Legislator: Rencana Pengiriman 8.000 Personel TNI ke Gaza Harus Dibahas dengan Komisi I DPR
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal menilai rencana pengiriman 8.000 personel TNI ke wilayah Gaza bukanlah perkara sepele. Soalnya, Gaza merupakan daerah konflik aktif yang sangat berbahaya bagi keselamatan prajurit TNI. Rencana tersebut seyogianya dibahas terlebih dahulu dengan Komisi I DPR.
"Pengiriman pasukan ke Gaza membutuhkan kesiapan khusus, baik dari sisi strategi, perlengkapan, maupun mitigasi risiko. Potensi gesekan dengan pasukan perlawanan di Gaza sangat besar dan tidak bisa dianggap ringan," kata Rizal dalam keterangannya, Sabtu (21/2/2026).
Indonesia ditunjuk sebagai Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional atau Stabilization Force (ISF) di Gaza. Pengiriman pasukan disebut sebagai bagian dari misi itu.
Baca Juga
Indonesia Jadi Wakil Komandan ISF, Berperan Jaga Stabilisasi dan Rekonstruksi Gaza
Syamsu Rizal menegaskan, pengiriman pasukan harus melalui pembahasan matang dan transparan. Komisi I DPR RI perlu menggelar pertemuan khusus dengan Kementerian Pertahanan guna membahas secara detail rencana pengiriman pasukan tersebut.
"Pertemuan ini penting agar publik mengetahui secara jelas tujuan, mandat, aturan pelibatan (rules of engagement), serta skema perlindungan bagi prajurit kita. Jangan sampai ada keputusan strategis yang minim penjelasan kepada rakyat," ucap dia.
Politikus PKB itu juga menyoroti pernyataan Komandan ISF, Mayor Jenderal Jasper Jeffers yang menyebutkan ISF akan dikerahkan ke lima sektor, dengan masing-masing sektor ditempatkan satu brigade.
Jeffers menyatakan, dalam jangka pendek, pasukan ISF akan difokuskan ke sektor Rafah bersamaan dengan pelaksanaan pelatihan kepolisian. Dalam jangka panjang, ISF menargetkan pembentukan 12 ribu personel kepolisian serta 20 ribu tentara ISF.
Baca Juga
Indonesia Tegaskan Peran di ISF Gaza Fokus Kemanusiaan, Bukan Misi Tempur
Menurut Syamsu Rizal, rencana tersebut menimbulkan pertanyaan serius terkait kedaulatan rakyat Gaza. "Kalau melihat rencana itu, ISF akan betul-betul menguasai dan mengendalikan Gaza. Pertanyaannya, di mana kedaulatan rakyat Gaza? Apakah ini bukan bentuk penjajahan baru?!" tandas politikus yang akrab dipanggil Deng Ical tersebut.
Dia mengungkapkan, sumber utama konflik dan kehancuran di Gaza adalah agresi Israel yang terus berlangsung. Seharusnya ISF memastikan Israel tidak lagi menyerang dan menjajah Gaza maupun Palestina secara keseluruhan.
"Mandat pasukan stabilisasi adalah menjaga perdamaian, bukan mengambil alih kendali wilayah. Biarlah warga Gaza yang mengatur wilayah mereka sendiri," tegas dia.

