Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Masih Dominan di Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (6/7/2026). Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.01 WIB, rupiah terkoreksi 0,17% ke level Rp 17.993 per dolar AS di tengah kehati-hatian pelaku pasar menjelang rilis risalah rapat Federal Reserve atau The Fed.
Pelemahan rupiah terjadi seiring pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga berada di zona merah. Yen Jepang melemah 0,28% terhadap dolar AS, yuan China turun 0,1%, dolar Singapura terkoreksi 0,06%, dan baht Thailand melemah 0,05%. Di sisi lain, rupee India menjadi salah satu mata uang yang menguat dengan kenaikan 0,18%.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan Indeks Dolar AS atau DXY masih bertahan di bawah level 101 setelah sempat turun tajam pada perdagangan sebelumnya. Pelemahan indeks dolar dipicu oleh data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan sehingga pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini.
Dalam kajiannya, Andry mencatat imbal hasil atau yield obligasi Pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun tetap stabil di level 4,48%, atau meningkat 31,62 basis poin sejak awal tahun.
Data ketenagakerjaan menunjukkan ekonomi Amerika Serikat hanya menciptakan 57.000 lapangan kerja pada Juni, menjadi angka terendah dalam empat bulan dan jauh di bawah proyeksi pasar sebesar 110.000. Tingkat pengangguran tercatat sebesar 4,2%, sementara data pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta sebelumnya juga berada di bawah ekspektasi.
Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar menurunkan proyeksi kenaikan suku bunga The Fed. Kontrak berjangka Fed Funds kini menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada September sekitar 50%, turun dari 67% sebelum data ketenagakerjaan dirilis.
Ketua The Fed Kevin Warsh juga menyampaikan ekspektasi inflasi mulai menunjukkan tren penurunan. Meski demikian, bank sentral Amerika Serikat tetap menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga melalui kebijakan moneter yang terukur.
Pasar Menanti Risalah The Fed
Selain perkembangan suku bunga, perhatian investor juga tertuju pada rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) atau minutes The Fed bulan Juni. Dokumen tersebut diperkirakan memberikan gambaran mengenai pandangan para pejabat bank sentral terhadap prospek inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan arah kebijakan moneter.
Dari sisi perdagangan global, arus kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz meningkat pada awal Juli. Meski harga energi mengalami penurunan, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor panjang masih bertahan tinggi sehingga pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap prospek pasar keuangan global.
Baca Juga
Sepanjang pekan ini, investor juga akan mencermati sejumlah indikator ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk indeks aktivitas sektor jasa ISM Services PMI, data penjualan rumah bekas, serta neraca perdagangan.
Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) dijadwalkan merilis catatan kebijakan moneternya. Sementara itu, Jerman dan Italia akan mengumumkan data produksi industri, sedangkan Jerman dan Prancis akan mempublikasikan data perdagangan.
Adapun di Jepang, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data belanja konsumen, pesanan mesin perkakas, indeks harga produsen, serta neraca transaksi berjalan. Serangkaian data tersebut diperkirakan memengaruhi pergerakan yen dan pasar obligasi pemerintah Jepang dalam beberapa hari ke depan.
