Kisah Esmir Bajraktarevic, Keluarga Korban Pembantaian Srebrenica Main di Piala Dunia 2026
Poin Penting
|
INGLEWOOD, investortrust.id – Piala Dunia 2026 menjadi lebih dari sekadar turnamen sepak bola bagi Bosnia-Herzegovina. Di balik keberhasilan kembali ke panggung terbesar dunia, ada kisah emosional Esmir Bajraktarevic, keluarga korban tragedi pembantaian Srebrenica.
Nama Bajraktarevic menjadi sorotan setelah mengeksekusi penalti penentu kemenangan Bosnia atas Italia pada laga play-off di Stadion Bilino Polje, 31 Maret lalu. Penalti itu memastikan Bosnia merebut tiket terakhir ke Piala Dunia 2026 setelah menang dalam adu penalti dramatis melawan salah satu kekuatan terbesar Eropa.
Bagi Bajraktarevic, momen tersebut memiliki makna yang jauh melampaui sepak bola. Gelandang berusia 21 tahun yang lahir di Appleton, Wisconsin, Amerika Serikat. Dia merupakan putra pasangan pengungsi Bosnia yang selamat dari tragedi Srebrenica pada Juli 1995, salah satu pembantaian paling kelam dalam sejarah modern Eropa.
Baca Juga
Komentar Rasis Saat Belanda vs Jepang, Rafael van der Vaart Minta Maaf
Lebih dari 8.300 pria dan anak laki-laki Bosnia tewas dalam tragedi yang kemudian diakui secara hukum sebagai genosida pertama di Eropa sejak Perang Dunia II. Di antara korban terdapat kakek serta sejumlah paman Bajraktarevic yang tidak pernah sempat dikenalnya.
“Srebrenica adalah bagian dari diri saya. Saya membawanya dalam darah saya,” kata Bajraktarevic, dilansir The Orange County Register.
Ayah dan ibunya, Elmer dan Emina Bajraktarevic, lahir di Srebrenica dan kehilangan banyak anggota keluarga dalam tragedi tersebut. Keduanya berhasil melarikan diri dari Bosnia, hidup sebagai pengungsi selama dua tahun sebelum mendapatkan perlindungan di Swiss. Pada 2001, mereka pindah ke Amerika Serikat melalui program penempatan pengungsi dan menetap di Wisconsin.
Meski tumbuh di Amerika, Bajraktarevic tidak pernah jauh dari akar Bosnia. Keluarganya mempertahankan bahasa, budaya, makanan, dan kecintaan terhadap sepak bola. Salah satu kenangan masa kecilnya adalah mengenakan jersey Bosnia dengan nama idolanya, Edin Dzeko.
Bakatnya berkembang pesat hingga mendapat julukan “The Milwaukee Messi”. Pada usia 17 tahun, dia menandatangani kontrak profesional bersama klub MLS, New England Revolution. Performanya juga membawanya masuk ke berbagai kelompok usia tim nasional Amerika Serikat.
Karier Bajraktarevic terus menanjak ketika PSV Eindhoven membelinya pada Januari 2025. Pada bulan yang sama, dia sempat menjalani debut bersama tim nasional senior Amerika Serikat. Tapi, beberapa bulan kemudian, dia memutuskan mengikuti kata hati dan mengajukan perpindahan asosiasi untuk membela Bosnia-Herzegovina.
“Keputusan itu sangat mudah bagi saya. Ini adalah sesuatu yang saya inginkan sejak kecil. Prosesnya memang memakan waktu, tetapi saya sangat bahagia bisa melakukannya,” ujar Bajraktarevic.
Keputusan tersebut terbukti menjadi titik penting dalam perjalanan Bosnia. Setelah mencetak gol pertama untuk Bosnia saat kualifikasi Piala Dunia melawan Rumania, Bajraktarevic kembali menjadi pahlawan ketika mengeksekusi penalti kemenangan atas Italia yang mengantar negaranya ke Piala Dunia 2026.
Sayang, saat turnamen digelar di Amerika Utara, Bosnia masih harus membuktikan kualitas dan keberuntungannya. Setelah imbang 1-1 dengan Kanada, mereka harus mengakui keunggulan Swiss 1-4. Hasil itu membuat Bosnia wajib menang pada pertandingan terakhir melawan Qatar jika ingin lolos ke fase knock-out.
Baca Juga
Protes Thomas Tuchel Direspons, FIFA Ubah Aturan Fotografer Piala Dunia 2026
