Bank Indonesia 'All Out' Jaga Stabilitas Rupiah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan komitmen penuh bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui strategi intervensi yang bersifat menyeluruh atau all out. Strategi ini dilakukan secara nonstop selama 24 jam dengan menyasar pasar domestik maupun pasar asing demi meredam gejolak mata uang.
Langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia mencakup berbagai pusat keuangan utama di seluruh dunia guna memastikan nilai tukar rupiah tetap terjaga di pasar internasional. “Kami itu intervensi di pasar luar negeri, offshore NDF (Non Deliverable Forward), Hong Kong kita intervensi, Singapura kita intervensi, London kita intervensi, New York Kami intervensi, itu namanya bukan business as usual, itu all out,” kata Perry, saat rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Perry menjelaskan bahwa saat ini posisi cadangan devisa Indonesia berada pada level yang mumpuni untuk mendukung aksi intervensi dan menjaga stabilitas sistem keuangan. Cadangan devisa pemerintah saat ini mencapai US$ 148,2 miliar.
Baca Juga
Jaga Stabilitas Rupiah, Bank Indonesia Optimalkan Berbagai Instrumen Intervensi
“Itu lebih dari cukup, kami ukur kemampuan untuk intervensi,” ujar dia.
Menurut Perry, cadangan devisa tersebut merupakan hasil akumulasi saat kondisi kinerja ekspor nasional sedang tinggi serta didorong oleh derasnya arus modal masuk. Perry menyampaikan bahwa penggunaan cadangan devisa saat ini dilakukan secara terukur pada momen terjadinya tekanan aliran modal keluar atau outflow yang besar.
Secara total, arus modal asing yang masuk dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) lebih besar dibandingkan dengan arus keluar bersih dari saham dan Surat Berharga Negara secara tahun kalender atau year to date.
“Inflow year to date sebesar Rp 78,1 triliun. Sementara, outflow saham Rp 38,6 triliun, adapun SBN secara year to date tercatat outflow Rp 11,7 triliun,” kata dia.

