Pengamat: Ruang Fiskal Sempit dan Tata Kelola Jadi Pemicu Kejatuhan IHSG dan Rupiah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kejatuhan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai tidak hanya dipengaruhi ketidakpastian global. Pengamat Ekonomi LPEM UI Teuku Riefky menilai, faktor domestik menjadi penyebab utama memburuknya sentimen investor terhadap Indonesia.
"Faktor domestik akibat ruang fiskal yang menyempit dan pengambilan kebijakan yang tidak mendukung tata kelola yang baik dan pertumbuhan ekonomi," kata Rifki kepada investortrust.id, Jumat (5/6/2026) malam.
Menurut Rifki, pasar saat ini mencermati kemampuan pemerintah menjaga kesehatan fiskal di tengah meningkatnya kebutuhan belanja negara. Selain itu, kebijakan yang dinilai kurang memberikan kepastian bagi dunia usaha turut menekan kepercayaan investor.
Baca Juga
IHSG Ditutup Hancur Lebur 4,20%, Saham BBCA hingga BREN Turun Tajam
Sentimen negatif tersebut tercermin dari anjloknya IHSG sebesar 245 poin atau 4,20% ke level 5.594 pada perdagangan hari ini. Posisi itu menjadi level terendah indeks dalam hampir enam tahun terakhir.
Pelemahan terjadi di hampir seluruh sektor, dipimpin transportasi yang turun 5,97%, energi 5,73%, infrastruktur 5,30%, teknologi 4,88%, properti 4,02%, dan keuangan 3,72%. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BREN, DCII, BBNI, BRPT, dan TPIA menjadi penekan utama indeks.
Tekanan pasar juga diperparah aksi jual investor asing. Pada perdagangan sebelumnya, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp1,27 triliun, terutama pada saham BBCA, BBRI, dan TPIA.
Rifki pun menilai kondisi ini menunjukkan investor tidak hanya merespons faktor eksternal, tetapi juga mengevaluasi kualitas kebijakan ekonomi domestik. Karena itu, pemerintah disebut perlu memperkuat kredibilitas fiskal dan tata kelola untuk memulihkan kepercayaan pasar serta menjaga stabilitas rupiah dan pasar modal.

