Jokowi Yakin Bakal Ada Revolusi Besar di Bidang Robot Humanoid dan AI
SINGAPURA, investortrust.id - Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) meyakini dalam 5 hingga 15 tahun mendatang bakal terjadi revolusi besar di bidang robot humanoid dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Keyakinan itu disampaikan Jokowi dalam pidatonya di acara Bloomberg New Economy Forum 2025 di Singapura, Jumat (21/11/2025).
"Saya juga percaya dalam 5 hingga 15 tahun berikutnya, akan ada revolusi robotik humanoid besar dan akan ada revolusi AI besar," kata Jokowi dikutip dari Youtube Bloomberg New Economy, Sabtu (22/11/2025).
Dewan Penasihat Bloomberg New Economy itu meminta semua pihak untuk waspada dan bersiap menghadapi era baru yang disebutnya sebagai intelligence economy atau ekonomi kecerdasan.
"Jadi waspadalah dengan hal ini," katanya.
Baca Juga
Jokowi Bertemu Mantan PM Singapura Lee Hsien Loong, Ini yang Dibahas
Jokowi juga meyakini, negara, perusahaan, dan masyarakat dapat berkembang lebih baik dan lebih cepat jika dapat menggabungkan AI ke sistem pemerintahan, industri, dan sistem sosial.
"Saya percaya bahwa dalam ekonomi baru ini, ekonomi kecerdasan, negara, perusahaan, dan masyarakat yang dapat menggabungkan kecerdasan ke pemerintahan, industri, dan sistem sosial akan berkembang lebih baik dan lebih cepat," katanya.
Di awal pidatonya, Jokowi membeberkan upaya yang dilakukan 10 tahun pemerintahannya agar Indonesia siap menghadapi ekonomi kecerdasan. Indonesia, katanya, telah membangun infrastruktur dasar seperti jalan, pelabuhan, dan bandara.
Selain itu, Indonesia juga telah membangun infrastruktur digital, seperti membangun pusat data, meluncurkan satelit baru, mengembangkan jaringan digital, dan meningkatkan konektivitas di seluruh daerah. Indonesia juga telah menerbitkan berbagai regulasi agar startup lokal dapat berkembang. Jokowi menekankan pentingnya infrastruktur dan regulasi agar Indonesia dapat menuju ekonomi kecerdasan.
"Pertama, karena infrastruktur adalah tulang punggung ekonomi kecerdasan karena mendukung konektivitas, aliran data, dan integrasi teknologi. Kedua, dengan regulasi yang tepat ekosistem ini bisa berkembang lebih kuat dan lebih cepat memungkinkan inovasi, teknologi, dan kewirausahaan untuk berkembang," katanya.
"Begitulah bagaimana peluang baru dilahirkan. Startup Indonesia seperti Go-Jek, Tokopedia, Hello Doc, Traveloka, berkembang karena ekosistem mendukung mereka untuk berkembang," kata Jokowi menambahkan.
Jokowi juga menyinggung penggunaan Qris yang membuat pembayaran digital lebih mudah dan universal. Dengan Qris, para pelaku usaha kecil hingga besar di seluruh Indonesia menggunakan sistem pembayaran yang sama.
"Saat ini, pedagang kaki lima di desa terpencil menggunakan sistem pembayaran yang sama dengan perusahaan besar di Jakarta," ungkapnya.
Tak hanya itu, Jokowi mengatakan, Indonesia saat ini sedang belajar memanfaatkan data, teknologi, dan sumber daya melalui hilirisasi dan industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Berbagai upaya dan inisiatif itu dilakukan sebagai langkah menuju kecerdasan ekonomi.
"Satu hal lagi, Indonesia merupakan bagian dari mata rantai global untuk baterai EV," katanya.
Tak hanya infrastruktur dan regulasi, Jokowi mengatakan, Indonesia akan memastikan generasi muda dilatih mengenai data dan digital untuk dapat terus berkembang. Dikatakan, membangun sumber daya manusia yang siap menghadapi ekonomi kecerdasan bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga membangun fondasi yang kuat bagi masa depan.
"Saat pemerintah membangun fondasi yang benar, inovasi akan mengikuti. Dengan semua usaha ini, mereka membangun ekosistem dan fondasi ekonomi baru Indonesia. Dengan fondasi kuat ini, kami siap untuk mencapai tahap berikutnya, ekonomi kecerdasan," paparnya.
Jokowi menyatakan, intelligence economy tergantung pada pemanfaatan data dan informasi. Dikatakan, data dan informasi bukan hanya kekuatan, tetapi juga modal yang kuat yang menentukan daya saing dan kekuatan nasional.
"Kami tahu bahwa ini adalah proses untuk menganalisa dan menguasai data dan informasi untuk membuat keputusan terbaik dan juga untuk membuat kebijakan yang baik. Bagi generasi muda, ini tanggung jawab kami untuk memastikan mereka memahami AI. Mereka mempelajari AI karena masa depan ada di sana," paparnya.
Jokowi menyatakan tidak sepakat dengan pendapat yang menyebut era ekonomi digital akan menghilangkan peluang pekerjaan. Sebaliknya, Jokowi meyakini akan ada banyak kesempatan kerja dan peluang di era ekonomi kecerdasan jika sumber daya manusia telah dipersiapkan dengan baik.
"Kemudian, pertanyaan yang lain mungkin muncul di pikiran kita. Apakah peluang pekerjaan akan hilang dalam era ekonomi kecerdasan? Jawabannya adalah tidak," katanya.
Yang terpenting, katanya, negara harus memastikan generasi muda tahu dan belajar tentang AI, coding, algoritma, dan juga mesin pembelajaran. Menurutnya, AI, coding, algoritma, dan mesin pembelajaran merupakan sesuatu yang fundamental di era ekonomi digital.
"Kita harus memperkenalkan, mempersiapkan, dan melatih mereka untuk mendapatkan literasi dan kemampuan digital yang baik," katanya.
Tidak hanya hanya bagi Indonesia, Jokowi mengatakan, hal ini juga berlaku bagi negara-negara Asia Tenggara. Terdapat jutaan anak muda ASEAN yang saat ini sedang merintis startup atau bisnis kecil di ranah dunia maya.
"Unicorn baru sedang muncul. Asia Tenggara tidak lagi hanya sebuah pasar. Ia akan menjadi sebuah kekuatan global. Unicorn berikutnya mungkin tidak datang dari Silicon Valley atau Shenzhen, tetapi mungkin datang dari Jakarta, Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, Manila, atau Hanoi," katanya.
Baca Juga
Untuk menghadapi era ekonomi kecerdasan ini, Jokowi mengatakan, seluruh pihak perlu menyesuaikan sistem, proses, dan strategi agar mendapat manfaat berupa pertumbuhan ekonomi dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat. Perubahan juga berlaku bagi institusi internasional, seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO yang harus menyesuaikan instrumen keuangan, infrastruktur digital, sistem perdagangan, dan sistem tarif.
"Menurut saya, kita akan menyesuaikan hampir semua sektor. Namun, ini bisa berasal dari pendidikan, dan kemudian dari kepemimpinan. Kita harus menyesuaikan proses, sistem, dan strategi agar kita bisa berkembang lebih baik dan lebih cepat," katanya.
Mantan Gubernur Jakarta itu mengatakan, tranformasi yang dilakukan Indonesia memerlukan keberanian, kegigihan, dan keyakinan. Namun, upaya itu belum selesai.
Indonesia saat ini terus membangun dengan fondasi yang kuat, inovasi, dan kolaborasi global. Indonesia dan Asia Tenggara akan terus berkembang dalam era baru ini. Kerja sama dan kolaborasi menjadi kunci dalam menghadapi era ekonomi kecerdasan.

