Trump Bidik Greenland Pasca-Venezuela, Pertimbangkan Opsi Kekuatan Militer AS
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Keberhasilan Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam operasi militer kilat di Caracas seakan menjadi awal dari fase baru kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump yang keras. Hanya berselang beberapa hari setelah operasi tersebut, Gedung Putih secara terbuka menyatakan bahwa opsi penggunaan kekuatan militer untuk mengakuisisi Greenland tengah dipertimbangkan serius.
Baca Juga
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa Trump dan timnya tengah mengkaji “berbagai opsi” untuk menjadikan Greenland bagian dari Amerika Serikat, termasuk pengerahan militer. Alasan yang dikedepankan konsisten: kepentingan keamanan nasional dan kebutuhan membendung pengaruh Rusia serta China di kawasan Arktik.
“Presiden Donald Trump dan timnya tengah mempertimbangkan “berbagai opsi” untuk memperoleh Greenland, termasuk “menggunakan militer Amerika Serikat,” kata Leavitt kepada CNBC, Selasa (6/1/2026).
Langkah Trump ini menandai eskalasi signifikan. Jika penangkapan Maduro menunjukkan kesediaan Washington menggunakan kekuatan keras terhadap negara non-sekutu, maka wacana Greenland membuka kemungkinan konflik langsung dengan sesama anggota NATO. Greenland adalah wilayah semi-otonom Denmark, dan secara hukum berada dalam payung aliansi pertahanan Atlantik Utara.
Baca Juga
Reaksi Eropa pun keras dan nyaris serempak. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memperingatkan bahwa pencaplokan Greenland oleh AS akan berarti “akhir dari NATO” yang dikenal selama ini.
“Serangan militer terhadap satu anggota NATO oleh anggota lainnya akan menghancurkan fondasi keamanan kolektif yang dibangun sejak akhir Perang Dunia II,” ujarnya, seperti dikutip kantor berita AP. Perdana Menteri Greenland Jens Frederik Nielsen juga menyuarakan penolakan tegas, didukung oleh sejumlah pemimpin utama Eropa.
Di luar Eropa, Rusia dan China mencermati perkembangan ini dengan seksama. Moskow menilai wacana tersebut sebagai bukti semakin agresifnya ekspansi strategis AS, sementara Beijing melihat Arktik sebagai kawasan ekonomi dan logistik masa depan yang kini terancam menjadi arena konfrontasi militer terbuka. Kedua negara diperkirakan akan meningkatkan kehadiran diplomatik dan militernya di kawasan kutub utara sebagai respons jangka menengah.
Dampaknya mulai terasa di pasar global. Saham-saham pertahanan melonjak di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat, mencerminkan ekspektasi meningkatnya belanja militer. Sebaliknya, volatilitas mulai merayap ke pasar energi, logistik, dan pelayaran, seiring kekhawatiran jalur perdagangan Arktik akan terpolarisasi secara geopolitik. Investor global dihadapkan pada realitas baru: risiko geopolitik kini bukan lagi sekadar retorika, melainkan kebijakan yang dijalankan secara nyata.
Bagi Trump, Venezuela dan Greenland tampaknya berada dalam satu garis besar strategi: menunjukkan bahwa Amerika Serikat siap menggunakan kekuatan keras untuk mengamankan kepentingan strategisnya, bahkan dengan risiko mengguncang tatanan global yang sudah mapan. Bagi dunia, ini menjadi ujian besar terhadap stabilitas geopolitik, soliditas NATO, dan masa depan ekonomi global yang semakin sarat ketidakpastian.

