Ekonom Bank Permata: Saat Ini Fase Penyesuaian, Bukan Sinyal Krisis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede mengatakan masyarakat tidak perlu merespons perkembangan ekonomi saat ini dengan kekhawatiran berlebihan. Menurutnya, sejumlah indikator utama ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap terjaga dengan baik.
“Kondisi saat ini merupakan fase penyesuaian terhadap dinamika global, bukan sinyal krisis. Karena itu, yang lebih penting adalah menjaga optimisme yang rasional berdasarkan data dan fundamental ekonomi yang ada," ujar Josua dalam Komunitas Economic Talk bertajuk Membaca Tantangan dan Peluang Ekonomi Indonesia Saat Ini, Jumat (5/6/2026).
Selain fundamental ekonomi yang dinilai masih kuat, Josua menekankan pentingnya koordinasi antarlembaga dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi.
Josua menyebut aktivitas konsumsi masyarakat masih tumbuh, inflasi berada dalam rentang yang terkendali, sektor perbankan tetap sehat, dan APBN masih mampu menjalankan fungsinya sebagai instrumen stabilisasi ekonomi. Di tengah berbagai tekanan global, indikator-indikator tersebut menjadi penopang penting bagi stabilitas ekonomi nasional.
Konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih menunjukkan pertumbuhan yang solid. Selain itu, peningkatan konsumsi pemerintah pada awal tahun turut memberikan dukungan terhadap aktivitas ekonomi domestik.
Sementara itu sisi pasar keuangan, aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih mencatatkan kinerja positif. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa investor tetap menaruh kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Baca Juga
"Kepercayaan investor tetap terjaga karena fundamental ekonomi Indonesia masih dipandang kuat. Ini menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas ekonomi ke depan," kata dia.
Menanggapi kekhawatiran publik mengenai pelemahan rupiah, Josua menilai kondisi tersebut perlu ditempatkan dalam konteks global yang lebih luas. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) akibat tingginya suku bunga di negara maju serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik telah memberikan tekanan terhadap banyak mata uang dunia.
“Kombinasi dari semua inilah yang menyebabkan dolarnya naik dan minyaknya naik. Pelemahan rupiah saat ini bersifat global shock, dolar AS menguat terhadap semua mata uang dunia akibat kebijakan suku bunga tinggi di negara maju dan tensi geopolitik timur tengah” ujar Josua.
Karena itu, pelemahan rupiah saat ini tidak dapat diartikan sebagai indikasi bahwa ekonomi Indonesia sedang mengalami masalah struktural.
Josua juga menepis anggapan bahwa Indonesia sedang menuju krisis seperti yang terjadi pada tahun 1998. Menurutnya, struktur perekonomian Indonesia saat ini memiliki ketahanan yang jauh lebih baik dibandingkan saat krisis Asia terjadi hampir tiga dekade lalu.
Dia menambahkan bahwa depresiasi rupiah saat ini juga tidak dapat disamakan dengan kondisi saat krisis. Pada 1998, nilai tukar rupiah melemah sangat tajam dari sekitar Rp 4.000 per dolar AS menjadi lebih dari Rp 16.000 per dolar AS dalam waktu singkat.
"Kalau dibandingkan dengan 1998, situasinya sangat jauh berbeda. Saat ini instrumen kebijakan dan fondasi ekonomi kita jauh lebih kuat untuk menghadapi gejolak global," jelasnya.

