Rebutan Kargo Minyak Global Picu Lonjakan Harga Fisik Hingga US$ 140 per Barel!
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Di tengah perhatian investor yang tertuju pada rapuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, sebuah perlombaan sengit untuk mengamankan kargo minyak sedang berlangsung di pasar fisik global. Para pedagang dan pemilik kilang kini bergegas mencari pasokan yang tersedia segera guna menutupi celah distribusi yang ditinggalkan oleh konflik di Timur Tengah.
Dilaporkan Bloomberg, di Pasar North Sea, yang merupakan pasar minyak fisik terpenting dunia, sempat mencatatkan masuknya 40 penawaran beli kargo pada pekan lalu, namun hanya empat yang berhasil dipenuhi oleh penjual, dengan harga transaksi melonjak drastis di atas US$ 140 per barel.
Fenomena kepanikan ini menunjukkan skala kekurangan pasokan minyak mentah yang mulai terasa nyata seiring terhentinya aliran energi dari kawasan Teluk.
Neil Crosby, Kepala Riset di Sparta Commodities AS, menyatakan bahwa situasi saat ini mencerminkan kelangkaan yang akut.
Baca Juga
Indonesia Punya ‘Natural Hedge’, Krisis Harga Minyak Jadi Peluang Emas
“Sederhananya, terjadi kekurangan minyak mentah. (Pasar) Brent fisik sedang kacau dan kenaikannya sudah terlalu jauh. Dengan laju seperti ini, kilang-kilang di Eropa bahkan harus menurunkan tingkat pemanfaatan mereka, mungkin paling cepat bulan depan,” ujarnya seperti dikutip Bloomberg, Minggu (12/4/2026).
Kondisi pasar fisik ini sangat kontras dengan pasar berjangka (futures), di mana harga untuk pengiriman Juni justru turun 13% ke level US$ 95 per barel karena optimisme terhadap gencatan senjata.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa celah aliran energi global selama 40 hari akibat konflik tersebut mulai terekspos.
Sultan al Jaber, CEO Abu Dhabi National Oil Co (ADNOC), dalam unggahannya menegaskan bahwa kargo terakhir yang melewati Selat Hormuz sebelum konflik kini baru tiba di tujuan, dan saat inilah pasar perdagangan kertas bertemu dengan kenyataan fisik yang keras.
“Kargo terakhir yang melewati Selat Hormuz sebelum konflik kini mulai tiba di tujuan. Di sinilah pasar kertas bertemu realitas fisik, dan celah 40 hari dalam aliran energi global benar-benar terlihat,” kata al Jaber.
Akibat ketergantungan yang tinggi pada Selat Hormuz, negara-negara Asia kini memperluas jangkauan pencarian pasokan hingga ke Amerika Serikat, Kanada, dan Venezuela.
Para pemilik kilang bahkan rela membayar premi tinggi demi kecepatan pengiriman, termasuk menggunakan kapal yang lebih kecil agar dapat melewati Terusan Panama lebih cepat.
Namun, para analis memperingatkan bahwa jika pasar berjangka tidak segera menyesuaikan diri dengan realitas fisik, ekspor Amerika Serikat yang terus melonjak dapat menyebabkan kelangkaan pasokan bagi kilang-kilang domestik di negara tersebut.

