Wow! Bikin Spanyol Frustrasi, Followers Instagram Vozinha Naik Dari 50 Ribu ke 4,5 Juta
Poin Penting
|
ATLANTA, investortrust.id – Kiper Cape Verde Vozinha menjadi sorotan dunia setelah tampil luar biasa dan membawa negaranya menahan imbang Spanyol 0-0 pada laga perdana Grup H Piala Dunia 2026. Bahkan, Instagram kiper berusia 40 tahun itu melonjak dari 50 ribu ke 4,5 juta. Wow!
Bagi banyak orang, nama Vozinha mungkin terdengar asing sebelum turnamen dimulai. Tapi, hanya dalam 90 menit di Mercedez Benz Stadium, Atlanta, Selasa (16/6/2026) dini hari WIB., penjaga gawang veteran itu berubah menjadi salah satu cerita paling inspiratif di Piala Dunia 2026.
Menghadapi salah satu favorit juara, Vozinha tampil nyaris sempurna. Dia menghadapi 27 tembakan dari para pemain Spanyol, melakukan tujuh penyelamatan penting, dan menjaga gawangnya tetap perawan hingga peluit panjang berbunyi. Penampilannya membantu Cape Verde meraih poin pertama dalam sejarah penampilan mereka di Piala Dunia.
Baca Juga
Dilarang Panik! Ditahan Cape Verde di Piala Dunia 2026, Spanyol Tetap Tenang
Emosi pun tak terbendung seusai pertandingan. Vozinha terlihat menangis di lapangan setelah menyadari besarnya pencapaian yang baru saja diraih negaranya.
“Dia sangat emosional. Dia adalah pemain berpengalaman yang telah berjuang selama bertahun-tahun untuk bisa berada di panggung sebesar ini. Air mata itu adalah simbol ketangguhan,” kata pelatih Cape Verde, Bubista, dilansir ESPN Brazil.
Lahir di Mindelo, kota kecil berpenduduk sekitar 70 ribu jiwa di Cape Verde, Vozinha sebenarnya tidak ditakdirkan menjadi penjaga gawang. Sang ayah bahkan ingin memberinya nama Valdano, terinspirasi legenda Argentina Jorge Valdano. Tapi, nama tersebut ditolak oleh otoritas setempat.
Akhirnya dia diberi nama Vozinha, yang berarti “Suara Kecil”. Ironisnya, pria yang dijuluki Suara Kecil itu kini menggema ke seluruh dunia.
Perjalanan kariernya juga jauh dari kata mudah. Tidak seperti kebanyakan pesepak bola elite yang bersinar sejak muda, Vozinha baru menjadi pemain profesional pada usia 25 tahun ketika membela klub lokal Batuque pada 2007. Saat itu, bintang Spanyol Lamine Yamal bahkan baru saja lahir.
Kariernya kemudian membawanya berkelana ke berbagai negara, mulai dari Portugal, Angola, Moldova, Siprus, hingga Slovakia. Dia juga pernah meraih satu-satunya trofi dalam karier profesionalnya, yakni Piala Siprus 2018/2019 bersama AEL Limassol.
Dua tahun terakhir, Vozinha memperkuat klub divisi kedua Portugal, Chaves. Di level klub, kariernya mungkin biasa saja. Namun, bersama tim nasional Cape Verde, dia menjelma menjadi sosok penting.
Selama kualifikasi Piala Dunia 2026, Vozinha mencatat tujuh clean sheet dalam 10 pertandingan. Statistik itu seolah menjadi pertanda bahwa Spanyol akan menghadapi malam yang sulit. “Saya akan mengatakan kepada diri saya yang berusia 18 tahun untuk bangga pada dirinya sendiri,” ujar Vozinha seusai pertandingan.
“Saya bekerja sepanjang hidup untuk momen ini. Saya berusia 40 tahun. Saya pernah berpikir untuk berhenti bermain, tetapi saya bertahan karena mimpi ini. Penghargaan pemain terbaik pertandingan memang untuk saya, tetapi tanpa rekan-rekan setim, semua ini tidak mungkin terjadi. Saya akan terus bekerja untuk Cape Verde dan rakyat kami,” lanjut Vozinha.
Ada kisah mengharukan di balik air mata tersebut. Vozinha mengungkapkan bahwa dia teringat kepada kakek dan neneknya yang telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. “Saya menangis karena dibesarkan oleh kakek dan nenek saya. Sayangnya mereka sudah tiada. Mereka adalah segalanya bagi hidup saya,” ungkapnya.
Vozinha juga sedih karena sang ibu gagal datang ke Amerika Serikat akibat persoalan visa. “Ibu saya tidak bisa hadir karena masalah visa. Kami tidak sempat mengurus semuanya tepat waktu. Saya sangat ingin dia ada di sini, tetapi saya tetap bahagia,” katanya.
Penampilan heroik Vozinha juga memicu fenomena di media sosial. Akun Instagram miliknya yang semula hanya memiliki puluhan ribu pengikut mendadak meledak setelah pertandingan berakhir. Dalam hitungan jam, jutaan orang mulai mengikuti kiper veteran tersebut.
Bagi Cape Verde, hasil imbang melawan Spanyol terasa seperti kemenangan. Dan, bagi Vozinha, malam di Atlanta menjadi bukti bahwa mimpi tidak mengenal batas usia.
Baca Juga
Ayyoub Bouaddi, Bintang Muda Maroko yang Memporakporandakan Pertahanan Brasil
