UEFA Gelar Rapat Darurat, Lawan Rencana FIFA Jual Saham Piala Dunia
Poin Penting
|
NYON, investortrust.id – Konflik antara UEFA dan FIFA semakin memanas. UEFA memanggil seluruh 55 asosiasi anggotanya untuk mengikuti rapat darurat pekan ini guna membahas langkah bersama menghadapi rencana FIFA menjual sebagian kepemilikan kompetisi bergengsi, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta.
Rapat yang akan digelar secara virtual itu menjadi respons lanjutan atas proposal FIFA membentuk perusahaan komersial baru yang mengelola turnamen-turnamen utama. Melalui skema tersebut, investor eksternal dapat membeli saham minoritas pada perusahaan tersebut.
Langkah FIFA memicu kekhawatiran di Eropa karena dinilai membuka jalan bagi investor swasta untuk memiliki pengaruh terhadap kompetisi paling prestisius di dunia. Sebaliknya, FIFA beralasan kebijakan itu akan memperbesar dana pengembangan sepak bola global.
Baca Juga
Unik! Pengadilan Brasil Hukum Victor Gabriel Tak Boleh Main Hingga Gabriel Pec Pulih
Sebelumnya, UEFA bahkan lebih dulu mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam proposal tersebut sebelum FIFA mempublikasikannya secara lengkap. Organisasi sepak bola Eropa itu menilai rencana tersebut telah melewati batas.
Kini, rapat darurat digelar untuk menyatukan sikap seluruh anggota UEFA. Menurut laporan BBC Sport, opsi boikot terhadap kompetisi FIFA diperkirakan ikut dibahas mengingat banyak federasi mengaku tidak pernah diajak berkonsultasi sebelum proposal diumumkan.
Meski hanya mewakili 55 dari total 211 anggota FIFA, UEFA memegang kekuatan besar karena mayoritas negara elite sepak bola dunia berasal dari Eropa. Pada Piala Dunia 2026, enam dari delapan perempat finalis berasal dari UEFA, termasuk juara dunia, Spanyol. Dominasi serupa juga terlihat pada Piala Dunia 2022 dan Piala Dunia 2018.
UEFA menilai nilai komersial turnamen FIFA akan menurun drastis jika negara-negara Eropa tidak ambil bagian. Di sisi lain, FIFA tetap mempertahankan argumentasinya bahwa pembentukan perusahaan baru diperlukan untuk memperluas pendanaan pengembangan sepak bola dunia.
Badan sepak bola dunia itu menargetkan dana pengembangan meningkat menjadi US$10 miliar (Rp162 triliun) dan menyiapkan bantuan modal satu kali hingga US$20 juta (Rp324 miliar) bagi masing-masing dari 211 asosiasi anggotanya.
Namun, kalangan sepak bola Eropa khawatir masuknya investor akan mendorong FIFA memperbanyak penyelenggaraan Piala Dunia putra, Piala Dunia putri, hingga Piala Dunia Antarklub demi meningkatkan keuntungan. Jika itu terjadi, kalender sepak bola internasional diperkirakan akan semakin padat.
Seorang sumber senior sepak bola Inggris bahkan menyebut ancaman dari proposal FIFA setara dengan kontroversi European Super League pada 2021 yang sempat mengguncang dunia sepak bola sebelum akhirnya dibatalkan hanya dalam waktu 48 jam.
Hubungan UEFA dan FIFA memang telah lama memanas. Pada 2021, UEFA menolak keras gagasan penyelenggaraan Piala Dunia setiap dua tahun yang diusulkan Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, Arsene Wenger.
Ketegangan itu berlanjut pada Piala Dunia 2026 ketika Presiden UEFA Aleksander Ceferin memilih tidak menghadiri partai final sebagai bentuk protes terhadap sejumlah keputusan kontroversial FIFA, termasuk perubahan hukuman penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun sehingga dia tetap bisa tampil pada babak 16 besar.
Baca Juga
Format FIFA ASEAN Cup 2026: Dibagi 2 Divisi, Indonesia Tuan Rumah Divisi 1
