Sun Tzu: Perang Panjang Trump Adalah Bukti Kegagalan Strategi
Oleh: Primus Dorimulu
“Perang yang terlalu panjang selalu dimulai dari strategi yang salah”.
INVESTORTRUST — Perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 semakin menunjukkan satu pola klasik dalam sejarah konflik: ketika strategi gagal, perang menjadi panjang dan ketika perang menjadi panjang, semua pihak pada akhirnya merugi.
Eskalasi terbaru memperlihatkan bagaimana konflik ini terus menjauh dari prinsip dasar strategi militer yang telah diwariskan lebih dari dua milenium lalu oleh Sun Tzu dalam The Art of War. Dalam ajarannya, Sun Tzu menegaskan bahwa perang harus menjadi opsi terakhir, dan jika tak terhindarkan, harus berlangsung cepat, efisien, serta meminimalkan korban. Namun fakta di lapangan menunjukkan arah sebaliknya.
Mengutip laporan The New York Times yang terbit 6 April 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam akan menghancurkan total infrastruktur Iran —mulai dari jembatan hingga pembangkit listrik— jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz sebelum tenggat Selasa malam waktu AS. Ancaman ini disampaikan di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung namun belum membuahkan hasil konkret.
Sementara itu, laporan Al Jazeera pada 7 April 2026 mencatat bahwa serangan udara dan rudal terus berlanjut di berbagai wilayah. Sedikitnya 34 orang dilaporkan tewas akibat serangan gabungan AS-Israel pada Senin (6/4/2026), sementara Iran membalas dengan peluncuran rudal dan drone ke berbagai target di kawasan, termasuk Israel dan negara-negara Teluk.
Di saat yang sama, Selat Hormuz —jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia— menjadi pusat tekanan geopolitik. Ancaman penutupan jalur ini telah mendorong lonjakan harga energi global dan meningkatkan risiko inflasi di banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam perspektif Sun Tzu, kondisi ini mencerminkan kegagalan mendasar dalam strategi.
Dalam The Art of War, yang diperkirakan ditulis pada abad ke-5 SM dan diterjemahkan secara luas, antara lain oleh Lionel Giles (1910), Sun Tzu menegaskan bahwa: “Tidak ada satu pun negara yang diuntungkan dari perang berkepanjangan.” Perang yang terlalu lama hanya akan menguras sumber daya, melemahkan ekonomi, dan menurunkan daya tahan negara itu sendiri.
Lebih jauh, Sun Tzu menekankan bahwa kemenangan tertinggi bukanlah menghancurkan musuh di medan perang, melainkan menaklukkan mereka tanpa harus bertempur: “The supreme art of war is to subdue the enemy without fighting.”
Namun, dalam konflik saat ini, pendekatan yang dominan justru sebaliknya. Serangan terhadap infrastruktur vital, perluasan target militer, dan eskalasi lintas kawasan menunjukkan bahwa perang telah menjadi instrumen utama, bukan pilihan terakhir.
Upaya diplomasi memang masih berjalan. Iran dilaporkan mengajukan proposal damai melalui mediator Pakistan, namun ditolak oleh pihak AS karena dianggap tidak memenuhi syarat. Di sisi lain, ancaman militer terus meningkat, menciptakan lingkaran eskalasi yang sulit diputus.
Sun Tzu juga mengingatkan bahwa seluruh perang didasarkan pada tipu daya (deception), serta pentingnya mengenal diri sendiri dan musuh. Tanpa pemahaman ini, bahkan kekuatan militer terbesar pun dapat terjebak dalam konflik yang berkepanjangan tanpa arah yang jelas.
Dalam konteks modern, perang ini tidak lagi sekadar konflik militer, tetapi telah berubah menjadi perang energi dan ekonomi global. Lonjakan harga minyak, gangguan rantai pasok, hingga tekanan terhadap fiskal negara-negara berkembang menjadi konsekuensi langsung dari konflik yang tidak terkendali.
Bagi Indonesia, dampaknya tidak kecil. Kenaikan harga energi global berpotensi memperlebar beban subsidi, menekan APBN, serta mengganggu stabilitas nilai tukar dan inflasi domestik. Dalam konteksini, ajaran Sun Tzu kembali menemukan relevansinya.
Perang bukanlah bukti kekuatan, melainkan sering kali cermin dari kegagalan strategi. Ketika konflik berlangsung terlalu lama, itu bukan karena tidak ada yang menang, melainkan karena semua pihak gagal menemukan cara untuk mengakhiri.
“Dan ketika perang tak kunjung berakhir, itu bukan karena musuh belum kalah, melainkan karena strategi tak pernah benar.”

