Kemenkeu Pastikan Narasi Ekonomi Suram adalah Hoaks dan Distorsi Informasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kementerian Keuangan menegaskan bahwa narasi yang menyatakan otoritas terkait bersikap pesimis terhadap ekonomi Indonesia adalah tidak benar atau hoaks.
Klaim yang beredar di media sosial tersebut merupakan hasil distorsi informasi yang bertujuan menciptakan keresahan publik melalui manipulasi pernyataan pejabat negara.
Dalam klarifikasinya yang disampaikan Kementerian Keuangan, Kamis (16/4/2026) muncul menyusul beredarnya konten pada akun Tiktok @asikinsajaaa yang membangun narasi bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kini bersikap pesimistis terhadap masa depan ekonomi nasional.
Konten tersebut secara sepihak merujuk pada judul pemberitaan media mengenai peringatan potensi ekonomi yang bisa suram akibat dampak konflik geopolitik dan tekanan kondisi global.
Faktanya, dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memang memberikan peringatan mengenai risiko eksternal yang sedang terjadi. Beliau menyatakan bahwa perang di Timur Tengah merupakan tantangan yang amat signifikan bagi APBN dan perekonomian nasional. "Jadi kalau kita tidak memanage itu dengan baik, kita mungkin nasibnya akan sama dengan negara sekeliling kita yang sudah mengalami mungkin perlambatan ekonomi yang signifikan," ujar Menkeu dalam pernyataan resminya.
Baca Juga
Survei Cyrus Network: Kemenkeu Jadi Instansi Berkinerja Terbaik
Meskipun kutipan tersebut digunakan oleh sejumlah media sebagai judul berita, pernyataan Menkeu pada dasarnya bersifat kondisional. Penegasan tersebut merupakan bentuk peringatan risiko yang mungkin terjadi apabila tidak dikelola dengan baik di tengah tekanan global, bukan sebuah prediksi pasti tentang kejatuhan ekonomi.
Sebaliknya, dalam konteks rapat yang sama, Menkeu justru menekankan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia hingga saat ini masih terjaga dengan baik.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menolak keras narasi pesimistis yang berlebihan dan menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tetap menunjukkan tren positif di kisaran 5 persen atau lebih.
Beliau menggarisbawahi bahwa tidak tepat bagi pihak mana pun untuk menyimpulkan bahwa ekonomi Indonesia akan mengalami kehancuran dalam waktu dekat, mengingat indikator perbaikan ekonomi terus terlihat secara konsisten.
"Hasil analisis verifikasi informasi menunjukkan bahwa konten yang beredar telah mengalami distorsi konteks melalui metode selective framing. Konten tersebut hanya menonjolkan sisi peringatan risiko secara parsial dan mengabaikan bagian pernyataan yang menegaskan optimisme serta stabilitas ekonomi," demikian pernyataan resmi Kementerian Keuangan. Fenomena ini diperkuat oleh negativity bias di media sosial yang cenderung memicu persepsi negatif publik demi menarik perhatian secara instan.
Pemerintah pun mengimbau masyarakat agar lebih selektif dalam mencerna informasi di ruang digital. Narasi pesimisme yang dimanipulasi dari pernyataan pejabat otoritas fiskal tersebut murni merupakan upaya menyesatkan yang mengabaikan data fundamental ekonomi Indonesia yang masih cukup solid di tengah ketidakpastian dunia.

