Inflasi AS Januari Lebih Rendah dari Perkiraan, Harapan Pemangkasan Suku Bunga Menguat
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Inflasi di Amerika Serikat cenderung mereda. Kenaikan harga barang dan biaya jasa secara tahunan lebih lambat dari perkiraan.
Indeks harga konsumen (CPI) untuk Januari meningkat 2,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, turun 0,3 poin persentase dari bulan sebelumnya, menurut laporan Bureau of Labor Statistics (BLS) pada Jumat (13/2/2026). Angka tersebut menurunkan tingkat inflasi ke posisi yang sama seperti bulan setelah Presiden Donald Trump pada April 2025 mengumumkan tarif agresif atas impor AS.
Baca Juga
Inflasi AS Desember Melandai, Trump Kembali Desak Pemangkasan Suku Bunga
Tidak termasuk makanan dan energi, CPI inti naik 2,5%, level terendah sejak April 2021. Ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan laju tahunan 2,5% untuk kedua indikator tersebut.
Secara bulanan, indeks keseluruhan naik 0,2% setelah penyesuaian musiman, sementara CPI inti naik 0,3%. Perkiraan sebelumnya adalah 0,3% untuk keduanya.
Meski kategori perumahan menyumbang sebagian besar kenaikan CPI, biaya tempat tinggal hanya naik 0,2% pada bulan Januari, sehingga kenaikan tahunan turun menjadi 3%. Perumahan menyumbang lebih dari sepertiga CPI.
Harga pangan naik 0,2% karena lima dari enam kelompok utama bahan makanan mencatat kenaikan. Energi turun 1,5%, sementara harga kendaraan juga relatif tenang, dengan mobil baru naik hanya 0,1% dan mobil serta truk bekas turun 1,8%. Tarif penerbangan melonjak 6,5%, sementara harga telur turun 7% dan kini lebih rendah 34% dibandingkan setahun lalu setelah lonjakan tajam sebelumnya.
“Ini adalah kabar baik untuk inflasi,” ujar Heather Long, kepala ekonom di Navy Federal Credit Union, seperti dikutip CNBC. “Inflasi turun ke level terendah sejak Mei dan bagian penting seperti makanan, bensin, dan sewa mulai mendingin. Ini akan memberikan kelegaan yang sangat dibutuhkan bagi keluarga kelas menengah dan berpenghasilan moderat,” tambahnya.
Angka yang lebih rendah dari perkiraan ini membantu meningkatkan prospek pemangkasan suku bunga Federal Reserve di pasar berjangka. Pelaku pasar menaikkan peluang penurunan suku bunga pada Juni menjadi sekitar 83%, menurut alat FedWatch dari CME Group.
Laporan ini menambah gambaran ekonomi yang beragam.
Secara makro, AS mengatasi awal yang lambat pada 2025 dan terus melaju, dengan pertumbuhan kuartal keempat diperkirakan mencapai 3,7%, menurut pembaruan terbaru dari Federal Reserve Bank of Atlanta melalui pelacak data GDPNow.
Namun, inflasi masih bertahan di atas target tahunan 2% yang ditetapkan The Fed meski harga energi relatif terkendali. Pejabat The Fed juga terus menyuarakan kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja, yang hanya menambah rata-rata 15.000 pekerjaan per bulan tahun lalu. Belanja konsumen cukup kuat tahun lalu, meski secara tak terduga stagnan menjelang musim liburan.
Para ekonom sebelumnya memperkirakan tarif Trump akan memicu inflasi, tetapi dampaknya lebih banyak terbatas pada barang-barang tertentu dibandingkan efek luas.
“Tarif jelas berdampak pada produk seperti furnitur dan peralatan rumah tangga, tetapi bagian utama dalam anggaran banyak keluarga justru mulai mendingin,” tambah Long.
Dengan sinyal ekonomi yang saling bertentangan, The Fed secara luas diperkirakan akan menahan suku bunga hingga Juni setelah siklus pemangkasan yang mencakup tiga kali penurunan pada paruh akhir 2025. Bank sentral menghadapi dinamika baru tahun ini, dengan rotasi presiden regional yang cenderung lebih agresif dalam memerangi inflasi serta penunjukan ketua baru, Kevin Warsh, yang kemungkinan akan mendorong suku bunga lebih rendah.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC pada Jumat bahwa ia melihat adanya “ledakan investasi” yang menjadi pendorong pertumbuhan sementara inflasi kembali ke target The Fed pada pertengahan tahun ini. “Kita harus meninggalkan gagasan bahwa pertumbuhan otomatis harus ditekan, karena pertumbuhan itu sendiri tidak bersifat inflasioner. Inflasi terjadi ketika pertumbuhan merembes ke area dengan pasokan yang tidak mencukupi, dan semua yang dilakukan pemerintahan ini adalah menciptakan lebih banyak pasokan,” papar Bessent.
Laporan inflasi Januari sempat tertunda beberapa hari akibat penutupan sebagian pemerintahan.
Baca Juga
The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan, Sebut Ekonomi AS Solid
The Fed tidak menggunakan CPI sebagai ukuran utama inflasi. Sebaliknya, bank sentral lebih memantau indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) dari Departemen Perdagangan, yang data Desembernya akan dirilis pada 20 Februari.

