasilan saat ini juga melemah di mayoritas kelas pengeluaran. Penurunan terbesar terjadi pada kelompok Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta, yang indeksnya anjlok 10,4 poin menjadi 116 dari 126,4.
Kelompok ini dapat dikategorikan sebagai bagian dari kelas menengah yang menghadapi tekanan dari dua arah: kenaikan biaya hidup dan keterbatasan peningkatan pendapatan. Penurunan tajam tersebut memperlihatkan bantalan ekonomi sebagian kelas menengah mulai terkikis.
Kelompok pengeluaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta mencatat indeks penghasilan paling rendah, yaitu 107,3, turun 5,9 poin dari 113,2. Meskipun masih berada di zona optimistis, posisinya semakin dekat dengan batas netral 100.
Pada kelompok Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta, indeks penghasilan turun 4,5 poin menjadi 117,1. Sebaliknya, kelompok Rp 3,1 juta hingga Rp 4 juta meningkat 3 poin menjadi 124,6.
Kelompok berpengeluaran di atas Rp 5 juta relatif lebih kuat. Indeks penghasilan kelompok ini hanya turun 0,5 poin menjadi 129,2, memperlihatkan bahwa rumah tangga dengan kapasitas finansial terbesar masih memiliki bantalan ekonomi lebih kuat.
Kesenjangan persepsi penghasilan antara kelompok atas dan menengah-bawah tetap lebar. Tekanan pendapatan dirasakan secara luas, tetapi kemampuan setiap kelompok untuk menyerap guncangan berbeda.
Ekspektasi penghasilan ke depan juga mulai melemah. Pada kelompok pengeluaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, indeks ekspektasi penghasilan turun paling dalam, sebesar 6,2 poin, menjadi 121,9.
Kelompok Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta turun 2,2 poin menjadi 129,4. Sementara kelompok Rp 4,1 juta hingga Rp5 juta turun 1,5 poin menjadi 132,4.
Hanya kelompok berpengeluaran di atas Rp 5 juta yang mencatat kenaikan tipis, sebesar 0,7 poin menjadi 138,9. Hal ini kembali menegaskan bahwa kelompok dengan pengeluaran tertinggi masih memiliki ekspektasi pendapatan yang lebih kokoh.
Berdasarkan kelompok umur, tekanan penghasilan paling besar dirasakan konsumen berusia 31–40 tahun. Persepsi penghasilan saat ini kelompok tersebut turun 6,7 poin, penurunan terdalam di antara seluruh kelompok usia.
Tekanan pada kelompok usia produktif tersebut perlu dicermati karena mereka merupakan salah satu penggerak utama konsumsi rumah tangga. Pelemahan penghasilan saat ini dan ekspektasi pendapatan ke depan dapat mendorong kelompok usia produktif mengurangi belanja dan menunda pembiayaan baru.
Kemampuan Menabung Menurun
Tekanan pendapatan dan pekerjaan mulai tercermin pada kemampuan rumah tangga menyisihkan uang untuk menabung. Porsi pendapatan yang dialokasikan untuk tabungan turun menjadi 17% pada Juni 2026 dari 17,5% pada Mei dan 18,2% pada April.
Sebaliknya, porsi pendapatan untuk konsumsi meningkat menjadi 73% dari 72,3% pada Mei. Porsi pembayaran cicilan turun tipis menjadi 10% dari 10,2%.
Pergeseran tersebut tidak selalu mencerminkan konsumsi yang lebih kuat. Dalam konteks pelemahan penghasilan dan lapangan kerja, kenaikan porsi konsumsi lebih menunjukkan bahwa semakin banyak pendapatan rumah tangga terserap untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.
Turunnya porsi tabungan memperlihatkan bantalan likuiditas rumah tangga semakin terbatas. Kondisi ini meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, dan pengeluaran tidak terduga.
Walaupun kemampuan menabung menurun, rumah tangga yang masih memiliki kelebihan dana cenderung memilih instrumen likuid dan relatif aman. Tabungan dan deposito tetap menjadi pilihan utama, dengan persentase responden meningkat menjadi 44,5% pada Juni dari 42,7% pada Mei.
Preferensi terhadap emas dan perhiasan juga naik tipis menjadi 36,5%. Sebaliknya, minat pada saham dan reksa dana turun menjadi 12,2%, sedangkan properti melemah menjadi 2%.
Pergeseran tersebut menunjukkan konsumen semakin defensif. Rumah tangga lebih memilih likuiditas, keamanan, dan instrumen lindung nilai dibandingkan investasi berisiko atau aset bernilai besar yang sulit dicairkan.
Data simpanan juga memperlihatkan pertumbuhan saldo tabungan masih ditopang kelompok atas. Saldo rekening di atas Rp 2 miliar tumbuh 19,1% secara tahunan pada Mei 2026, dengan rata-rata saldo sekitar Rp17,56 miliar per rekening.
Sebaliknya, likuiditas kelompok menengah-atas dengan saldo Rp 500 juta hingga Rp 2 miliar cenderung tertahan. Pertumbuhan saldo hanya sekitar 3,6% secara tahunan, dengan rata-rata saldo Rp 931 juta per rekening.
Pada kelompok menengah-bawah dengan saldo Rp100 juta hingga Rp 500 juta, pertumbuhan saldo meningkat bertahap menjadi 3,6% secara tahunan. Rata-rata saldo kelompok ini sekitar Rp 213,7 juta.
Adapun saldo tabungan kelompok bawah, dengan nilai rekening maksimal Rp 100 juta, tumbuh 4,9% secara tahunan. Pertumbuhannya masih relatif tinggi, tetapi mulai menurun tipis.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa akumulasi likuiditas belum merata. Kelompok atas menikmati pertumbuhan simpanan yang jauh lebih kuat, sementara kemampuan kelompok menengah dan bawah membangun tabungan masih terbatas.
Pelemahan Meluas ke Berbagai Kota
Pelemahan optimisme juga meluas secara geografis. Sebanyak 16 dari 18 kota yang disurvei mencatatkan pelemahan momentum IKK dalam tiga bulan terakhir.
Medan menghadapi tekanan paling berat. IKK kota tersebut turun 9,2 poin menjadi 90,5, sekaligus masuk ke zona pesimistis.
Penurunan besar juga terjadi di Banten, sebesar 9,1 poin, serta Jakarta yang turun 8,9 poin menjadi 135,2. Banjarmasin melemah 6,9 poin, sedangkan Makassar dan Banten masing-masing terkoreksi sekitar 7 poin.
Dalam pemetaan momentum tiga bulan, delapan kota berada dalam kategori IKK rendah dan melemah. Delapan kota lainnya memiliki IKK relatif tinggi, tetapi momentumnya juga menurun.
Hanya dua kota yang berada dalam kategori keyakinan tinggi dan menguat, yakni Bandar Lampung dan Palembang. Terbatasnya jumlah kota dengan momentum positif menunjukkan perbaikan sentimen konsumen belum berlangsung merata.
Keyakinan Global Justru Menguat
Pelemahan keyakinan konsumen Indonesia terjadi ketika sentimen konsumen global mulai membaik. Indeks Keyakinan Konsumen Global naik menjadi 47,9 pada Juni 2026 dari 47,4 pada Mei.
Walaupun menguat, indeks global masih berada di bawah level 50 pada Februari 2026, sebelum meningkatnya eskalasi konflik geopolitik. Perkembangan ini menunjukkan optimisme konsumen dunia pulih secara bertahap, tetapi belum sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum konflik.
Seluruh subkomponen keyakinan konsumen global mencatatkan kenaikan. Indeks kondisi saat ini naik 0,6 poin menjadi 40,8, sedangkan indeks ekspektasi meningkat 0,7 poin menjadi 38,3.
Persepsi investasi naik 0,4 poin menjadi 56,3. Adapun persepsi pasar tenaga kerja meningkat 0,5 poin menjadi 57,7.
Perbaikan tidak hanya terjadi pada indeks agregat. Sebanyak 23 dari 30 negara yang diamati mencatatkan peningkatan IKK pada Juni. Dari jumlah tersebut, 13 negara memiliki tingkat IKK relatif tinggi dan terus menguat, sedangkan 10 negara memiliki IKK relatif rendah tetapi menunjukkan perbaikan.
Sebaliknya, tujuh negara masih mengalami pelemahan bulanan. Lima negara memiliki tingkat IKK relatif tinggi tetapi menurun, sementara dua negara berada dalam kondisi paling rentan, yakni memiliki IKK rendah dan terus melemah.
Pemulihan di 23 negara memperlihatkan sentimen konsumen global membaik secara cukup luas. Apabila berlanjut, penguatan keyakinan tersebut berpotensi menjadi katalis bagi konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi dunia.
Namun, level global yang masih berada di bawah 50 menunjukkan konsumen internasional belum sepenuhnya pulih dari tekanan geopolitik, inflasi, ketidakpastian pasar tenaga kerja, dan tingginya biaya pembiayaan.
Perbedaan arah antara Indonesia dan mayoritas negara dunia perlu mendapat perhatian. Ketika sentimen global mulai membaik, IKK Indonesia justru terus melemah sejak Februari 2026. Kondisi ini menandakan faktor domestik, terutama tekanan daya beli, penghasilan, dan lapangan kerja, semakin dominan memengaruhi psikologi rumah tangga.
Kredit Konsumsi Berpotensi Tertahan
Bagi industri perbankan, pelemahan keyakinan konsumen dapat menahan permintaan kredit konsumsi, khususnya kredit kendaraan bermotor, kartu kredit, kredit tanpa agunan, pembiayaan multiguna, dan kredit pemilikan rumah.
Rumah tangga yang mengkhawatirkan keamanan pekerjaan dan prospek pendapatan cenderung lebih berhati-hati mengambil utang baru. Kondisi ini dapat memperlambat ekspansi kredit pada segmen yang sensitif terhadap keyakinan konsumen.
Perbankan juga perlu memperkuat sistem peringatan dini terhadap kualitas aset, khususnya pada debitur rumah tangga kelas bawah dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Kelompok tersebut lebih sensitif terhadap penurunan pendapatan, pelemahan daya beli, dan perlambatan arus kas.
Di sisi penghimpunan dana, preferensi masyarakat terhadap tabungan dan deposito masih membuka peluang bagi bank. Namun, turunnya kemampuan menabung berpotensi membatasi pertumbuhan saldo simpanan ritel.
Bank perlu menjaga daya tarik produk simpanan yang fleksibel dan likuid, sekaligus mengelola biaya dana agar tidak menekan margin. Kebutuhan menjaga likuiditas rumah tangga diperkirakan tetap tinggi selama ketidakpastian penghasilan dan pekerjaan belum mereda.
Turunnya keyakinan konsumen bukan sekadar perubahan angka indeks. Ketika kelas menengah mulai meragukan penghasilan, kelas bawah semakin sulit mencari pekerjaan, dan porsi tabungan terus menyusut, pelemahan konsumsi dapat berubah menjadi tekanan yang lebih dalam terhadap pertumbuhan ekonomi.
