WEF Davos Dibuka Tanpa Pendirinya Klaus Schwab, Dunia Hadapi Geopolitik Baru
Poin Penting
|
DAVOS, Investortrust.id – Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) membuka pertemuan tahunannya di Davos, Swiss, pada Selasa (20/1/2025), untuk pertama kalinya tanpa kehadiran sang pendiri, Klaus Schwab, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan percepatan perubahan teknologi yang kian signifikan bagi ekonomi dunia.
Sekitar 3.000 pemimpin politik dan bisnis global berkumpul di kota resor pegunungan Alpen tersebut untuk membahas arah ekonomi, stabilitas geopolitik, dan dampak transformasi teknologi. Penyelenggaraan tahun ini dinilai penting karena berlangsung pada periode ketidakpastian pasar, meningkatnya risiko fragmentasi perdagangan, serta perdebatan global mengenai kecerdasan buatan.
Dilansir AP, World Economic Forum yang berbasis di Jenewa menjelaskan bahwa pertemuan tahun ini menandai perubahan besar dalam tradisi organisasi. Klaus Schwab mengundurkan diri pada 2025 setelah muncul penyelidikan yang dipicu laporan Wall Street Journal, mengutip surat dari pelapor berisi tuduhan pelanggaran keuangan dan etika terhadap Schwab dan istrinya, Hilde. Schwab menyatakan pensiun “dengan segera”, sementara dewan WEF menyatakan mendukung penyelidikan independen.
Baca Juga
Prabowo Akan Sampaikan Pidato Kunci di WEF Davos 2026 pada 22 Januari 2026
Kepemimpinan sementara WEF kini dijalankan oleh Ketua dan CEO BlackRock Larry Fink bersama Wakil Ketua Roche Holding Andre Hoffmann. Keduanya ditunjuk sebagai ketua bersama untuk memastikan kesinambungan forum di tengah masa transisi kepemimpinan.
Didirikan pada 1971 sebagai platform untuk meningkatkan praktik manajemen di Eropa, lembaga pemikir ini berkembang menjadi salah satu forum paling berpengaruh di dunia. WEF secara rutin mempertemukan pemimpin dunia dari sektor bisnis, pemerintahan, akademisi, dan masyarakat sipil. Pertemuan tahun ini berlangsung hingga Jumat (24/1/2025) di Davos, kota dengan populasi sekitar 10.000 jiwa di wilayah timur Pegunungan Alpen Swiss.
Penyelenggara menyebutkan tingkat partisipasi tahun ini mencetak rekor. Hampir 400 pemimpin politik senior hadir, termasuk lebih 60 kepala negara dan pemerintahan, bersama sekitar 850 kepala eksekutif dan ketua dewan dari perusahaan global berskala besar.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan berpidato pada Rabu (21/1/2025) dalam kunjungan ketiganya ke Davos sebagai presiden. Kehadirannya berlangsung di tengah kekhawatiran sejumlah sekutu atas retorika kebijakan luar negeri dan sikap perdagangan Amerika Serikat yang semakin agresif, termasuk ancaman tarif serta ketegangan yang melibatkan Greenland, Venezuela, dan Iran. Sejumlah pejabat senior Amerika Serikat juga hadir, di antaranya Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, dan utusan khusus Steve Witkoff.
Forum ini turut dihadiri sejumlah tokoh global lainnya, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau North Atlantic Treaty Organization (NATO) Mark Rutte, termasuk Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, puluhan menteri yang membidangi keuangan, luar negeri, perdagangan, dan ekonomi turut ambil bagian, bersama 11 gubernur bank sentral.
Dari sektor teknologi, sejumlah pemimpin perusahaan besar menonjol dalam agenda tahun ini. Eksekutif yang dijadwalkan berpartisipasi, antara lain CEO Nvidia Jensen Huang, CEO Microsoft Satya Nadella, Kepala Google DeepMind Demis Hassabis, serta CEO Mistral AI Arthur Mensch. Kehadiran mereka mencerminkan meningkatnya perhatian dunia terhadap peran strategis teknologi dan kecerdasan buatan dalam perekonomian global.
Isu geopolitik dan kecerdasan buatan menjadi tema dominan diskusi. Pergeseran kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta risiko kembalinya perselisihan perdagangan menambah ketidakpastian bagi pasar global. Pada saat yang sama, kemajuan pesat kecerdasan buatan memicu perdebatan mengenai potensi peningkatan produktivitas, risiko gangguan terhadap pasar tenaga kerja, serta kebutuhan akan kerangka regulasi yang memadai.
Baca Juga
Denmark Absen pada WEF Davos di Tengah Perselisihan Greenland dengan AS
Tema resmi forum tahun ini adalah “Semangat Dialog”. Tema tersebut dibangun di atas lima pilar utama, yakni kerja sama, pertumbuhan, investasi pada sumber daya manusia, inovasi, dan kemakmuran bersama. Penyelenggara merencanakan lebih dari 200 sesi diskusi selama pertemuan berlangsung.
Meski demikian, kritik terhadap Davos kembali mengemuka. Sejumlah pengamat menilai forum ini lebih banyak menghasilkan wacana dibandingkan aksi nyata, terutama dalam isu kesenjangan ekonomi dan perubahan iklim. Kritik tersebut telah lama melekat pada pertemuan tahunan ini, seiring kesenjangan global yang dinilai terus melebar meski diskusi lintas sektor terus digelar.

