AS Izinkan Pembelian Sementara Minyak Rusia yang Sudah Berada di Laut, Pasar Energi Global Berusaha Distabilkan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Pemerintah Amerika Serikat memberikan izin sementara untuk pembelian minyak Rusia yang sudah berada di laut atau dalam perjalanan pengiriman. Kebijakan ini diambil sebagai langkah darurat untuk menstabilkan pasar energi global yang bergejolak akibat perang Iran dan penutupan Selat Hormuz.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan langkah yang sangat terbatas dan bersifat jangka pendek. Izin itu hanya berlaku untuk minyak Rusia yang sudah berada dalam perjalanan pengiriman sebelum kebijakan diberlakukan, sehingga tidak dimaksudkan untuk membuka kembali perdagangan minyak Rusia secara luas.
Menurut data yang dihimpun otoritas Amerika Serikat, saat ini terdapat sekitar 124 juta barel minyak asal Rusia yang berada di laut dan tersebar di sekitar 30 lokasi di seluruh dunia. Volume tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan pasokan global selama lima hingga enam hari.
Bessent menyebut lonjakan harga minyak yang terjadi saat ini sebagai gangguan sementara akibat ketegangan geopolitik. “Kenaikan harga minyak ini adalah gangguan jangka pendek yang bersifat sementara. Dalam jangka panjang justru akan memberikan manfaat besar bagi perekonomian Amerika Serikat,” kata Bessent dalam pernyataannya di platform X.
Harga minyak global memang berfluktuasi tajam sejak konflik Iran meningkat. Pada awal pekan ini, harga minyak sempat mendekati US$120 per barel sebelum akhirnya turun kembali. Pada penutupan perdagangan Kamis, Brent crude masih bertahan di atas US$100 per barel, level tertinggi sejak 2022.
Baca Juga
Serangan Iran ke Teluk Picu Gangguan Pasokan Minyak Terbesar dalam Sejarah
Lonjakan harga tersebut dipicu oleh pernyataan pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai alat tekanan terhadap negara-negara yang dianggap sebagai musuh Teheran. Selat strategis tersebut merupakan jalur perdagangan energi paling vital di dunia, karena sekitar 20% minyak mentah yang diperdagangkan melalui laut melewati kawasan ini.
Di tengah volatilitas pasar energi dan kejatuhan pasar saham global, komentator pasar CNBC Jim Cramer mengingatkan investor agar tidak bereaksi secara emosional dengan menjual seluruh portofolio sahamnya.
Menurut Cramer, kepanikan investor justru berpotensi membuat mereka kehilangan peluang ketika pasar kembali pulih setelah konflik mereda. “Di hampir semua kondisi, tetap berada di pasar adalah keputusan yang lebih rasional karena memberi peluang untuk memulihkan kerugian ketika perdamaian tercapai,” kata Cramer dalam program Mad Money.
Baca Juga
Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Panas, Minyak Brent Tembus US$ 100 Lagi
Ia menambahkan bahwa meskipun pasar saham mengalami tekanan—dengan S&P 500 turun sekitar 1,5% dan Nasdaq melemah 1,8%—indeks tersebut sebenarnya masih relatif dekat dengan level tertinggi sebelumnya. S&P 500 saat ini hanya sekitar 4,7% di bawah rekor tertingginya, jauh dari kondisi koreksi pasar yang biasanya ditandai penurunan minimal 10%.
Cramer juga menilai bahwa Presiden Donald Trump kemungkinan tidak akan membiarkan pasar saham jatuh terlalu dalam. Secara historis, Trump sering menjadikan kinerja pasar saham sebagai indikator keberhasilan kebijakan ekonominya, sehingga pemerintah AS memiliki insentif kuat untuk mencari jalan keluar yang lebih cepat terhadap konflik tersebut.
“Cepat atau lambat perang ini akan berakhir. Jika investor keluar sepenuhnya dari pasar sekarang, ada risiko besar mereka tidak ikut menikmati rebound ketika gencatan senjata tercapai,” ujar Cramer.
Dengan ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, pasar energi dan pasar saham global kini berada pada fase yang sangat sensitif. Stabilitas harga minyak, keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta perkembangan diplomasi antara negara-negara yang terlibat konflik akan menjadi faktor penentu arah pasar ke depan.

