Dana US$ 14,91 Miliar Keluar dari Emerging Market, Rupiah Terdepresiasi Paling Dalam
“Gelombang capital flight kembali menerjang emerging markets. Penguatan dolar AS, konflik Timur Tengah, dan sikap hawkish The Fed memicu keluarnya dana asing US$14,91 miliar, menyeret rupiah ke jajaran mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan.”
JAKARTA, Investortrust.id — Dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan dominasinya di pasar keuangan global. Pada pekan keempat Juni 2026, tekanan geopolitik di Timur Tengah, inflasi AS yang kembali meningkat, serta sikap The Fed yang kian hawkish memicu pembalikan arus modal dari emerging markets. Dana portofolio asing sebesar US$14,91 miliar keluar dari negara-negara berkembang, berbalik dari posisi inflow pada pekan sebelumnya.
Tekanan itu langsung terasa di pasar keuangan Indonesia. Rupiah melemah 0,72% secara mingguan ke Rp17.918 per dolar AS dan masuk kelompok mata uang emerging markets yang mengalami depresiasi paling tajam. Pelemahan rupiah terjadi di tengah kenaikan indeks dolar AS, meningkatnya premi risiko domestik, serta turunnya minat asing terhadap SRBI setelah yield instrumen tersebut menurun.
Data tersebut mengacu pada BRI Weekly Economic Update W4 Juni 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, Jakarta, Senin (29/06/2026). Laporan itu menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari gelombang besar penguatan dolar AS dan keluarnya dana asing dari emerging markets.
Dolar Menguat, Emerging Market Ditinggalkan
Pada W4 (pekan keempat) Juni 2026, volatilitas pasar keuangan global meningkat. Indeks VIX naik 1,63 poin secara mingguan, sementara indeks MOVE naik 1,40 poin. Kenaikan VIX mencerminkan meningkatnya kegelisahan di pasar saham global, sedangkan kenaikan MOVE menunjukkan naiknya volatilitas di pasar obligasi. Pemicu utamanya adalah eskalasi konflik AS-Iran di Selat Hormuz, ketika kedua negara sempat kembali saling menyerang sebelum dilaporkan menyepakati gencatan senjata dan melanjutkan negosiasi damai pada Selasa, 30 Juni 2026.
Ketegangan geopolitik tersebut mendorong investor global kembali mencari aset aman. Dolar AS menjadi pilihan utama. Indeks dolar AS atau DXY naik 0,51% secara mingguan ke level 101,36. Penguatan dolar juga ditopang oleh data ekonomi AS yang menunjukkan inflasi masih persisten dan ekonomi tetap solid. Inflasi PCE AS naik menjadi 4,10% yoy pada Mei 2026 dari 3,80% yoy pada April 2026. Core PCE juga meningkat menjadi 3,40% yoy dari 3,30% yoy.
Kenaikan inflasi PCE selama tiga bulan berturut-turut memberi sinyal bahwa tekanan harga di AS belum mereda. Komponen energi dan jasa inti di luar perumahan menjadi pendorong utama. Dalam situasi seperti ini, ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter semakin terbatas. Pasar memperkirakan The Fed masih akan menahan Fed Funds Rate di 3,75% pada FOMC Juli 2026, tetapi mulai memperhitungkan peluang kenaikan 25 basis poin pada FOMC September 2026, meski probabilitasnya masih di bawah 50%.
Selain inflasi, ekonomi AS juga menunjukkan daya tahan. Finalisasi PDB AS kuartal I-2026 mencatat pertumbuhan 2,7% yoy secara SAAR, naik dari 2,0% yoy pada kuartal IV-2025. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama, disertai kontribusi ekspor. Indeks Sentimen Konsumen AS juga naik ke 49,5 pada Juni 2026 dari 44,8 pada Mei 2026, menunjukkan persepsi konsumen terhadap ekonomi relatif membaik.
Baca Juga
IHSG Ambles Lebih dari 2% ke Level 5.671, Tertekan Rupiah dan Aksi Jual Asing
Kombinasi inflasi tinggi, ekonomi yang masih solid, dan prospek suku bunga tinggi lebih lama membuat dolar AS semakin kuat. Akibatnya, mayoritas mata uang emerging markets melemah. Dari 22 mata uang EM yang dipantau, 20 mengalami depresiasi terhadap dolar AS. Kondisi ini menjadi latar utama keluarnya dana portofolio dari emerging markets sebesar US$14,91 miliar pada W4 Juni 2026.
Bukan Sekadar Faktor Domestik
Rupiah turut terseret arus besar penguatan dolar AS. Pada W4 Juni 2026, rupiah melemah 0,72% secara mingguan ke Rp17.918 per dolar AS. Depresiasi ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang emerging markets yang melemah paling tajam terhadap dolar AS. Tekanan rupiah juga tercermin dari kenaikan non-deliverable forward atau NDF di berbagai tenor, mulai dari 1 minggu hingga 12 bulan.
Kenaikan NDF menunjukkan ekspektasi pasar terhadap depresiasi rupiah masih tinggi. Dengan kata lain, pasar belum sepenuhnya yakin bahwa tekanan terhadap rupiah sudah selesai. Dalam kondisi dolar AS menguat dan investor global mengurangi eksposur ke emerging markets, rupiah menghadapi tekanan ganda: dari sisi eksternal berupa penguatan dolar dan capital outflow EM, serta dari sisi domestik berupa kenaikan premi risiko dan volatilitas pasar saham.
Pelemahan rupiah juga terjadi meskipun Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin sepanjang Mei-Juni 2026 ke level 5,75%. Ini menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga saja belum cukup untuk menahan tekanan depresiasi ketika faktor eksternal bergerak sangat kuat. Selama dolar AS menjadi safe haven dan suku bunga AS diperkirakan bertahan tinggi, tekanan terhadap rupiah cenderung tetap besar.
Selain itu, efektivitas instrumen SRBI sebagai penopang rupiah juga mulai diuji. BI memang terus menerbitkan SRBI untuk menarik likuiditas dan menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, pada W4 Juni 2026, yield SRBI justru kompak menurun setelah pekan sebelumnya sempat mencapai level tertinggi sejak penerbitan perdana. Akibatnya, permintaan terhadap SRBI ikut termoderasi.
BI menghimpun dana Rp33,0 triliun dalam lelang SRBI pada pekan berjalan, dengan rata-rata bid-to-cover 2,34 kali. Angka ini turun dibandingkan pekan sebelumnya, ketika dana masuk mencapai Rp48,5 triliun dengan bid-to-cover 4,59 kali. Net portfolio inflow asing ke SRBI juga turun tajam menjadi Rp4,88 triliun dari Rp29,28 triliun pada pekan sebelumnya.
Artinya, asing masih masuk ke SRBI, tetapi dengan intensitas yang jauh lebih rendah. Di saat yang sama, rupiah tetap melemah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa daya redam SRBI terhadap tekanan rupiah belum sepenuhnya efektif ketika yield menurun dan tekanan eksternal meningkat. Rupiah membutuhkan bukan hanya instrumen moneter yang atraktif, tetapi juga pemulihan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi dan aset keuangan Indonesia.
SBN: Yield Naik Saat Peers Turun
Tekanan pasar juga terlihat di pasar Surat Berharga Negara. Yield SBN meningkat pada mayoritas tenor pada W4 Juni 2026. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik, yakni meningkatnya ketegangan Timur Tengah, pelemahan rupiah, serta kenaikan premi risiko Indonesia. CDS 5 tahun Indonesia naik 3,28 basis poin secara mingguan ke 89,90 basis poin.
Baca Juga
Rupiah Bergerak Melemah Terhadap Dolar AS, Imbas Perdamaian AS-Iran yang Masih Labil
Yang menarik, yield SBN 10 tahun meningkat ketika mayoritas yield obligasi peers justru menurun. Di pasar global, yield obligasi banyak negara turun seiring harga minyak Brent yang melemah 10,7% secara mingguan ke US$72 per barel dan ekspektasi bahwa eskalasi geopolitik tidak berlanjut lebih jauh. Namun, SBN bergerak berbeda karena tekanan rupiah dan premi risiko domestik masih membayangi pasar.
Dibandingkan posisi awal tahun, yield SBN 10 tahun juga masih berada pada level elevated dibandingkan sejumlah peers. Dalam perbandingan dengan Brasil, Turki, Afrika Selatan, Filipina, Thailand, Meksiko, dan Malaysia, posisi yield Indonesia masih menunjukkan tekanan yang relatif tinggi. Ini mencerminkan bahwa investor masih meminta imbal hasil lebih besar untuk memegang aset rupiah.
Meski demikian, kenaikan yield SBN juga menciptakan daya tarik baru bagi investor asing. Pada W4 Juni 2026, investor asing mencatatkan net portfolio inflow sebesar Rp6,32 triliun ke pasar SBN, lebih tinggi dari Rp4,20 triliun pada pekan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa yield SBN yang meningkat mulai dipandang cukup atraktif oleh sebagian investor.
Dari sisi kepemilikan, porsi bank dan non-bank asing meningkat pada W4 Juni 2026, sementara porsi BI dan non-bank residen menurun. Kenaikan porsi bank menunjukkan peran penting perbankan domestik dalam menyerap SBN dan menahan kenaikan yield agar tidak bergerak lebih tajam. Dengan kata lain, pasar SBN masih tertopang oleh kombinasi minat asing yang mulai pulih dan dukungan perbankan domestik.
Asing Keluar, IHSG Tertekan
Tekanan di pasar keuangan domestik juga terlihat jelas di Bursa Efek Indonesia. IHSG melemah 4,55% secara mingguan ke level 5.896 pada W4 Juni 2026. Pelemahan ini merupakan salah satu yang terdalam dibandingkan peers. Secara year-to-date, IHSG juga masih menjadi salah satu indeks dengan kinerja terlemah.
Tekanan terhadap IHSG dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik: meningkatnya ketegangan Timur Tengah, pelemahan rupiah, dan kehati-hatian investor setelah laporan MSCI Annual Market Classification Review. MSCI memang masih mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Markets, tetapi membuka opsi penurunan klasifikasi ke Frontier Markets sebagai skenario terburuk pada review November 2026 jika reformasi pasar dinilai belum menjawab keluhan MSCI.
Investor asing mencatatkan net portfolio outflow Rp3,43 triliun dari pasar saham Indonesia pada W4 Juni 2026. Ini melanjutkan tren outflow selama tujuh pekan berturut-turut. Secara year-to-date, net outflow asing dari pasar saham telah mencapai Rp71,68 triliun. Arus keluar ini mempertebal tekanan terhadap IHSG dan ikut membebani sentimen terhadap rupiah.
Pelemahan terjadi di mayoritas sektor. Sektor bahan baku, industri, energi, konsumsi siklikal, transportasi-logistik, infrastruktur, teknologi, dan keuangan mengalami tekanan. Di tengah pelemahan luas tersebut, hanya beberapa sektor defensif yang relatif lebih mampu bertahan.
Kepercayaan Jadi Kunci
Di tengah tekanan global, kondisi domestik tidak sepenuhnya rapuh. Likuiditas dalam perekonomian masih terjaga. Pertumbuhan jumlah uang beredar luas atau M2 meningkat menjadi 10,8% yoy pada Mei 2026 dari 9,2% yoy pada April 2026. Pertumbuhan uang primer adjusted juga tetap double digit sebesar 14,2% yoy. Ini menunjukkan bahwa likuiditas domestik masih cukup solid untuk menopang aktivitas ekonomi.
Pemerintah juga meluncurkan paket stimulus ekonomi semester II-2026 sebesar Rp26,34 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat. Stimulus tersebut mencakup bantuan pangan, insentif fiskal, diskon transportasi, serta program magang nasional. Paket ini diharapkan menopang konsumsi rumah tangga, menjaga transaksi ekonomi, dan mendukung penghimpunan CASA perbankan.
Namun, tantangan utama tetap berada di pasar finansial. Cost of fund perbankan berisiko tetap tinggi karena BI mempertahankan stance moneter ketat untuk menjaga stabilitas rupiah. Sementara itu, tekanan global membuat investor semakin selektif dalam menempatkan dana di emerging markets. Dalam situasi seperti ini, stabilitas rupiah, daya tarik SBN, efektivitas SRBI, dan pemulihan kepercayaan terhadap pasar saham menjadi faktor kunci.
Ke depan, arah pasar keuangan Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh tiga faktor. Pertama, perkembangan konflik AS-Iran dan stabilitas harga minyak. Kedua, arah kebijakan The Fed setelah inflasi PCE AS kembali naik. Ketiga, kemampuan otoritas domestik menjaga kepercayaan investor melalui stabilitas nilai tukar, kedalaman pasar keuangan, dan percepatan reformasi pasar modal.
Rupiah melemah bukan karena satu sebab tunggal. Ia tertekan oleh dolar AS yang menguat, dana asing yang keluar dari emerging markets, premi risiko yang meningkat, minat SRBI yang termoderasi, dan sentimen terhadap pasar saham domestik yang masih rapuh. Karena itu, menjaga rupiah tidak cukup hanya dengan menaikkan suku bunga atau menerbitkan instrumen moneter. Yang lebih mendasar adalah memulihkan trust: kepercayaan bahwa pasar keuangan Indonesia tetap likuid, kredibel, transparan, dan layak menjadi tujuan investasi jangka panjang.
Pertarungan sesungguhnya bukan hanya melawan penguatan dolar AS, tetapi juga memenangkan kembali kepercayaan pasar. Sebab, di pasar keuangan global, modal selalu mengalir ke negara yang paling dipercaya, bukan sekadar yang menawarkan imbal hasil tertinggi. (PD)
