Kompetitor Elon Musk Siapkan Mobil Swakemudi yang Lebih Canggih dari Tesla
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, Investortrust.id - Produsen kendaraan listrik yang menjadi kompetitor utama Tesla di Amerika Serikat, Rivian, disbuet-sebut tengah kucurkan dana besar untuk pengembangan hardware dan compute infrastructure, membangun sistem AI end-to-end untuk kendaraan swakemudi, serta memanfaatkan “shared data foundation” yang diyakini akan mentransformasi pengalaman kepemilikan kendaraan bagi pelanggan.
Disampaikan CEO Rivian RJ Scaringe dalam ajang Autonomy & AI Day yang digelar pada Kamis (11/12/2025) pekan lalu menyampaikan investasi ini dilakukan agar seluruh armada Rivian dapat terus belajar dan berkembang melalui data yang dibagikan secara terintegrasi.
Dalam acara tersebut, Rivian memperkenalkan Gen 3 Autonomy Computer, platform komputasi generasi ketiga yang diklaim memiliki kombinasi sensor kendaraan dan kemampuan inferensi terbaik di Amerika Utara. Sistem ini mampu memproses hingga 5 miliar piksel per detik, berkat Rivian Autonomy Processor, chip silikon buatan sendiri yang disebut sebagai salah satu multi-chip module pertama untuk aplikasi komputasi tinggi di industri otomotif.
Rivian juga mengumumkan integrasi teknologi LiDAR ke dalam armadanya, dimulai dari model R2 di masa depan. Langkah ini menjadi pembeda utama dibandingkan Tesla, yang selama ini menilai LiDAR sebagai teknologi mahal dan tidak diperlukan. Rivian justru melihat LiDAR sebagai lapisan keselamatan tambahan karena mampu menyediakan data spasial tiga dimensi yang lebih presisi dan redundan melalui pemanfaatan sinar laser untuk mengukur jarak dan memetakan lingkungan sekitar kendaraan.
Dengan kombinasi teknologi tersebut, Rivian menargetkan mulai 2026 kendaraan produksinya mampu melakukan navigasi point-to-point secara hands-free. Bahkan Scaringe mengatakan bahwa pengemudi nantinya tidak lagi harus terlibat aktif dalam pengoperasian kendaraan. “Anda bisa menggunakan ponsel atau membaca buku, tanpa perlu lagi terlibat langsung dalam mengemudi,” ujarnya seperti dikutip Wall Street Journal, Senin (15/12/2025).
Fitur hands-free ini akan mulai dikenakan biaya pada Maret mendatang, dengan opsi berlangganan sebesar US$ 50 dolar per bulan atau pembayaran satu kali sebesar US$ 2.500.
Baca Juga
Elon Musk Makin Tajir, Paket Gaji US$ 1 Triliun Disetujui Pemegang Saham Tesla
Di tengah ambisi teknologi tersebut, kinerja keuangan Rivian menunjukkan penguatan. Pada kuartal III-2025, pendapatan perusahaan melonjak 78% secara tahunan menjadi US$ 1,56 miliar, melampaui estimasi analis sebesar US$ 1,5 miliar. Rivian juga membukukan laba US$ 24 juta, berbalik dari kerugian pada periode yang sama tahun lalu dan jauh membaik dibandingkan rugi US$ 1,1 miliar pada kuartal sebelumnya.
Meski demikian, Rivian tetap mempertahankan proyeksi rugi EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran US$ 2 miliar - US$ 2,25 miliar, serta belanja modal hingga US$ 1,9 miliar.
Scaringe menyebut bahwa pada kuartal ketiga perusahaan terus mencatat kemajuan penting, terutama terkait proyek R2 dan peta jalan teknologi jangka panjang.
“Dalam jangka panjang, kami percaya industri otomotif akan sepenuhnya beralih ke listrik, otonom, dan berbasis perangkat lunak,” kata Scaringe. Ia menegaskan bahwa teknologi terintegrasi secara vertikal dan model penjualan langsung ke konsumen menjadi fondasi Rivian untuk membangun merek otomotif yang kuat di Amerika Serikat dan Eropa.
Untuk tahun ini, Rivian memperkirakan pengiriman kendaraan berada di kisaran 41.500 hingga 43.500 unit, mempersempit acuan sebelumnya yang berada di rentang 40.000 hingga 46.000 unit. Namun tekanan permintaan pasca berakhirnya insentif pajak kendaraan listrik sebesar US$ 7.500 memaksa perusahaan mengambil langkah efisiensi.
Rivian mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 600 karyawan, atau sekitar 4% dari total tenaga kerja yang berjumlah sekitar 15.000 orang pada akhir tahun lalu. Langkah ini menjadi gelombang kedua pemangkasan karyawan dalam dua bulan terakhir, setelah sebelumnya memangkas 1,5% tenaga kerja pada September. Perusahaan menyatakan keputusan tersebut diambil untuk menekan biaya operasional menjelang peluncuran SUV R2 yang lebih terjangkau pada 2026.

