Dokter Bedah Saraf Mayapada Jelaskan Cara Hindari Kerusakan Fungsi Tubuh saat Operasi Otak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Operasi otak kerap dikhawatirkan karena berisiko merusak fungsi tubuh yang sebelumnya normal, seperti kemampuan bergerak dan berbicara. Untuk meminimalkan risiko itu, dokter bedah saraf kini memanfaatkan pemantauan saraf selama operasi atau intraoperative neuromonitoring (IOM) serta teknik operasi dalam keadaan pasien sadar (awake surgery).
Penjelasan tersebut disampaikan Dokter Bedah Saraf Mayapada Hospital, Prof dr Satyanegara, Sp.BS(K), dalam diskusi media di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Baca Juga
Diakui Internasional, Mayapada Hospital Hadirkan Layanan Siaga Penanganan Strok 24 Jam
Prof Satya menjelaskan, kerumitan otak membuat tindakan operasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Meski pemeriksaan seperti MRI dan angiografi dilakukan sebelum operasi, pemahaman dokter tentang fungsi otak tetap menjadi kunci.
"Karena otak itu sangat rumit sekali. Kadang-kadang sebelum dioperasi kita melakukan pemeriksaan MRI maupun angiografi dan lain-lainnya. Tapi kita sudah mulai mengerti tentang fisiologi kita. Daerah mana yang untuk melakukan satu gerakan atau untuk bicara dan lain-lain," kata Profnya.
Menurutnya, kekhawatiran utama bagi seorang operator bedah saraf adalah munculnya masalah baru setelah pasien menjalani operasi. Ia mencontohkan kelumpuhan hingga hilangnya kemampuan berbicara.
"Jadi yang dikhawatirkan sebagai operatornya itu kalau sudah operasi, pasca operasi menjadi tambahan penyakit lain. Contohnya lumpuh dan lain-lain, atau tadinya bisa bicara malah menjadi bisu," ujarnya.
Untuk menghindari hal tersebut, tim bedah saraf bekerja sama dengan dokter spesialis saraf (neurolog) dalam penggunaan IOM.
"Untuk menghindari akibat dari tindakan yang justru merusak fungsi yang normal, maka kita berusaha bekerja sama dengan neurolog untuk IOM," kata dia.
Satya mencontohkan pasien laki-laki berusia 36 tahun yang memiliki tumor tepat di area otak pengatur gerak tubuh sisi kanan. Pada kasus seperti itu, operasi dalam kondisi pasien tertidur (dibius total) menyimpan risiko tersendiri.
"Kalau keadaan tidur, kita enggak tahu persis nanti akan menyenggol atau enggak. Kalau menyenggol, dia lumpuh nanti," ucapnya.
Dengan IOM, kata dia, risiko tersebut dapat ditekan. Namun, apabila pengalaman tim belum memadai, operasi dapat dilakukan dengan metode awake surgery.
Satya menegaskan, awake surgery tidak membuat pasien merasa kesakitan selama operasi berlangsung. Rasa nyeri, menurut dia, hanya muncul pada bagian kulit kepala dan tulang tengkorak.
"Sebetulnya operasi itu yang bikin sakit kulit dengan tengkorak saja. Kalau sudah dibuka, megang otak itu enggak ada rasa sama sekali," tuturnya.
Ia menambahkan, teknik tersebut sudah dilakukan dalam beberapa kasus di rumah sakit tempatnya bertugas.
Selain itu, Prof Satya menyinggung kasus pasien musisi yang tangannya gemetar seperti pada penyakit Parkinson. Kondisi itu, jelasnya, termasuk gerakan involunter, yakni gerakan yang tidak dapat dikontrol.
Baca Juga
Tim Dokter Urologi Mayapada Sukses Angkat Kanker Prostat di Area Sulit dengan Operasi Robotik
Ia mengenang, tindakan serupa sudah dilakukan puluhan tahun lalu oleh koleganya di luar negeri yang kemudian menjadi profesor bedah saraf fungsional. Pada tindakan semacam itu, pasien perlu dalam keadaan sadar agar dokter dapat memantau gerakan secara langsung.
"Pokoknya harus persis. Kalau tidak, bisa menjadi tidak bisa gerak atau merusak tempat lain," kata Prof. Satya.
Menurutnya, operasi dalam keadaan sadar, termasuk sambil berbincang dengan pasien, dapat membantu dokter menangani tumor yang berada dekat area-area rawan.
"Bedah fungsional ini mungkin akan membantu kita," ujarnya.
