Legenda Argentina Mario Kempes Sebut Pemenang Piala Dunia Pasti Akan Dituduh Dibantu Wasit
Poin Penting
|
BUENOS AIRES, investortrust.id – Legenda Argentina Mario Kempes membantah keras anggapan La Albiceleste mendapat keuntungan dari keputusan wasit sepanjang Piala Dunia 2026. Menurut pahlawan Piala Dunia 1978, kritik seperti itu akan selalu muncul dari pihak yang gagal mengalahkan Argentina.
Perdebatan mengenai kepemimpinan wasit kembali mencuat setelah kemenangan dramatis Argentina 3-2 atas Mesir pada babak 16 besar. Sejumlah media, influencer, hingga tokoh sepak bola internasional menilai beberapa keputusan pertandingan menguntungkan juara bertahan. Tuduhan itu bahkan mengingatkan pada kontroversi serupa yang sempat muncul saat Argentina menjuarai Piala Dunia 2022.
Kempes menilai tudingan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dan merupakan reaksi yang lazim muncul setelah sebuah kekalahan. "Orang yang kalah memang selalu akan mengeluh. Kalau ada yang berpikir sebuah Piala Dunia bisa diberikan begitu saja kepada suatu tim, berarti dia benar-benar gila," ujar Kempes kepada TyC Sports.
Baca Juga
Kisah Charles de Ketelaere, Eks Atlet Tenis Bintang Baru Belgia
Mantan penyerang yang membawa Argentina menjadi juara dunia pada 1978 itu mengaku sudah terbiasa menghadapi tuduhan serupa. Menurut Kempes, generasinya juga pernah menerima berbagai tudingan ketika mengangkat trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya.
"Setelah semua yang kami alami pada 1978, saya sudah kebal terhadap tuduhan seperti ini. Tadi saya diwawancarai radio dari Kolombia dan mereka bertanya apakah benar Argentina dihadiahi gelar Piala Dunia 2022 dan sekarang kembali diuntungkan. Mau dijawab apa? Biarkan saja mereka terus berbicara. Kalau setiap tuduhan ditanggapi, kita bisa gila," kata Kempes.
Kempes juga menilai skuad Argentina saat ini berpeluang menjadi tim nasional terbaik dalam sejarah negaranya apabila berhasil mempertahankan gelar juara dunia. Dia mengakui tim juara 1978 memiliki arti penting karena membuka jalan bagi generasi-generasi berikutnya. Namun, menurutnya, mempertahankan gelar akan menjadi pencapaian yang belum pernah disamai.
"Kami tentu bersyukur mendapat pengakuan karena kami yang meletakkan pondasi pertama pada 1978. Sejak saat itu Argentina mulai mendapatkan rasa hormat, kepercayaan, dan harapan sebagai salah satu kekuatan sepak bola dunia," ujar Kempes.
"Saya selalu mengatakan bahwa setiap generasi adalah yang terbaik pada zamannya. Tapi jika tim ini berhasil menjadi juara dunia dua kali berturut-turut, maka mereka adalah tim terbaik sepanjang sejarah. Itu sudah sangat jelas. Untuk saat ini, ketiga generasi juara dunia Argentina masih sejajar," tambah Kempes.
Mantan bomber Valencia itu juga menilai persaingan di Piala Dunia 2026 berlangsung sangat ketat. Banyak tim lebih memilih bermain hati-hati dan mengutamakan pertahanan sehingga pertandingan menjadi lebih sulit diprediksi.
"Saya melihat Piala Dunia kali ini sangat tidak konsisten. Banyak tim bermain sangat berhati-hati dan bertahan dengan kemampuan yang mereka miliki. Menurut saya, kandidat terkuat menuju final adalah Spanyol, Prancis, dan Argentina, tetapi Inggris juga masih memiliki peluang," kata Kempes.
Jelang perempat final lawan Swiss, Kempes memuji karakter yang diperlihatkan Argentina ketika bangkit dari ketertinggalan dan menyingkirkan Mesir pada babak 16 besar. Dia menilai kebangkitan tersebut menunjukkan kekuatan kolektif tim, bukan hanya bergantung pada pemain bintang.
"Saya terkejut melihat cara lawan bermain menghadapi Argentina. Tidak ada yang berani bermain terbuka. Pertandingan seperti itu harus dimenangkan dengan kesiapan mental dan kesabaran. Kesalahan sekecil apa pun bisa dihukum karena lawan memang tidak memiliki banyak peluang, tapi mereka mampu memaksimalkannya," ungkap Kempes.
"Saya selalu mengatakan pemain terbaik di dunia bisa memenangkan pertandingan, tetapi gelar juara selalu dimenangkan oleh sebuah tim. Ketika Argentina tertinggal 0-2, yang bangkit bukan hanya individu, melainkan seluruh tim. Mereka tetap percaya, bekerja luar biasa, dan akhirnya mampu membalikkan keadaan. Bangkit dalam waktu 12 menit melawan tim sekuat Mesir bukanlah sesuatu yang mudah," pungkas Kempes.
Baca Juga
Pelatih Spanyol Luis de la Fuente Tegaskan Timnya Fokus ke Belgia, Bukan Prancis
