Israel Perluas Serangan ke Elite Iran, Trump Desak Sekutu “Tuntaskan” Konflik
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kian memasuki fase eskalasi terbuka setelah serangan militer yang intensif tidak hanya menyasar infrastruktur, tetapi juga langsung menargetkan elite keamanan Iran. Dalam perkembangan terbaru pada Rabu (18/03/2026), Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan keras dengan mempertanyakan apakah sekutu-sekutunya siap “menyelesaikan apa yang tersisa di Iran,” sekaligus mengkritik negara-negara yang dinilainya tidak responsif terhadap konflik tersebut.
Seperti dikutip dari Reuters, eskalasi signifikan terjadi setelah Israel mengonfirmasi telah menewaskan dua tokoh penting Iran, yakni pejabat keamanan senior Ali Larijani dan komandan Garda Revolusi Gholamreza Soleimani dalam serangan presisi yang dilakukan sebelumnya. Kedua figur tersebut dikenal sebagai bagian dari lingkaran inti kekuasaan Iran dan berperan penting dalam menjaga stabilitas internal, termasuk dalam menghadapi gelombang protes domestik.
Sebagai respons, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta infrastruktur strategis di kawasan Teluk. Penggunaan rudal multi-hulu ledak menunjukkan upaya untuk menembus sistem pertahanan udara Israel dan memaksimalkan dampak serangan. Konflik pun meluas ke berbagai negara, dengan Lebanon dan Irak semakin terseret dalam pusaran perang.
Di Lebanon, dilansir Aljazeera, serangan Israel meluas hingga ke pusat Beirut dan menargetkan kawasan permukiman, menyebabkan korban sipil. Milisi Hizbullah juga meningkatkan serangan roket ke wilayah utara Israel, memperkuat karakter konflik sebagai perang multi-front. Pasukan Israel dilaporkan kembali melancarkan serangan ke wilayah Bekaa Valley, termasuk kota Sahmar dan Yahmar, dalam operasi lanjutan pada hari yang sama.
Baca Juga
Ketegangan regional semakin meningkat ketika sejumlah negara Teluk melaporkan intersepsi serangan Iran. Kuwait seperti dilansir CNN menyatakan berhasil menembak jatuh tujuh drone pada dini hari, sementara Qatar mengonfirmasi berhasil mencegat rudal yang mengarah ke wilayahnya. Arab Saudi juga dilaporkan mencegat rudal balistik di dekat pangkalan udara yang menampung pasukan AS, menunjukkan meluasnya risiko konflik ke zona strategis energi dan militer.
Di Irak, serangan drone menargetkan kompleks Kedutaan Besar AS di Baghdad hingga memicu kebakaran di dalam area tersebut, menandai meningkatnya ancaman langsung terhadap kepentingan Amerika di kawasan. Sementara itu, laporan Reuters menyebutkan bahwa sejumlah fasilitas energi Iran, termasuk tangki gas di kilang Asaluyeh, turut terkena dampak serangan, meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Dampak kemanusiaan dari konflik ini semakin memburuk. Ribuan orang dilaporkan tewas atau terluka, sementara lebih dari satu juta orang terpaksa mengungsi, terutama di Lebanon. Sistem kesehatan di sejumlah wilayah dilaporkan berada di bawah tekanan berat, dan akses terhadap layanan dasar semakin terbatas. Kekhawatiran juga muncul terkait keselamatan nuklir setelah adanya laporan proyektil menghantam kompleks nuklir Bushehr di Iran, meskipun belum ada konfirmasi kerusakan besar.
Baca Juga
Israel Klaim Bunuh Menteri Intelijen Iran Esmail Khatib dalam Serangan di Teheran
Di tengah situasi tersebut, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memperingatkan bahwa operasi militer akan terus berlanjut dan bahkan bisa menghadirkan “kejutan-kejutan baru” dalam perang dua front—melawan Iran dan Hizbullah di Lebanon. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa konflik masih jauh dari mereda dan berpotensi memasuki fase yang lebih luas dan kompleks.
Dengan eskalasi yang terus meningkat, konflik Iran–Israel kini tidak lagi bersifat terbatas, melainkan telah berkembang menjadi krisis regional yang berdampak pada stabilitas geopolitik, keamanan energi global, dan keseimbangan ekonomi dunia.

