Ray Dalio Sebut Dunia Berada di Ambang ‘Perang Kapital’, Ini Alasannya
Poin Penting
|
DUBAI, investortrust.id - Investor legendaris Ray Dalio memperingatkan bahwa dunia berada “di ambang” perang modal, di tengah ketegangan geopolitik yang terus membara dan pasar modal yang bergejolak.
Baca Juga
Ray Dalio Sebut Kondisi Ekonomi Global Saat Ini Mirip 1970-an, Ini Sarannya buat Investor
Dikutip dari CNBC, Rabu (4/2/2026), Dalio mengatakan dunia hampir tergelincir ke wilayah perang modal. Uang dan modal dijadikan senjata melalui langkah-langkah seperti embargo perdagangan, pembatasan akses ke pasar modal, atau penggunaan kepemilikan utang sebagai alat tekanan.
“Kita berada di ambang. Itu berarti belum masuk, tetapi kita sudah sangat dekat [dengan perang modal], dan akan sangat mudah melampaui ambang tersebut menuju perang modal, karena ada ketakutan yang bersifat timbal balik,” kata Dalio dalam forum World Governments Summit di Dubai
Ia menunjuk pada meningkatnya ketegangan baru-baru ini terkait dorongan pemerintahan Trump untuk membawa Greenland — wilayah Denmark — ke bawah kendali Washington.
Dalio memperingatkan adanya “ketakutan” di kalangan pemegang aset berdenominasi dolar AS di Eropa bahwa mereka bisa dikenai sanksi. Pada saat yang sama, bisa muncul kekhawatiran timbal balik di pihak Amerika Serikat bahwa mereka tidak bisa mendapatkan modal, atau tidak mendapatkan pembelian [dari Eropa].
Investor Eropa menyumbang sekitar 80% dari pembelian surat utang pemerintah AS oleh asing antara April dan November, menurut riset Citi yang dikutip Reuters.
“Modal, uang, itu penting. Kita melihat kontrol modal terjadi di seluruh dunia saat ini, dan siapa yang akan mengalaminya masih menjadi tanda tanya. Jadi, kita berada di ambang — itu tidak berarti kita sudah berada di [perang modal], tetapi itu merupakan kekhawatiran yang logis,” kata Dalio.
Sejak kembali ke Gedung Putih tahun lalu, Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan — dan kemudian menarik kembali — sejumlah tarif hukuman terhadap mitra dagang dan lawan politik. Keputusan-keputusan tersebut memicu volatilitas di pasar keuangan.
Dalio menambahkan bahwa secara historis, perang modal melibatkan penerapan langkah-langkah seperti kontrol nilai tukar dan kontrol arus modal. Ia mengatakan lembaga seperti dana kekayaan negara dan bank sentral sudah membuat “persiapan” untuk menghadapi potensi kontrol tersebut.
Secara historis, menurut Dalio, perang modal berkembang di sekitar “konflik besar.” Menjelang masuknya AS ke Perang Dunia II, Amerika Serikat memberlakukan sanksi terhadap Jepang sebagai eskalasi dari hubungan kedua negara yang “penuh pertentangan.”
“Seseorang bisa membayangkan situasi analog saat ini, di dunia sekarang, antara China dan Amerika Serikat, atau bahkan — sebagaimana telah diperkirakan dan dibahas oleh para pemimpin di berbagai negara — mengenai ketergantungan antara AS dan Eropa. Karena kebalikan dari defisit perdagangan … adalah modal, bahwa ada ketidakseimbangan modal, dan modal dapat digunakan sebagai alat perang,” urainya.
Emas Lindung Nilai Utama
Di tengah ketegangan, menurut Dalio, emas tetap menjadi tempat terbaik untuk menyimpan uang, meskipun baru saja terjadi aksi jual historis yang menyeret harga logam mulia secara luas. Pada Selasa, emas dan perak mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan awal.
Baca Juga
Logam Mulia Terjun Bebas, Aksi Jual Emas dan Perak Terus Berlanjut
“Itu tidak berubah dari hari ke hari,” ujarnya ketika ditanya apakah pergerakan harga terbaru seharusnya menimbulkan keraguan terhadap emas sebagai tempat paling aman untuk menempatkan modal.
“Emas naik sekitar 65% dibandingkan setahun lalu, dan turun sekitar 16% dari puncaknya, dan saya pikir orang membuat kesalahan dengan berpikir, apakah harganya akan naik atau turun, dan apakah saya harus membelinya?” kata Dalio.
Menurut dia, semestinya investor tidak melihat pergerakan harga emas dalam jangka pendek. Tetapi, mempertimbangkan seberapa besar porsi emas yang dtempatkan dalam portofolio.
“Sebaliknya, mungkin bank sentral, pemerintah, atau dana kekayaan negara seharusnya bertanya, berapa persentase portofolio saya yang sebaiknya ditempatkan di emas, dan mempertahankan persentase tertentu, karena emas adalah diversifikator yang sangat efektif terhadap bagian portofolio lain yang berkinerja buruk.”
“Karena emas adalah diversifikator, ketika masa buruk datang, emas tampil sangat baik secara unik, dan ketika masa baik dan makmur, kinerjanya lebih rendah, [namun] tetap merupakan diversifikator yang efektif,” tambah Dalio. Hal terpenting, menurut Dalio, adalah memiliki portofolio yang terdiversifikasi dengan baik.

