Anak Demam Jangan Sembarang Kasih Antibiotik, Kenapa?
JAKARTA, investortrust.id - Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) mengimbau masyarakat untuk tidak sembarangan memberikan antibiotik kepada anak meski sedang demam tinggi. Pemberian antibiotik ketika anak demam tidak efektif melawan infeksi.
Pendiri Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dr Purnamawati Sujud mengatakan, demam adalah reaksi tubuh untuk melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuh. Untuk itu, demam sebenarnya dapat menjadi gejala yang baik.
"Kalau ada virus dan bakteri masuk ke tubuh, harus ada demam, begitu musuh masuk (antigen asing masuk). Jadi sistem imun tubuh bereaksi salah satunya adalah menginstrukturkan otak untuk meningkatkan suhu tubuh," ujar dalam acara Investortrust Power Talk bertajuk "Pentingnya Layanan Kesehatan yang Layak dan Tepat bagi Publik" di Jakarta, Rabu (31/7/2024).
Baca Juga
Pengamat Soroti 'Overtreatment' di Pelayanan Kesehatan Indonesia
Dokter Wati, sapaan Purnawati menekankan, sakit demam yang diderita anak tidak perlu ditakutkan dan dikhawatirkan oleh orang tua. Menurutnya, begitu virusnya pergi penyakit demamnya ikut pergi. Yang terpenting, katanya, orang tua terus melakukan observasi terhadap anak yang sedang demam.
"Kita harus observasi itu apakah anaknya sesak tidak? Dehidrasi berat tidak? Sadar tidak? Atau kejang-kejang berulang tidak?" katanya.
Selain demam, anak yang mengalami batuk dan pilek juga perlu diobservasi adanya sesak atau tidak. Menurutnya, orang tua perlu curiga jika demam anak diiringi batuk, pilek, dan sesak sebagai gejala radang paru-paru (pneumonia).
Baca Juga
Biaya Healthcare Indonesia Naik Hingga 13,6%, Tertinggi di Asia
Dalam paparannya, Dokter Wati menyatakan, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah menyatakan sakit demam hanya perlu rawat jalan dan makan yang cukup. Jika anak demam tinggi, orang tua cukup memberikan parasetamol bukan antibiotik.
"Antibiotik kan bukan obat batuk, obat batuk enggak ada, meskipun demam tinggi, antibiotik juga bukan obat demam. Jadi tolong rasional thinking-nya dijaga, enggak perlu diksasih obat antibatuk, karena batuk itu reflek untuk memproteksi paru-paru kita," katanya. (CR-5)

