Rupiah Perkasa Hari Ini, Tiga Faktor Ini Jadi Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id – Penguatan rupiah pada perdagangan Selasa (9/6/2026) didorong oleh melemahnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY serta respons positif pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate menjadi 5,5%.
Berdasarkan data, Rupiah menguat Rp 145 menjadi Rp 18.025. Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, terdapat tiga faktor utama yang menopang penguatan rupiah. Faktor pertama berasal dari pelemahan DXY yang dipicu meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Pemicu jatuhnya DXY adalah pernyataan dari militer Iran bahwa mereka telah menghentikan serangan balasan ke Israel,” ujar Sutopo dalam keterangannya kepada investortrust.id, Selasa (9/6/2026).
Baca Juga
IHSG Melonjak 7,57% Hari Ini, Analis Ungkap Sejumlah Faktor Penopang Ini
Selain itu, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut kedua belah pihak semakin mendekati kesepakatan gencatan senjata turut meredakan tensi di kawasan Timur Tengah.
Meredanya konflik tersebut membuat aset safe haven, seperti dolar AS yang sebelumnya diburu investor mulai dilepas. Aliran dana global kemudian kembali mengarah ke aset berisiko atau risk-on, termasuk pasar negara berkembang (emerging markets).
Dari sisi domestik, pasar juga merespons positif langkah Bank Indonesia yang secara mengejutkan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%.
Sutopo menjelaskan, setelah sempat melemah hingga Rp 18.234 per dolar AS, rupiah berbalik menguat ke kisaran Rp18.124-18.140 per dolar AS usai pengumuman kenaikan suku bunga acuan.
Baca Juga
OJK Minta Masyarakat Rasional Tanggapi Ajakan 'Sell Indonesia': Jangan Telan Mentah-mentah
“Selain karena DXY drop, pasar domestik merespon positif langkah berani BI yang melakukan kenaikan suku bunga kejutan (off-schedule) sebesar 25 bps menjadi 5,5%. Ini memberi kepastian hukum ke investor asing bahwa BI sangat serius mengawal rupiah agar tidak jatuh lebih dalam,” kata Sutopo.
Faktor ketiga yang mendukung penguatan rupiah adalah sikap wait and see pelaku pasar menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat pada Rabu (10/6/2026). Kondisi tersebut mendorong sebagian pelaku pasar melakukan aksi ambil untung terhadap dolar AS.
Inflasi AS diproyeksikan berada di kisaran 4,2%. Pelemahan DXY pada perdagangan hari ini juga mencerminkan konsolidasi pasar yang belum ingin terlalu agresif menambah kepemilikan dolar AS sebelum data inflasi resmi diumumkan.
Baca Juga
Demi Selamatkan Ekonomi RI, JK Bilang Anggaran MBG Harus Dipangkas
Pelemahan DXY turut dimanfaatkan sejumlah mata uang utama dunia untuk menguat, termasuk euro, poundsterling Inggris, dolar Australia, dan yen Jepang.
Meski demikian, Sutopo menilai penguatan rupiah saat ini masih bersifat relief rally atau penguatan yang terjadi setelah berkurangnya salah satu faktor utama kecemasan pasar, yaitu konflik geopolitik. “Namun, volatilitas diprediksi masih tinggi karena pasar global sedang menahan napas menunggu kepastian data inflasi AS besok malam,” ujar Sutopo.

