Gara-gara Hal Ini, Elon Musk Minta Tesla Pindahkan Simpanan Bitcoinnya Senilai Rp 11,59 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - Tesla (TSLA) yang dikendalikan Elon Musk memicu perhatian belum lama ini dengan memindahkan simpanan Bitcoinnya sebesar US$ 750 juta atau setara Rp 11,59 triliun ke dompet baru setelah hampir dua tahun simpanan tersebut tak tersentuh.
Melansir Coindesk, Senin (21/10/2024), langkah tersebut memicu perdebatan seputar niat Tesla ataupun Musk, serta kekhawatiran akan tekanan jual secara lebih lanjut.
Data BitcoinTreasuries menunjukkan, sebelum memindahkan simpanan Bitcoinnya ke dompet baru, produsen mobil listrik ini merupakan pemegang Bitcoin korporat terbesar keempat dengan memiliki 10.000 token. Tesla mengakumulasikan kepemilikan di 2021 dan menjual sebagian besarnya di tengah pasar yang lesu pada 2022.
Sementara menurut data Arkham Intelligence mengenai pergerakan pada hari Rabu (17/10/2024), menunjukkan bahwa Bitcoin milik Tesla hanya dipindahkan ke dompet baru, dan bukan ke bursa manapun. Alhasil meredakan kekhawatiran awal akan penjualan besar-besaran.
Baca Juga
Bos JPMorgan Chase Dukung Rencana Efisiensi Pemerintahan Elon Musk, Apa Kaitannya dengan Kripto?
Tesla maupun Musk belum memberikan komentar kepada publik mengenai pergerakan tersebut, meskipun rincian lebih lanjut mungkin akan muncul di awal minggu ini ketika perusahaan melaporkan hasil pendapatan di kuartal ketiga.
Analis komunitas CryptoQuant Maartunn mengungkapkan, alasan untuk saat ini masih terbatas pada spekulasi dan seputar pengelolaan dompet hingga restrukturisasi.
“Pertama, kepatuhan atau audit internal. Tesla dapat mentransfer Bitcoin untuk memenuhi kewajiban akuntansi atau hukum yang terkait dengan pelaporan atau audit internal,” ujarnya.
Baca Juga
Live! Elon Musk Wawancarai Trump, Kripto Rebound dan Bitcoin Kembali ke Level US$ 60.000
Selanjutnya, manajemen dompet. Tesla kemungkinan menggunakan beberapa dompet untuk keperluan operasional. Hal ini tampaknya tidak mungkin karena alamat yang baru dibuat menggunakan alamat Pay-to-PubKey-Hash (P2PKH) yang serupa.
“Terakhir, restrukturisasi dana. Ini bisa menjadi bagian dari strategi untuk menata ulang kepemilikan Bitcoin sebagai antisipasi penjualan atau pinjaman di masa mendatang, mirip dengan pergerakan yang terjadi pada Mt. Gox,” kata Maartunn.
Namun menurutnya, spekulasi terakhir harus dihindari hingga ada bukti penjualan, seperti transfer ke Coinbase. Dan untuk saat ini hal tersebut tidak terjadi.
Alasan lain yang mungkin menjadi bahan pembicaraan di media sosial adalah konsolidasi unspent transaction outputs (UTXO), yaitu proses menggabungkan beberapa UTXO menjadi satu atau lebih. UTXO dapat dianggap sebagai sejumlah token yang belum terpakai yang menunggu untuk digunakan dalam transaksi mendatang.
Setiap UTXO yang digunakan dalam transaksi akan meningkatkan ukuran transaksi, yang dapat menyebabkan biaya yang lebih tinggi karena penambang mengenakan biaya berdasarkan ukuran data transaksi.
Konsolidasi menghasilkan lebih sedikit input untuk transaksi di masa mendatang, yang berpotensi mengurangi biaya dan meningkatkan kecepatan transaksi yang lebih besar di masa mendatang.

