Prabowo: Indonesia Bisa Jadi Ekonomi Terbesar Keempat Dunia Lampaui Inggris hingga Italia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Presiden Prabowo Subianto menyebut sejumlah pakar dan institusi dunia memproyeksikan Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat atau kelima di dunia pada 2045.
Hal itu disampaikan Kepala Negara dalam pidato penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2027 di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Baca Juga
Prabowo: RI Harus Belajar dari Saudi hingga Vietnam Cara Kelola SDA
“Saudara-saudara sekalian, pakar-pakar dunia, institusi-institusi dunia menaksir pada 2045, yang hanya 19 tahun lagi, Indonesia akan menjadi ekonomi kelima, bahkan keempat terbesar di dunia,” kata Prabowo.
Prabowo tidak pernah membayangkan Indonesia akan menjadi negara terbesar kelima dunia kelak. “Ini bukan saya mengatakan. Saya sendiri tidak pernah bermimpi, berharap. Kita hanya ingin hidup layak. Namun, mereka mengatakan kita akan menjadi negara keempat/kelima. Bayangkan kita akan menyalip Inggris, Prancis, Italia,” sambung dia.
Prabowo juga mengaku Indonesia kini semakin dihormati di dunia internasional. Ia mengatakan sejumlah negara meminta bantuan kepada Indonesia, termasuk untuk pasokan pupuk. “Saya kalau keluar negeri sebagai Presiden Indonesia, saya sangat dihormati sekarang. Sangat dihormati,” ujar dia.
Dikatakan Prabowo, Indonesia telah memberikan bantuan pupuk kepada sejumlah negara, seperti Australia, India, Brasil, dan Filipina. “Bahkan mereka sekarang banyak negara minta bantuan ke kita. Mereka minta bantuan pupuk ke kita karena produksi pupuk kita lebih. Saudara-saudara, kita diminta bantuan oleh Australia. Kita berikan. India, Brasil, Filipina,” tandas Prabowo.
Meski demikian, Prabowo menegaskan, kondisi tersebut tidak membuat Indonesia menjadi sombong. Ia menyampaikan, Indonesia harus tetap percaya diri sekaligus berani menghadapi berbagai tantangan dan penyelewengan ekonomi. “Ini jangan membuat kita sombong. Namun, ini membuat kita harus lebih percaya diri. Memang masih ada banyak kekurangan,” tegas Prabowo.
Berdasarkan catatan investortrust.id, Chief Economist Juwai IQI Shan Saeed menyatakan, Indonesia berpotensi menjadi salah satu dari tujuh negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada periode 2035 hingga 2040.
“Indonesia akan menjadi yang negara ekonomi ketujuh terbesar di dunia antara tahun 2035 hingga 2040,” kata Shan dalam diskusi media bertajuk "Menakar Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global" yang diselenggarakan Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Baca Juga
Sempat Pesimistis, Menkeu Purbaya Kini Optimistis Lihat Data Ekonomi Kuartal II-2026
Menurut dia, proyeksi tersebut didukung oleh sejumlah faktor utama, antara lain stabilitas ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi yang konsisten, disiplin fiskal, serta kredibilitas dalam pelaksanaan kebijakan. “Indonesia memiliki stabilitas ekonomi makro, stabilitas pertumbuhan, disiplin fiskal, dan eksekusi kebijakan,” papar Shan.
Seiring dengan itu, lanjut Shan, Indonesia memiliki rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) di bawah 40%, defisit anggaran di bawah 3%, serta inflasi yang terjaga di kisaran 3,5%.
Shan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam waktu dekat berada di kisaran 5% hingga 6%. “Pada awal tahun ini, saya menyampaikan bahwa PDB Indonesia akan berada di antara 5% hingga 6%,” ujar dia.
Selain itu, ia menyoroti faktor demografi Tanah Air sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia dinilai memiliki potensi pasar domestik yang kuat.
Dalam penilaiannya, kredibilitas kebijakan menjadi faktor penting dalam menarik aliran investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI). “Kredibilitas adalah kapital baru,” ucap Shan.
Ia menambahkan, Indonesia juga menjadi bagian dari kelompok negara yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan ASEAN bersama Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Di tengah ketidakpastian global, termasuk tekanan geopolitik dan fluktuasi harga energi, Shan menilai Indonesia masih berada dalam posisi yang relatif stabil dibandingkan sejumlah negara lain.
Terkait prospek jangka menengah, ia menyebut target pertumbuhan ekonomi pemerintah di kisaran 5,4% hingga 5,5% masih realistis. Bahkan, pertumbuhan di atas 6% dinilai berpotensi tercapai apabila kondisi global membaik. “Jika konflik global mereda, pertumbuhan di atas 6% bukan sesuatu yang mengejutkan,” imbuh Shan.

