Macron Tegaskan Eropa Harus Lindungi Perekonomiannya agar Keluar dari Stagnasi
Poin Penting
| ● | Eropa harus mengatasi stagnasi ekonomi melalui tiga pilar: perlindungan, penyederhanaan, dan investasi. |
| ● | Perlindungan ekonomi Uni Eropa bukan proteksionisme, melainkan upaya memulihkan kesetaraan persaingan global. |
| ● | Investasi dan inovasi menjadi kunci mengejar ketertinggalan daya saing Eropa dari Amerika Serikat dan China. |
DAVOS, Investortrust.id - Eropa harus segera menyelesaikan persoalan-persoalan utamanya berupa lemahnya pertumbuhan ekonomi dan stagnasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) per kapita. Dalam tatanan global yang semakin keras dan tidak seimbang, ketertinggalan daya saing Eropa dibandingkan Amerika Serikat tidak lagi dapat ditutup dengan sikap pasif atau sekadar pernyataan moral. Dibutuhkan tindakan strategis yang konkret dan terukur. Hal ini ditegaskan Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pidatonya pada World Economic Forum di Davos, Selasa (20/1/2026).
"Eropa harus menyelesaikan persoalan-persoalan utamanya: lemahnya pertumbuhan ekonomi dan stagnasi pertumbuhan PDB per kapita. Tiga pilar strategi kami untuk mencapai kedaulatan, efisiensi, dan pertumbuhan adalah perlindungan, penyederhanaan, dan investasi," kata Macron yang mengenakan kacamata hitam untuk menutupi cidera pada pembuluh darah di matanya, yang menyebabkan mata kanannya tampak memerah.
"Diagnosisnya jelas: daya saing Eropa masih tertinggal dibanding Amerika Serikat. Dalam tatanan global saat ini, khususnya menghadapi pendekatan China, kita harus bereaksi. Pertama, perlindungan. Perlindungan tidak sama dengan proteksionisme," imbuhnya.
Eropa lanjut Macron, tidak boleh mengabaikan persoalan internal yang menggerogoti fondasi ekonominya sendiri. Macron menegaskan bahwa perlindungan tidak sama dengan proteksionisme. Ia mengkritik sikap Eropa yang selama ini terlalu naif dengan membuka pasar tunggal secara luas tanpa memastikan kesetaraan persaingan global.
“Tidak ada pihak yang dapat mengakses pasar China sebagaimana mereka mengakses pasar Eropa,” katanya. Bahkan Amerika Serikat dan banyak negara lain secara nyata melindungi investasi dan perdagangan mereka, sementara Eropa justru sering kali membiarkan perusahaan dan industrinya tertekan oleh ketidakadilan aturan main global.
Dalam situasi tersebut, Eropa dituntut untuk lebih realistis demi melindungi sektor-sektor strategis seperti industri kimia, otomotif, dan sektor manufaktur lainnya. Uni Eropa, menurut Macron, sebenarnya telah memiliki instrumen yang kuat dan harus menggunakannya ketika aturan persaingan tidak dihormati. Salah satu instrumen kunci adalah mekanisme anti-pemaksaan, yang disebut Macron sebagai alat sangat kuat yang tidak boleh diragukan penggunaannya dalam lingkungan global yang semakin keras.
Selain itu, Macron mendorong penerapan prinsip preferensi Eropa. Ia mengakui bahwa hingga kini Eropa belum memiliki preferensi pasar yang sejati seperti yang dimiliki Amerika Utara. Meski demikian, prinsip tersebut mulai dibangun secara bertahap melalui berbagai dokumen dan keputusan terbaru, dengan koordinasi erat bersama Jerman. Macron berharap Komisi Eropa dapat menyampaikan proposal ambisius pada awal 2026 untuk menerapkan prinsip preferensi Eropa di berbagai sektor sebagai kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
Baca Juga
Macron di Davos: Eropa Tak Bisa Pasrah Hadapi Tekanan Dagang AS dan Banjir Industri China
Dalam konteks perdagangan global yang diliputi ketegangan dan kelebihan kapasitas produksi, terutama di Asia, Eropa juga perlu memperkuat instrumen pertahanan perdagangannya, termasuk langkah-langkah timbal balik untuk menegakkan standar regulasi. Peningkatan kualitas dan nilai tambah investasi asing langsung menjadi bagian penting dari strategi ini, dengan menargetkan proyek-proyek yang berpotensi mendorong ekspor dan alih teknologi.
Macron menekankan bahwa penyeimbangan kembali hubungan dengan China harus dilakukan secara tegas namun terbuka. China tetap disambut, tetapi Eropa membutuhkan lebih banyak investasi langsung China di sektor-sektor strategis, bukan sekadar arus ekspor produk yang sering kali disubsidi dan tidak memenuhi standar yang sama. Ia menegaskan kembali bahwa pendekatan ini bukan proteksionisme, melainkan upaya memulihkan kesetaraan persaingan dan melindungi industri Eropa.
Perlindungan ekonomi tersebut harus dibarengi dengan strategi ketahanan rantai pasok yang kuat, baik dari sisi impor maupun ekspor, khususnya untuk bahan baku kritis, tanah jarang, semikonduktor, dan chip, serta diversifikasi mitra dagang. Pilar kedua dari strategi Eropa adalah penyederhanaan regulasi. Macron mengakui langkah awal telah dilakukan melalui CSRD dan CSDDD, tetapi Eropa harus melangkah lebih jauh di sektor otomotif, kimia, digital, kecerdasan buatan, hingga perbankan.
Penyederhanaan ini, menurut Macron, sering kali menuntut penghapusan sebagian regulasi terbaru yang membuat Eropa bergerak tidak sinkron dengan kawasan lain. Pada saat yang sama, pendalaman pasar tunggal harus dipercepat agar pasar dengan 450 juta penduduk ini benar-benar berfungsi sebagai pasar domestik Uni Eropa. Netralitas teknologi dan prinsip non-diskriminasi menjadi fondasi penting dalam agenda ini, termasuk dalam kebijakan energi yang selama ini dinilai terlalu diskriminatif dan kontraproduktif.
Di sisi lain, diakui Macron Eropa juga menghadapi kekurangan investasi swasta, meski tingkat tabungan masyarakatnya tinggi. Macron menilai percepatan program sekuritisasi dan Uni Pasar Modal menjadi kunci agar tabungan Eropa dapat dimanfaatkan untuk investasi inovasi dan ekuitas di dalam kawasan sendiri. Kecepatan implementasi kebijakan menjadi kunci utama keberhasilan agenda ini.
Macron menegaskan komitmen penuh Prancis dalam mendorong agenda tersebut, baik di tingkat Eropa maupun nasional, dengan menjaga stabilitas makroekonomi dan daya tarik investasi. Ia menyoroti keunggulan Prancis sebagai tujuan investasi asing, didukung pasokan listrik rendah karbon berbasis nuklir, kapasitas riset kelas dunia, ekosistem inovasi yang dinamis, serta infrastruktur berkualitas tinggi. Menurutnya, supremasi hukum dan kepastian tetap menjadi keunggulan besar Eropa yang sering diremehkan pasar.
Menutup pidatonya, Macron menegaskan bahwa sepanjang 2026 Eropa akan mendorong agenda global untuk memperbaiki ketidakseimbangan dunia melalui kerja sama yang lebih erat, sambil membangun Eropa yang lebih kuat dan otonom. Dunia, katanya, membutuhkan lebih banyak pertumbuhan dan stabilitas, dengan penghormatan menggantikan intimidasi, ilmu pengetahuan menggantikan teori konspirasi, dan supremasi hukum menggantikan kekerasan. “Eropa terbuka bagi Anda, dan Anda lebih dari sekadar diterima di Prancis,” ujarnya.
Profil Emmanuel Macron
Emmanuel Jean-Michel Frédéric Macron, lahir di Amiens pada 21 Desember 1977, adalah politikus Prancis yang menjabat sebagai Presiden Prancis dan Co-Pangeran Andorra sejak 2017. Ia menempuh pendidikan filsafat di Universitas Paris Nanterre, meraih gelar magister urusan publik di Sciences Po, dan lulus dari École nationale d'administration pada 2004. Sebelum terjun penuh ke politik, Macron berkarier sebagai pejabat tinggi di Inspektorat Jenderal Keuangan dan bankir investasi di Rothschild & Co.
Karier politiknya dimulai sebagai penasihat senior Presiden François Hollande, sebelum diangkat menjadi Menteri Ekonomi dan Keuangan pada 2014. Pada 2016, Macron mengundurkan diri untuk mendirikan gerakan sentris pro-Eropa En Marche! dan mencalonkan diri sebagai presiden. Ia memenangkan Pilpres 2017 dengan mengalahkan Marine Le Pen, sekaligus menjadi presiden termuda dalam sejarah Prancis pada usia 39 tahun.
Macron terpilih kembali pada 2022, namun menghadapi tantangan politik besar karena parlemen yang terfragmentasi dan gelombang protes atas reformasi, terutama kenaikan usia pensiun. Di bidang kebijakan luar negeri, ia aktif mendorong reformasi Uni Eropa, memperkuat peran Prancis di panggung global, serta mengambil sikap tegas dalam berbagai isu internasional, termasuk perang Ukraina dan kerja sama keamanan serta perdagangan global.

