Kisah Charles de Ketelaere, Eks Atlet Tenis Bintang Baru Belgia
Poin Penting
|
INGLEWOOD, investortrust.id – Spanyol tak hanya mewaspadai nama-nama besar Belgia seperti Kevin de Bruyne, Romelu Lukaku, atau Thibaut Courtois pada perempat final Piala Dunia 2026 di SoFi Stadium, Sabtu (11/7/2026) dini hari WIB. La Furia Roja juga harus memperhatikan Charles de Ketelaere sebagai senjata baru De Rode Duivels.
Penyerang Atalanta itu tampil sebagai pahlawan ketika Belgia menghancurkan tuan rumah Amerika Serikat 4-1 pada babak 16 besar. De Ketelaere mencetak dua gol penting yang membungkam publik di Lumen Field, Seattle, sekaligus membawa Belgia lolos ke perempat final.
Penampilan impresif tersebut membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan. "Rasanya luar biasa bisa tampil seperti ini di fase gugur. Kami berhasil lolos ke babak berikutnya dan ini jelas menjadi hari terbaik dalam karier saya," ujar De Ketelaere, dilansir Marca.
Baca Juga
Pelatih Spanyol Luis de la Fuente Tegaskan Timnya Fokus ke Belgia, Bukan Prancis
Perjalanan pemain kelahiran Bruges itu menuju level tertinggi sepak bola ternyata tidak berjalan mulus. Sejak kecil, De Ketelaere dikenal sebagai atlet berbakat yang menggeluti dua cabang olahraga sekaligus, yakni sepak bola dan tenis. Pada usia 7 tahun dia bergabung dengan akademi Club Brugge. Tapi, dia tetap aktif bermain tenis hingga berhasil menjadi juara junior wilayah Flandria Barat saat berusia 10 tahun.
Meski memiliki masa depan cerah di arena tenis, De Ketelaere akhirnya memilih fokus ke sepak bola. Dia mengaku tekanan mental dalam tenis menjadi alasan utama meninggalkan olahraga tersebut.
"Di tenis, ketika kalah semuanya terasa lebih berat karena hanya ada diri sendiri. Dalam sepak bola selalu ada tim yang bisa saling mendukung ketika keadaan tidak berjalan baik," kata De Ketelaere.
De Ketelaere mengakui emosinya sempat sulit dikendalikan saat masih bermain tenis. Bahkan keluarganya sampai mendatangkan pelatih khusus untuk membantunya mengatasi frustrasi di lapangan. "Saya tidak tahan menghadapi pemain yang curang. Kalau ada bola keluar tetapi mereka mengaku masuk, saya bisa sangat marah hingga sengaja memukul bola ke mana-mana atau bahkan berhenti bermain," ungkapnya.
Keputusan beralih sepenuhnya ke sepak bola terbukti tepat. Sejak usia muda, De Ketelaere dikenal sebagai pemain dengan kemampuan teknis yang luar biasa. Mantan pelatihnya di Club Brugge U-14, Birger Vandevelde, menyebut anak asuhnya mampu menyeimbangkan sepak bola, tenis, dan pendidikan dengan hasil yang mengagumkan.
"Dia luar biasa dalam apa pun yang dikerjakan. Charles selalu menjadi yang terbaik. Yang paling mengesankan adalah kemampuannya menjalani semuanya secara bersamaan. Dia tetap bisa meraih hasil hampir sempurna di sekolah sambil bermain sepak bola dan tenis," kata Vandevelde.
Bahkan, dia memberikan pujian yang menggambarkan kualitas De Ketelaere saat masih remaja. "Dia adalah pemain dengan pergerakan terbaik yang pernah saya latih. Saya selalu membandingkannya dengan seorang atlet seluncur es karena dia seperti meluncur begitu saja di atas lapangan tanpa kesulitan," ujar Vandevelde.
Namun, karier De Ketelaere sempat nyaris terhenti akibat gangguan pertumbuhan yang memicu cedera lutut berkepanjangan. Cedera tersebut membuat koordinasi tubuhnya terganggu hingga performanya menurun drastis. Banyak pihak mulai meragukan apakah dia masih mampu berkembang menjadi pemain elite.
Cedric Vlaeminck, mantan pelatihnya di Club Brugge U-15, mengungkapkan masa-masa sulit yang dialami sang pemain. "Koordinasi tubuhnya berubah total dan keseimbangannya hilang. Karena cedera itu, dia tiba-tiba tidak lagi menjadi pemain terbaik di kelompok usianya. Ibunya sering datang sambil menangis," kenangnya.
Cedera berkepanjangan bahkan sempat membuat De Ketelaere mempertanyakan masa depannya sebagai pesepak bola. "Dia sering bertanya apakah dirinya masih bisa bermain sepak bola lagi dan apakah rasa sakit di lututnya akan benar-benar hilang suatu hari nanti," kata Carlo Van Grimberghe, pelatih Club Brugge U-16.
Setelah pulih, Club Brugge mengambil langkah tidak biasa untuk mempercepat perkembangan fisiknya. De Ketelaere yang biasa bermain sebagai gelandang sempat dipindahkan menjadi bek tengah agar lebih kuat dalam duel satu lawan satu dan memiliki karakter permainan yang lebih agresif.
Keputusan itu terbukti efektif. Dia kembali ke posisi aslinya dengan kualitas yang jauh lebih lengkap hingga akhirnya menembus tim utama Club Brugge pada usia 18 tahun. Selama membela klub Belgia tersebut, De Ketelaere tampil dalam 120 pertandingan sebelum mencatatkan rekor sebagai penjualan termahal sepanjang sejarah klub saat bergabung dengan AC Milan pada 2022.
Kariernya di Italia memang sempat tersendat karena gagal mencetak gol dalam 42 pertandingan bersama AC Milan. Tapi, kebangkitan datang setelah dipinjamkan ke Atalanta, yang kemudian mempermanenkan statusnya pada 2024. Bersama klub asal Bergamo itu, De Ketelaere kembali menemukan performa terbaik dengan 32 gol dan 31 assist dari 142 duel.
Di tim nasional, De Ketelaere melakoni debut pada November 2020. Sejak Rudi Garcia mengambil alih kursi pelatih, namanya selalu menjadi pilihan utama. Hingga kini dia telah membukukan delapan gol dan empat assist dalam 34 pertandingan internasional.
Pada Piala Dunia 2026, De Ketelaere dipercaya menjadi penyerang utama Belgia karena kondisi Romelu Lukaku yang belum sepenuhnya bugar. Setelah gagal mencetak gol pada fase grup dan babak 32 besar, dia akhirnya tampil eksplosif saat menghadapi Amerika Serikat dengan mencetak dua gol yang membawa Belgia melangkah ke perempat final.
Kini, pemain berjuluk "Pangeran Charles" itu diprediksi menjadi salah satu ancaman terbesar bagi Spanyol dalam perebutan tiket menuju semifinal Piala Dunia 2026.
Baca Juga
Sempat Cedera Lawan Maroko, Kylian Mbeppe Beberkan Kondisi Terkini
