Pembalap Red Bull KTM Pedro Acosta Tak Sabar Gunakan Motor 850cc di MotoGP
Poin Penting
|
MADRID, investortrust.id – Pembalap muda Red Bull KTM Pedro Acosta mengaku penasaran dengan performa motor MotoGP generasi baru yang akan mulai digunakan pada musim 2027, yaitu dengan mesin 850cc.
Regulasi anyar akan menurunkan kapasitas mesin dari 1000cc menjadi 850cc. Perubahan ini diperkirakan akan memangkas kecepatan puncak. Di sisi lain bobot minimum motor juga ikut dikurangi dari 157 kg menjadi 153 kg. Kombinasi tersebut berpotensi meningkatkan kecepatan saat melibas tikungan.
Selain itu, sejumlah perubahan teknis lain seperti pengurangan aerodinamika, penggunaan ban dari Pirelli, serta penghapusan perangkat pengatur ketinggian motor (ride-height device) masih menyisakan tanda tanya terkait dampaknya di lintasan.
Baca Juga
Pembalap Aprilia Jorge Martin Senang Ada Jeda MotoGP Hampir Sebulan
“Saya rasa yang berbahaya saat ini bukan karena kami melaju hingga 360 km/jam di lintasan lurus. Masalahnya adalah kami jauh lebih cepat di tikungan dibanding tahun lalu dan beberapa tahun sebelumnya. Itu yang membuat olahraga ini berbahaya,” ujar Acosta, dilansir Crash.net.
Acosta juga mengaku belum bisa memprediksi secara pasti bagaimana kondisi musim depan, terutama dengan dihapusnya perangkat belakang pada motor. “Saya belum tahu seperti apa nantinya. Dengan tidak adanya perangkat belakang musim depan, saya justru semakin penasaran,” tambahnya.
Di sisi lain, Acosta menyoroti padatnya kalender balap MotoGP yang dinilai berdampak besar terhadap panjangnya karier pembalap. Setelah sempat memiliki 19 seri sebelum era pandemi, jumlah balapan meningkat menjadi 20 pada 2022 dan mencapai 22 seri pada 2025.
Sejak 2023, MotoGP juga menambahkan Sprint Race pada setiap akhir pekan balapan, sehingga total ada 44 balapan dalam satu musim. Menurut Acosta, bukan hanya jumlah seri yang menjadi persoalan, melainkan intensitas setiap akhir pekan yang semakin tinggi.
“Yang saya rasa kurang baik dari kalender sekarang adalah karier pembalap akan menjadi lebih pendek. Tidak mungkin menjalani 22 akhir pekan dengan sesi penting setiap hari, mulai dari sesi latihan, kualifikasi, Sprint Race, hingga balapan utama,” ujar Acosta.
Acosta menilai para pembalap tidak lagi memiliki waktu untuk membangun ritme secara bertahap karena setiap sesi memiliki tekanan besar. “Tingkat stres yang harus kami tanggung akan mencapai batasnya,” katanya.
Namun, Acosta tetap menilai format Sprint Race dan durasi sesi yang lebih singkat sebagai langkah positif. Dia mengingatkan bahwa risiko tinggi di setiap hari balapan dapat meningkatkan potensi cedera.
“Kalau ingin menjaga karier tetap panjang, Anda tidak bisa mengambil risiko setiap hari. Semakin tinggi risikonya, semakin besar pula kemungkinan mengalami cedera,” pungkas Acosta.
Baca Juga
Gagal Total di MotoGP Amerika Serikat, Marc Marquez Jelaskan Penyebabnya

