Indeks Keyakinan Konsumen Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Keyakinan konsumen Indonesia masih berada di zona optimistis pada Mei 2026, namun mulai melemah seiring meningkatnya kehati-hatian masyarakat terhadap tekanan ekonomi domestik dan ketidakpastian global.
Berdasarkan Regular Economic Update: Laporan Keyakinan Konsumen Mei 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, dan diterbitkan di Jakarta pada 11 Juni 2026, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia turun menjadi 120,9 pada Mei 2026. Meski masih berada di atas level 100 yang mencerminkan optimisme, angka tersebut lebih rendah dibandingkan Januari 2026 yang berada di level 127,0.
BRI menilai pelemahan optimisme konsumen terutama dipicu oleh menurunnya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini. Indeks kondisi ekonomi saat ini turun 4,3 poin secara bulanan, sedangkan ekspektasi ke depan hanya naik tipis 0,1 poin. Kondisi ini menunjukkan masyarakat mulai merasakan tekanan pada situasi ekonomi saat ini, meski masih berharap tekanan tersebut bersifat sementara.
Pelemahan paling nyata terlihat pada persepsi penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja. Keyakinan terhadap penghasilan saat ini turun 4,9 poin, sementara persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja melemah 3,8 poin. Tekanan ini berpotensi menahan konsumsi rumah tangga, terutama karena pembelian barang tahan lama juga ikut termoderasi.
Pelemahan keyakinan konsumen terjadi hampir di seluruh kelas pengeluaran. Kelompok pengeluaran Rp4,1 juta–Rp5 juta mencatat penurunan terdalam, yakni 9,2 poin, sedangkan kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta turun 3,6 poin. Meski demikian, level keyakinan kelompok atas masih relatif lebih tinggi dibandingkan kelas menengah bawah.
Dari sisi wilayah, pelemahan optimisme konsumen juga mulai meluas. BRI mencatat IKK melemah di 13 dari 18 kota yang disurvei. Penurunan terdalam terjadi di Pontianak, Mataram, Banjarmasin, Banten, Surabaya, Semarang, Samarinda, Padang, Makassar, Denpasar, Pangkal Pinang, Medan, dan Jakarta. Sementara itu, penguatan IKK hanya terjadi di lima kota, yakni Bandar Lampung, Palembang, Ambon, Manado, dan Bandung.
Momentum penguatan keyakinan konsumen antarkota juga belum merata. Sebanyak tujuh kota berada pada kuadran tinggi namun melemah, sedangkan enam kota berada pada kuadran rendah dan melemah. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga berpotensi semakin heterogen antarwilayah, dengan risiko pelemahan lebih besar di kota-kota yang tingkat keyakinannya rendah dan trennya melemah.
Di tengah pelemahan tersebut, konsumen usia produktif muda masih relatif resilien. Kelompok usia 20–30 tahun mencatat IKK tertinggi pada Mei 2026, yakni 129,1, meskipun sedikit melemah dibandingkan bulan sebelumnya. BRI menilai optimisme kelompok usia muda masih menjadi salah satu penopang aktivitas konsumsi ke depan.
Namun, tekanan likuiditas rumah tangga mulai terlihat. Proporsi pendapatan masyarakat untuk konsumsi naik 1,1 poin persentase, pembayaran cicilan naik 0,5 poin persentase, sedangkan porsi untuk menabung turun 0,7 poin persentase. Kondisi ini mengindikasikan ruang menabung masyarakat mulai tergerus karena pendapatan belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan konsumsi dan kewajiban cicilan.
Tabungan dan deposito masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam menempatkan kelebihan dana, dengan porsi 43,7% responden. Sementara itu, minat terhadap emas mulai menurun, sedangkan porsi saham dan reksa dana naik terbatas. Rencana pembelian rumah juga masih tertahan, tercermin dari meningkatnya responden yang menyatakan tidak mungkin membeli rumah dalam 12 bulan ke depan.
Bagi perbankan, pelemahan keyakinan konsumen menjadi sinyal untuk lebih selektif dalam menyalurkan kredit konsumsi. Prospek penghasilan dan persepsi lapangan kerja yang melemah dapat menahan permintaan kredit sekaligus meningkatkan risiko kemampuan bayar debitur. BRI juga menilai bank perlu memperkuat pemantauan kualitas aset, terutama pada segmen konsumen berpendapatan tertekan, memiliki beban cicilan tinggi, serta kelompok bawah dan usia produktif senior.
Selain itu, pertumbuhan dana murah atau CASA berpotensi tertahan seiring menurunnya ruang menabung rumah tangga. Karena itu, perbankan perlu memperkuat strategi penghimpunan dana berbasis transaksi dan menjaga loyalitas nasabah simpanan.
Menariknya, pelemahan keyakinan konsumen Indonesia terjadi ketika keyakinan konsumen global justru menguat. Indeks keyakinan konsumen global naik dari 46,7 pada April 2026 menjadi 47,4 pada Mei 2026. Mayoritas negara mulai menunjukkan pemulihan optimisme, meskipun indeks global masih berada di bawah level 50.
Dengan demikian, pelemahan IKK Indonesia pada Mei 2026 menjadi sinyal bahwa konsumsi rumah tangga perlu dicermati lebih serius. Meski optimisme belum hilang, tekanan terhadap penghasilan, lapangan kerja, ruang menabung, dan daya beli mulai terasa. Jika tidak dikelola dengan baik, pelemahan sentimen konsumen dapat menahan laju konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

