Penderita Diabetes Lebih Rentan Terhadap Bahaya DBD, Ternyata Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id - Demam berdarah (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes, yaitu Aedes aegypti. Meskipun DBD dapat memengaruhi siapa saja, penderita diabetes memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami komplikasi yang serius jika terinfeksi virus DBD.
Lantas, mengapa penderita diabetes lebih rentan terhadap bahaya DBD dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes. Yuk, simak ulasan rincinya berikut ini:
1. Sistem Kekebalan Tubuh yang Lemah
Penderita diabetes sering kali memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, yang membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka waktu yang lama dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk melawan virus dan infeksi, sehingga membuat mereka lebih rentan terhadap DBD.
Melansir dari KlikDokter, Rabu (16/10/2024), sistem kekebalan yang lemah membuat tubuh sulit untuk merespons dengan cepat dan efektif terhadap virus DBD, meningkatkan risiko perkembangan penyakit yang parah.
2. Gangguan Vaskular dan Sirkulasi
Penderita diabetes sering mengalami gangguan vaskular dan sirkulasi, yang dapat memperburuk kondisi saat terinfeksi virus DBD. Gangguan sirkulasi dapat menghambat aliran darah yang efisien ke jaringan dan organ tubuh, membuat tubuh sulit untuk memerangi infeksi dan menyembuhkan luka.
Ketika seseorang mengalami DBD, gangguan sirkulasi ini dapat menyebabkan komplikasi yang serius, seperti gagal ginjal atau kegagalan organ lainnya.
3. Resiko Hipoglikemia yang Meningkat
Penderita diabetes yang mengalami DBD memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah).
Gejala DBD seperti mual, muntah, dan diare dapat menyebabkan penurunan kadar gula darah yang tidak terkendali, yang dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat.
Hipoglikemia yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kebingungan, kelemahan, pingsan, bahkan koma, yang dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah parah akibat DBD.
4. Respon Terhadap Pengobatan yang Rendah
Penderita diabetes sering kali memiliki respons yang lebih rendah terhadap pengobatan, termasuk antibiotik dan terapi cairan intravena yang sering digunakan dalam pengobatan DBD.
Kadar gula darah yang tidak terkontrol dan gangguan sirkulasi membuat tubuh sulit untuk menyerap dan merespons pengobatan dengan efektif, sehingga meningkatkan risiko komplikasi dan kematian.
5. Komplikasi Kesehatan
Penderita diabetes sering kali memiliki komplikasi kesehatan yang sudah ada, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, neuropati, atau retinopati, yang dapat memperburuk kondisi saat terkena DBD.
Komplikasi kesehatan yang sudah ada dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi, memperburuk gejala DBD, dan meningkatkan risiko kematian.
6. Perawatan Lebih Intensif Diperlukan
Penderita diabetes yang mengalami DBD memerlukan perawatan yang lebih intensif dan pemantauan kesehatan yang lebih ketat daripada orang yang tidak menderita diabetes.
Perawatan ini mungkin meliputi pemantauan kadar gula darah yang ketat, penyesuaian dosis insulin, dan penanganan komplikasi yang mungkin timbul, seperti gagal ginjal, gagal pernapasan, atau perdarahan.
Penderita diabetes memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami komplikasi serius jika terinfeksi virus DBD.
Kombinasi antara sistem kekebalan tubuh yang lemah, gangguan vaskular, resiko hipoglikemia yang meningkat, respon terhadap pengobatan yang terpengaruh, komplikasi kesehatan yang ada, dan perlunya perawatan yang lebih intensif membuat penderita diabetes menjadi lebih rentan terhadap bahaya DBD.
Oleh karena itu, penting bagi penderita diabetes untuk menjaga kadar gula darah mereka terkontrol, mengikuti rekomendasi pengobatan mereka, dan memperhatikan gejala DBD atau infeksi lainnya untuk menghindari risiko kesehatan yang serius.

